PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
8. Fakta


__ADS_3

"Aaaahhhhh.."


Seketika mereka menjerit, kaget dengan sosok babi hutan yang berlari menjauh keluar dari semak-semak di depan mereka.


"Anjixxx, dasar babi sialan."


Arie mengumpat meluapkan rasa kesalnya, namun mereka juga sebenarnya merasa lega karena sesuatu yang mereka takutkan tak terjadi, setelah kejadian itu mereka buru-buru pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan, ditempat seperti ini bukan tak mungkin saat ini ada yang sedang mengawasi mereka dibalik kegelapan, semua takkan terduga hingga hanya penyesalan yang terasa ketika mereka terlambat menyadarinya.


Hari sudah semakin terik, namun di tempat itu masih saja diselimuti kegelapan, barisan pohon besar dan tinggi dengan dedaunan lebat dan beberapa lebar menghalangi sinar mentari yang akan menghangatkan mereka. Gak ingin membuang waktu dan tenaga serta kesempatan hidup mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah yang terlihat lebih terang menurut apa yang mereka lihat, walaupun tempat yang mereka tuju melalui jalan yang terus menerus menanjak dan semakin terjal.


"Ben, loe yakin kita gak bakal nyasar ke puncak?"


Arie bertanya dengan keraguannya yang memang beralasan dan berkaca pada kejadian sebelumnya yang malah membawa mereka ke tepi jurang.


"Gua gak yakin Rie, tapi gak ada jalan lain, di sini gelap, terlalu bahaya buat kita, bisa-bisa makhluk sialan itu bisa cepet mangsa kita."


Apa yang dikatakan Beni memang benar dan sesuai dengan apa yang mereka khawatirkan. Tempat gelap seperti tadi memang sangat menguntungkan para pemangsa untuk bersembunyi dan menunggu kesempatan untuk menerkam.


"Ben, kita bisa istirahat dulu gak? gua capek."


Pinta Anita pada kekasihnya itu. Sejak kemarin malam perut mereka belum terisi sesuatu yang bisa mengganti tenaga mereka yang terkuras habis, ditambah lagi setelah kematian Randy, mereka belum memejamkan mata sama sekali. Rasa lelah yang mereka rasakan saat ini hanya bisa termotovasi oleh keinginan untuk hidup dan melewati semuanya dengan selamat.


"Ya udah, tapi kita cari tempat istirahat yang bagus, mungkin disebelah sana."


Beni menunjuk ke tempat yang sedikit lebih terbuka demi menghindarkan mereka dari bahaya yang bisa setiap saat membunuh mereka semua, dan mereka pun menurut saja karena di tempat itu sepertinya memang pas untuk mereka beristirahat.

__ADS_1


Bruk...


Arie menjatuhkan keril yang dia bawa, kemudian merebahkan dirinya di atas rumput yang sedikit basah dengan nafas terengah-engah. Kantung matanya membesar setelah tak tidur semalaman, kematian Randy membuatnya trauma apalagi Randy mati tepat dihadapannya.


"Ini makanan terakhir kita, semoga setelah ini kita bisa nemuin jalan pulang."


Beni membagikan makanan yang dibawanya yang masih tersisa, itupun sebenarnya sudah kurang layak untuk dikonsumsi tapi tak ada pilihan lain daripada mereka harus mati kelaparan, makanan mereka yang lain tak mereka bawa karena telah rusak ketika mereka kehujanan.


"Ta, gua bisa minta tolong gak? Gua kebelet pipis."


Aini meringis meminta tolong. Sebenarnya dia sudah sejak tadi merasakan ingin buang air kecil namun dia menahannya sampai pada saat ini rasa ingin buang air kecilnya sudah semakin menjadi hingga tak tertahankan lagi.


"Ya udah, gua anter tapi jangan jauh-jauh Ni, gua takut."


Mereka beranjak untuk mencari tempat yang tertutup dan tak terlihat oleh Arie dan Beni namun yang tak begitu jauh dari tempat Beni dan Arie merebahkan diri.


Arie menahan Anita yang sudah akan berangkat dan menggantikannya untuk menemani Aini. Beruntung Aini tak menolaknya, mungkin Aini merasa kasihan pada Anita, mereka sama-sama perempuan dan saat ini sedang kelelahan.


Aini pun pergi dengan ditemani Arie, mereka meninggalkan Beni dan Anita yang duduk dibawah pohon untuk memulihkan tenaga.


Hampir Satu jam berlalu, namun mereka berdua tak juga kembali, Beni dan Anita sudah sangat khawatir, satu jam bukanlah waktu yang normal untuk sekedar seseorang buang air kecil saja.


"Ben...ko mereka lama sih?"


Anita mulai gusar Aini dan Arie tak juga kembali, namun mereka berdua tak melakukan apapun, mereka hanya bisa menunggu seraya berharap tak terjadi sesuatu yang buruk menimpa mereka berdua.

__ADS_1


"Gak tau Ta."


Beni hanya menjawab pertanyaan Anita dengan datar, dia sendiri pun sebenarnya khawatir dengan keadaan mereka, namun dia lebih memilih diam agar tak membuat Anita semakin gusar.


Namun setelah menunggu lebih dari satu jam akhirnya Beni dan Anita memutuskan untuk mencari mereka. Perlahan mereka menelusuri arah dimana sebelumnya Arie dan Aini pergi, mungkin saja disana tertinggal jejak keberadaan mereka.


Crasssss...


Suara golok diayunkan ke arah Beni, dan tepat mengenai semak-semak di sampingnya, beruntung Beni menyadari kedatangannya dan kemudian dengan refleks cepat menghindar sambil mendorong Anita yang membuatnya harus terjatuh tersungkur.


"Anjixx, siapa loe?"


Beni mendengus kesal dan marah pada orang yang tiba-tiba saja menyerangnya dari belakang itu, namun sayang bukan jawaban yang Beni dapatkan namun justru orang bertopeng tersebut kembali menyabetkan goloknya lagi hingga akhirnya terjadilah pertarungan sengit dengan orang misterius tersebut. Beni yang hanya menggunakan sebuah kayu harus kewalahan menghadapi serangannya yang membabi buta, Anita yang menyaksikan Beni di serang seperti itu hanya bisa berteriak histeris karena khawatir Beni terluka, hingga akhirnya...


Bugh...


Sabetan kayu Beni mengenai tangan lawannya yang memegang golok yang membuat tangan lawannya terluka dan mengeluarkan darah. Perlahan pria bertopeng itu mundur kemudian kabur seraya memegangi tangannya yang terluka, Beni tak mengejarnya dia lebih khawatir dengan Anita dan ke dua temannya yang kini hilang.


"Ben, loe gak apa-apa?"


Anita menghampiri lalu memeluk Beni setelah dia yakin bahwa Beni sama sekali tak terluka pada pertarungan tadi.


"Gua gak apa-apa Ta."


Setelah kejadian itu mereka bergegas pergi dari tempat itu karena khawatir orang bertopeng tersebut akan kembali menyerang mereka.

__ADS_1


"Aneh kenapa di tempat seperti ini ada orang, dan tiba-tiba menyerangnya?" Gumam Beni dalam hati.


__ADS_2