PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
19. Mencari


__ADS_3

Melihat Beni yang hanya terdiam mematung karena terkejut melihat kejadian di depannya, Anita berlari menghampiri Beni kemudian memeluknya, membenamkan wajahnya di dada yang sedikit bidang itu, dan menumpahkan semua ketakutan lewat air mata yang kini jatuh membasahi pakaian kekasihnya.


"Kenapa ini Ki?"


Ki Idir yang sedang terkejut oleh kejadian yang tak bisa di perkirakannya itu hanya menjawab pertanyaan Beni dengan gelengan kepala saja, dia tak menyangka akan terjadi jatuhnya korban begitu cepat, bahkan sebelum perang melawan iblis itu di mulai, dan semua itu benar-benar di luar perkiraannya.


"Iblis itu memang penuh tipu daya, melawannya harus dengan cara yang tepat."


Sejenak Ki Idir terdiam untuk menghirup nafas panjang yang kemudian di hembuskannya secara perlahan untuk membuatnya lebih tenang dan juga menutupi rasa sedih serta bersalah atas kejadian itu, bagaimanapun juga dialah yang telah membawa mereka masuk dalam masalah yang rumit.


Ki Idir masih tersiam sejenak untuk memikirkan cara tercepat dan terbaik untuk melawan mereka, karena kalau tidak, dia khawatir masalah yang dihadapinya akan menimbulkan korban jiwa lagi.


"Kita harus bicara!"


Ki idir mengajak Anita dan Beni ke ruangan di mana tempat Arie masih terbaring, namun sebelum itu Ki Idir memerintahkan murid-muridnya yang lain untuk mengurus terlebih dahulu jenazah salah satu muridnya yang tewas itu. Arie masih terbaring, dan luka di kaki serta tangannya sedikit mengeluarkan darah segar karena setelah sebelumnya mencoba memaksakan tubuhnya untuk berdiri namun masih tak sanggup karena luka di tangan serta kaki kirinya cukup parah, luka yang di dapatnya dari pertarungannya dengan Danu serta Beni, karena sebelumnya Arie pernah bertarung dengan mereka berdua dalam posisi yang berbeda, sebagai musuh dan sebagai teman.


Arie menatap Ki Idir, yang masuk dengan penuh rasa cemas dan shok atas kejadian tadi.

__ADS_1


"Rie, lebih baik loe ceritain tentang mereka sama Ki Idir, biar dia dan murid-muridnya tau apa yang harus di lakukan selanjutnya, biar gak ada korban lagi."


Arie menatap satu persatu dari mereka, mencoba membulatkan kepercayaannya pada orang yang baru di kenalnya itu, sadar akan keraguan Arie, Ki Idir tersenyum lalu mengangguk untuk meyakinkan Arie.


"Sebelum gua cerita, gua pengen gau keadaan Aini?"


Mendengar pertanyaan dari Arie, Anita dan Beni saling bertatapan, lalu Beni menggeleng.


"Kayanya apa yang loe bilang tadi udah kejadian Rie, kemunginan pelaku pembunuhan tadi itu emang Aini yang udah mereka kuasai, sama persis kaya yang loe bilang."


Mendengar ucapan itu Ki Idir sedikit memahami kondisi perkembangan masalah mereka saat ini dari kesimpulan atau asumsi yang dia fikirkan, namun Anita yang belum mengetahui cerita dari Arie semakin kebingungan dan takut akan terjadi sesuatu yang lebih buruk menimpa sahabatnya, Aini.


Pada akhirnya Arie menceritakan semua yang ia tau tentang Danu dan juru kunci yang menjebak mereka di gunung itu dengan sangat detail, sehingga Ki Idir pun dapat menyimpulkan tentang mereka dan akan menyusun kembali rencana mereka malam ini untuk menyelesaikan semuanya agar tak terjadi lagi sesuatu yang tak diinginkan.


"Sekarang kalian istirahat saja, saya akan menyuruh murid saya membawakan makanan untuk kalian, agar kalian bisa lebih cepat pulih."


Setelah itu Ki Idir keluar untuk melakukan proses pemakaman muridnya yang telah tewas, ada rasa sedih terlihat pada raut wajah renta itu, tapi ia selalu berusaha tenang menghadapi semuanya, karena bagaimanapun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengeluh, apalagi menyerah. Perjuangannya saat ini sudah mwnemui titik terang yang akan membawanya pada keberhasilan.

__ADS_1


"Sebenernya apa yang terjadi sama Aini Ben?"


Anita mencoba mencari tau penjelasan tentang semua yang ia dengar dari cerita Arie, tergambar jelas kekhawatiran di wajahnya mengingat semuanya belumlah berakhir dan masih tak baik-baik saja.


"Aini masih dalam pengaruh mereka."


Beni hanya menjelaskan secara singkat saja tentang apa yang terjadi pada Aini saat ini, namun Anita sepertinya sudah mampu menebak apa arti dari ucapan kekasihnya itu, karena dia tak kembali bertanya lebih lanjut mengenai Aini.


Semua terdiam, tak ada obrolan dari mereka, dan sepertinya tak ada satu pun dari ke tiga sahabat itu yang ingin memulai pembicaraan.


"Rie, sebenernya apa yang mereka mau lakuin sama Aini? Apa yang di korbanin?"


Arie tak langsung menjawab pertnyaan Beni, bukan karena tak tau, tapi berat baginya untuk mengatakannya, tanpa semua orang ketahui Arie telah lama memendam apa yang di rasakannya selama ini, dan itu pula lah yang menjadi alasan kuat Arie kembali pada sahabatnya hingga rela berkorban nyawa menyelamatkan mereka semua.


"Darah perawan."


Arie bergetar ketika harus menjawab pertanyaan Beni, di benaknya kini tergambar seseorang yang berarti baginya harus berakhir dengan tragis, oleh makhluk terkutuk, sementara Beni hanya terdiam, dia sudah tak aneh dengan kengerian yang akan mereka alami selanjutnya, karena berkaca pada kejadian sebelumnya yang terjadi dengan mereka, sementara Anita kini telah kembali berurai air mata membayangkan sahabatnya itu akan berakhir dengan cara yang tak bisa diterima oleh perasaannya.

__ADS_1


Mereka memang saling menyayangi satu sama lain, namun salah satu dari mereka jauh lebih menyayanginya hingga tak segan berkorban segalanya, termasuk satu satunya nyawa yang dia punya.


__ADS_2