
Langit di luar masih tetap seperti biasa, tak begitu cerah seolah menggambarkan keadaan mereka saat ini yang masih penuh dengan misteri. Cahaya mentari yang berusaha menembus lebatnya dedaunan selalu kandas tak sempat menyentuh bumi, begitu juga di tempat mereka berada kini.
Perlahan Beni membuka mata yang entah sejak kapan dia pejamkan, karena mungkin telah lupa dengan rasa nyenyak yang dulu selalu di rasakan nya di atas kasur empuk yang sejak kecil selalu menemani. Beni berada pada sebuah ruangan yang hanya beralaskan tikar rajut dan dinding yang terbuat dari anyaman bambu.
"Di mana ini?"
Gumam Beni lirih, kepalanya yang masih terasa pusing dan berat mulai berkeliling mengamati dan mencari keberadaan yang lainya, namun yang dilihat olehnya hanya Arie yang sedang tak sadarkan diri terbaring di sampingnya dengan begitu banyak luka yang telah di balut oleh kain seadanya, Beni menatapnya dengan rasa iba, namun perlahan Beni pun memperhatikan kondisinya sendiri yang tak begitu jauh berbeda dengan Arie, cukup banyak kain yang membalut lukanya yang sepertinya mulai mengering. Rasa sakit yang dirasakannya masih sedikit terasa, tubuh lemahnya mulai kembali bertenaga. Rangkaian kejadian berusaha dikumpulkan oleh memori otaknya secara berurutan hingga pada kejadian terakhir ketika dia dikelilingi oleh orang-orang berwajah tanpa ekspresi yang setelah kejadian itu tak ada lagi ingatan yang tersisa hingga ia membuka mata.
"Lo udah sadar Ben?"
Anita baru saja masuk dan berdiri di balik pintu menatap kekasihnya dengan tatapan pilu, karena semua yang terjadi begitu membuatnya tertekan, namun di sana dia tak sendiri karena tak berapa lama masuk lah seorang kakek tua dengan pakaian serba putih senada dengan janggut dan kumis yang tumbuh tak begitu banyak menghiasi wajahnya, tak lupa memasang senyum berkharismanya yang membuatnya begitu tenang saat di pandang. Untuk sesaat Beni memandangnya, memastikan rasa percaya yang kali ini harus dia berikan agar tak menjadi sebuah penyesalan seperti sebelumnya.
"Siapa kakek ini?"
Beni bertanya dengan sedikit tak percaya, karena menurutnya sangat wajar Beni seperti itu, mengingat sebelumnya kakek pemuja iblis itu telah membohongi Beni dan yang lainnya, dengan berpura-pura baik pada mereka semua.
"Kakek ini yang udah nolong kita Ben."
Ucap Anita dengan tersenyum meyakinkan Beni, yang di ikuti oleh anggukan pelan kakek itu, yang pada akhirnya membuat Beni percaya sepenuhnya.
"Jangan takut, saya tak berniat jahat, justru saya ingin membantu kalian."
__ADS_1
Ucapan kakek itu seolah menjawab kebingungan Beni tentang pertanyaan di benaknya mengenai semua yang terjadi.
"Nama saya Khaidir, kalian bisa memanggil saya Ki Idir, saya bukan penduduk asli di sini, saya hanya sedikit ada keperluan di sini bersama murid-murid saya." Jelasnya lagi.
"Keperluan apa ki?"
Tanya Beni heran mendengarkan penjelasan Ki Idir barusan. Dalam pandangan Beni, wajah Ki Idir seperti tak begitu asingĀ dia seperti pernah bertemu atau melihatnya, hanya saja dia tak menemukan ingatan tentang kapan atau di mana dia pernah melihatnya.
"Menyelesaikan urusan yang kalian alami saat ini."
Setelahnya, Ki Idir menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi di sini dan yang terjadi pada mereka semua, dan setelah itu barulah Beni mengerti dan benar-benar mempercayai dengan semua yang dikatakan oleh Ki Idir.
Beni berusaha untuk bangun dan menahan semua rasa sakit di tubuhnya, dia berniat membantu dan menyelesaikan semua masalah yang terjadi pada mereka agar bisa secepatnya kembali pada kehidupan mereka masing-masing.
"Lebih baik kalian menunggu di sini, akan ada yang merawat kalian hingga kalian pulih dan bisa segera pulang."
Kakek tersebut memberi nasehat dan berharap mereka tak perlu terlibat lebih jauh lagi dengan peristiwa ini, cukuplah dia dan para muridnya yang akan menyelesaikan semuanya.
"Kalian cukup menjadi saksi saja pada pihak berwajib, mengenai mereka biar saya dan murid saya yang akan menyelesaikannya."
Tutur kakek itu dengan lembut, Beni berusaha menyerahkan sepenuhnya urusan itu pada Ki Idir, tapi di dalam hatinya dia juga ingin membalas dendam dengan semua yang telah terjadi pada mereka, terutama membalas semua perlakuan Danu.
__ADS_1
Setelah itu Ki Idir keluar meninggalkan mereka di dalam kamar yang hanya berdindingkan anyaman bambu, dan beralaskan tikar, pada ruangan kecil yang berukuran sekitar 3x4 meter.
"Ta, Aini mana?"
Tanya Beni yang sejak tadi tak melihat Aini di sekitarnya.
"Dia lagi di obatin, ternyata selama ini Danu memang mengincar Aini, dia yang udah ngerencanain semuanya."
Ucap Anita sambil menatap menerawang jauh mengingat cerita sebenarnya yang di ceritakan oleh Ki Idir sebelumnya.
"Maksud lo?"
Beni belum mengerti apa yang Anita maksud.
"Semua yang di ceritain sama juru kunci sesat itu semuanya bohong, dia dan Danu lah pemimpin aliran sesat di gunung ini, dan Aini adalah gadis yang mereka pilih karena Aini memiliki tanda lahir khusus yang memenuhi persyaratan persembahan terakhir mereka."
Penjelasan Anita sedikit bisa Beni mengerti, karena Anita menjelaskannya secara detail seperti apa yang di jelaskan oleh Ki Idir.
"Jadi? Apa mungkin Danu udah ngerencanain semuanya dari dulu?"
Anita mengangguk pelan. Beni mengingat-ingat apa saja yang pernah terjadi pada mereka, terutama yang berhubungan dengan Danu, mencoba menganalisa dari setiap kejadian yang pernah mereka alami sebelumnya
__ADS_1