
"Kyai, apa nanti saya bisa seperti Kyai?"
Seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun dengan sangat polosnya bertanya pada salah satu pemimpin tertinggi sebuah pondok pesantren yang kebetulan usai berdakwah di daerahnya.
"Tentu saja, selama kamu mau untuk belajar pada ajaran yang benar, kamu akan menjadi orang yang benar."
Sang Kyai menjelaskan pada tamu kecilnya tentang apa yang harus dilakukan kalau ingin menjadi apa yang anak kecil tanyakan. Anak itu terdiam mematung mendengarkan jawaban dari orang yang dilihatnya begitu berwibawa, menenangkan serta berkharisma, entah apa dia mengerti atau tidak dengan semua yang di ucapkan Kyai tersebut atau tidak, namun yang jelas dalam hatinya mulai tumbuh sebuah cita-cita sederhana namun sarat akan makna bagi masa depannya.
"Siapa namamu nak?"
Kyai tersebut menundukkan kepalanya pada bocah itu, agar dia tak salah mendengarkan apa yang di ucapkan bocah tersebut.
"Nama saya Khaidir Kyai."
Dengan tersenyum, Khaidir menyebutkan namanya, dia senang walaupun Kyai itu hanya menanyakan sebuah nama saja padanya, namun sesuatu hal terjadi selanjutnya membuatnya kembali terdiam.
"Ini, untukmu."
Kyai itu memberikan sorban putih yang ia kenakan pada acara dakwah tadi di daerah khaidir, Kyai itu tak tega melihat Khaidir yang datang menemuinya hanya dengan mengenakan celana kusam saja yang menurutnya mungkin sudah kurang layak untuk dipakai, Kyai itu mennyelimutkan sorban pada tubuh kecil yang pada malam itu kedinginan tersapu angin malam. Senyum yang tadi sempat hilang di wajah Khaidir, kini telah kembali dan memperlihatkan bagian gigi yang tak sempurnanya, belum sempat dia mengucapkan terimakasih, kini dia harus menerima sesuatu lagi dari sang Kyai, namun kali ini dia harus menjaga apa yang Kyai itu berikan.
"Ini, jaga ini baik-baik!" ujar kyai tersebut seraya mengalungkan sebuah tasbih yang selalu di bawanya kemanapun ia pergi, yang selalu menemaninya dalam syi'ar dakwah dan juga dalam beribadah.
__ADS_1
"Ya Kyai, saya akan menjaganya supaya tidak rusak."
Sang Kyai tersenyum mendengar jawaban polos Khaidir, namun membantah apa yang di ucapkan anak itu.
"Bukan seperti itu menjaganya, tapi dari sini."
Kyai itu memegang dada Khaidir, membuat bocah itu kebingungan dengan apa yang di maksud sang Kyai, sadar akan ketidak fahaman Khaidir, Kyai kembali menjelaskan maksud ucapannya tadi.
"Kamu harus teguh pada keimananmu, amalkan apa yang menjadi kewajiban dari agamamu, jangan pernah ragu untuk meminta pada Dzat yang maha tau ketika kamu dalam kondisi kesulitan, jangan pernah meninggalkan saudaramu ketika mereka tersesat dan bersihkan hatimu dari fikiran keraguan tentang penciptaMu."
Nasehat Kyai itu selalu terngiang di benak Khaidir hingga menjadi sebuah keyakinan untuknya menuntut ilmu demi masa depan yang lebih baik.
"Dari mana saja kamu?"
Suara seseorang di dekat pintu rumah mengagetkannya, Khaidir beringsut, tapi bukan karena dia takut dengan suara tanpa wujud di balik kegelapan itu, tapi ia sudah sangat hafal dengan suara itu, dia hanya khawatir orang itu memarahinya karena dia pergi sendirian tanpa pamit pada orang di rumah.
"Tadi habis dari pengajian kang."
Khaidir memberi alasan agar orang itu tak memarahinya, namun Khaidir salah mengira, karena alasannya barusan justru membuatnya begitu sangat marah mengetahui alasan Khaidir pergi malam-malam sendirian meninggalkan rumah tanpa pamit padanya.
"Kamu ini, jangan pergi ke tempat sepertiitu lagi, tak ada gunanya, lebih baik kamu bantu kakang nyari makan buat kita."
__ADS_1
Tak terbendung emosi yang di lampiaskan kakak Khaidir, karena menurutnya agama tak akan menolongnya lepas dari kesulitan hidup yang mereka jalani berdua.
Khaidir dan Usman kakaknya memang hanya hidup berdua tanpa orang tua, setelah dua tahun lalu ibu mereka meninggal dikarenakan sakit, dan tak ada biaya untuk mengobatinya, jangankan untuk berobat atau sekedar memberikan obat, bahkan untuk sekedar makan pun pada waktu itu mereka sangat kesulitan, hingga akhirnya ibu mereka harus pergi terlebih dahulu menghadap yang maha kuasa, kakak Khaidir lima tahun lebih tua darinya, untuk itulah dia yang bertanggung jawab pada kehidupan khaidir setelahnya, adik satu-satunya yang dia sayangi.
Namun takdir berkata lain, kehidupan membawa mereka pada keyakinan masing-masing, Khaidir selalu mempercayai apa yang diyakininya, nasehat dari Kyai yang ia temui tak pernah sekalipun ia lupakan bahkan hingga Khaidir menuntut ilmu pada sebuah pondok pesantren, hingga pada akhirnya membuat mereka menjalani hidup masing-masing.
Setelah begitu lama, satu kalimat dari nasehat sang Kyai selalu mengganggu fikirannya.
"Jangan pernah meninggalkan saudaramu."
Khaidir sadar, ia telah terpisah dari saudaranya sendiri yang saat ini tak mengetahui kondisi serta keberadaannya, untuk itu ia memutuskan untuk mencari keberadaan saudaranya, berharap menemukannya dalam keadaan baik-baik saja atau kalaupun tidak, mungkin saja bisa membawanya kembali pulang.
Khaidir ditemani oleh beberapa orang muridnya harus mencari dalam waktu yang sangat lama, dimana kemudian mereka harus singgah pada sebuah daerah yang terdengar kabar dari daerah tersebut bahwa disana terdapat sekelompok orang yang menganut aliran sesat, hatinya tergerak untuk menolong dengan mengesampingkan tujuan untuk mencari saudaranya, namun yang ia dapatkan justru sesuatu yang tak diharapkan. Setelah menyelidiki kejadian-kejadian yang ada di tempat itu, Khaidir mendapati informasi bahwa pemimpin kelompok aliran tersebut adalah Usman, saudara kandungnya sendiri, orang yang selama bertahun-tahun ia cari.
Getir dirasakan oleh Khaidir, tak menyangka bahwa semuanya menjadi rumit, dan sepertinya membawa pulang saudaranya takkan semudah apa yang dibayangkan.
Khaidir dan beberapa orang muridnya menetap pada daerah kaki gunung untuk mengawasi pergerakan dari kelompok sesat itu, seraya menyiarkan ajaran agama secara tertutup, mengingat daerah yang ia tinggali begitu tertinggal dan berada di tengah hutan belantara, namun tempat itu menguntungkannya, karena mereka tak menyadari keberadaan Khaidir dan murid-muridnya yang telah mengawasi mereka selama ini.
Setelah cukup lama mengawasi, tak ada aktifitas berarti dari kelompok sesat itu selain hanya pertemuan-pertemuan biasa yang rutin dilakukan, tapi setelah cukup lama akhirnya mereka mulai bergerak, salah satu murid Khaidir yang menyamar untuk mengawasi, melihat telah terjadi pertemuan beberapa anak muda yang akan pergi mendaki dengan kakaknya itu, dan sepertinya sekarang adalah waktu bagi mereka untuk bergerak.
"Akhirnya telah tiba waktu untuk menyelesaikan semuanya dan membawamu pulang."
__ADS_1