PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
20. Cinta Pertama


__ADS_3

Seorang gadis berseragam putih abu sedang duduk sendiri di bawah pohon sejuk di area belakang sekolah, tempat dimana biasanya para siswa-siswi yang lebih suka menyendiri di sana, namun kali ini tujuannya berada di sana bukanlah untuk hal itu. Sambil di temani sebuah buku novel horor terkenal ia menyandarkan punggung pada pohon di belakangnya, buaian lembut angin menerpa menyejukkan siapapun yang berada di sana membuatnya betah untuk berlama-lama. Memang sedikit aneh ketika seorang perempuan menyukai novel sejenis horor ataupun misteri, tapi mungkin karena pada novel tersebut ada bagian dari kisah romantis antara sepasang kekasih berkemampuan misterius sehingga dia menyukainya.


Gadis itu sedang menunggu seseorang yang entah itu siapa, karena pada sebuah kertas berisi pesan yang di temukan di laci mejanya hanya menuliskan bahwa dia harus menunggu pengirim pesan tersebut  sendirian di bawah pohon belakang sekolah tempat dimana ia bersanar saat ini, karena ada yang ingin di sampaikan oleh pengirim pesan tersebut, tanpa ragu dan curiga dia mengikuti apa yang di minta oleh pengirim pesan itu, gadis tersebut tak menyadari sepasang mata mentapnya dari balik dinding kusam gudang sekolah, dengan jantung yang berdebar cukup cepat dia memperhatikannya sejak dari beberapa saat yang lalu, cukup lama hingga dia memberanikan diri untuk keluar dan menemui gadis itu.


"Hei."


Si gadis yang mendengar sapaan itu menoleh lalu tersenyum dan sedikit mengernyitkan dahinya, namun dia belum menyadari kalau orang yang mengiriminya pesan adalah laki-laki yang baru saja menyapanya.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya gadis itu dengan tersenyum ramah serta heran dengan keberadaan orang yang cukup ia kenal yang saat ini berdiri dihadapannya, karena memang di area belakang sekolah ini jarang sekali ada siswa-siswi yang suka tempat seperti ini, dan dia bukanlah tipe orang yang menyukai tempat seperti ini.


"Mmmhhhh....aku...."


Keberanian dan tekad yang tadi telah terkumpul sebelumnya dengan susah payah seketika hilang begitu saja ketika berhadapan dengan orang yang disukainya, semua itu harus sirna seketika oleh tatapan dan senyum yang kini tepat tersaji di hadapannya, keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahi serta punggungnya, sejuknya semilir angin yang membelai mereka siang ini nyatanya tak mampu memberikan kesejukan pada moment indah yang dia rencanakan.

__ADS_1


"Aku apa?"


Gadis itu semakin heran dengan apa yang akan di ucapkan oleh temannya itu, namun sayang dia masih belum mengerti kalau yang memintanya datang ke tempat ini adalah sosok laki-laki yang kini sedang berada di hadapnnya.


"Aku sayang kamu."


Kata itu terlontar begitu saja, namun bukan karena keberanian, melainkan karena sebuah kenekadan, tak ada jalan kembali dan ini adalah kesempatan terbaik untuk mengungkapkan semuanya.


Gadis itu terkejut mendengar pengakuan temannya itu, seraya menunjukan sebuah kertas berisi pesan yang tadi pagi dia temukan di laci mejanya, yang membuat senyumnya kini hilang, dan akhirnya gadis itu pun mengerti kenapa temannya itu tiba-tiba saja ada di sini bersamanya.


Setelah itu, mereka berdua hanya terdiam dengan fikiran masing-masing tak tau apa lagi yang harus mereka bicarakan, cukup lama menunggu jawaban sang gadis pujaannya, namun akhirnya kesabaran berbuah jawaban walau tak seindah yang dibayangkan, tapi inilah kenyataan yang terkadang tak sesuai dengan harapan.


"Rie, aku juga sayang kamu..."

__ADS_1


Sejenak jawaban itu melambungkan Arie setinggi langit bahkan mungkin hingga membayangkan surga, hingga tanpa sadar sedikit senyum merekah tersembunyi di balik wajahnya yang tertunduk bahagia.


"Tapi, sayang ku cuma sebagai seorang teman...maaf."


Kalimat tambahan itu menghempaskan harapan Arie yang terlanjur melambung tinggi, senyumnya yang tadi telah merekah kini telah kembali layu, namun dia hanya bisa terdiam dan tak tau apa yang harus dilakukan, tak berani berkata apa-apa, apa lagi untuk mentap orang yang telah menghancurkan harapannya.


Seketika Arie berdiri kemudian beranjak pergi meninggalkan Aini tanpa berkata apapun sebagai ucapan perpisahan, dia tak sanggup menahan rasa kecewanya, sedangkan Aini harus merasa bersalah pada Arie, yang memang dia tak bisa memberikan rasa sayangnya yang lebih dari seorang teman.


Dengan gontai Arie berjalan menelusuri lorong di depan kelas hingga dia kembali masuk ke dalam kelasnya sendiri, Danu yang melihat Arie yang murung merasa heran, walaupun Arie memang selalu terlihat murung, tapi kali ini ia melihat Arie seperti sedang menghadapi masalah yang berat.


Aini berdiri di depan pintu kelas Arie, menatap Arie yang duduk dengan menundukan kepalanya di atas meja, ingin sekali dia menghapus kesedihan temannya itu, namun dia sadar kalau dirinyalah yang membuatnya sedih.


Namun, Danu yang duduk tepat di samping Arie justru tersenyum menyeringai, melihat orang yang selama ini dia cari akhirnya justru menampakkan dirinya sendiri, sepertinya rencananya selama ini selalu dimudahkan oleh takdir, dengan begini Danu tak perlu repot mencari keberadaan orang pilihan tersebut, dan selanjutnya dia hanya perlu mendekatinya dan memastikan agar semua berjalan sesuai dengan apa yang ia rencanakan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2