
"Lebih baik kalian semua keluar."
Suara itu menggema ke seluruh kegelapan hutan dan didengar oleh semua makhluk tersembunyi di sana, juga oleh Ki Idir serta semua murid-muridnya.
Ki Idir tersentak mendengar suara itu, tak menyangka tujuannya membereskan masalah ini secara sembunyi-sembunyi harus gagal, namun ia pun tersenyum tak terlalu heran dengan lawan yang akan dihadapinya, dan itu artinya semua rencana yang sudah tersusun dengan rapih menjadi berantakan.
Perlahan Ki Idir serta para murid-muridnya keluar dari balik semak belukar di dekat gubug yang menjadi tempat pemujaan iblis tersbut, gubug itu hanyalah sebuah kedok karena di dalamnya terdapat ruangan bawah tanah yang luas yang menjadi pusat dan markas persembunyian para pemuja iblis tersebut.
"Lama tak bertemu."
Ki Idir menyapa orang tua yang memanggilnya keluar itu, yang tak lain adalah Mbah Kuncen, yang menjadi cikal bakal aliran sesat tersebut, namun berbeda dengan Ki Idir, Mbah Kuncen muncul dengan raut wajah tak sukanya terhadap siapa yang kini tengah datang ke hadapannya.
Tanpa mereka sadari, dari jauh di dalam kegelapan terdapat sepasang mata yang mengawasi mereka berdua, dan mendengar semua pembicaraan mereka.
"Sial, apa-apaan mereka? kenapa mereka bisa saling kenal?"
Beni merasa kesal karena sepertinya dia telah tertipu lagi oleh orang yang menyelamatkan mereka bertiga.
Karena merasa Beni membahayakan mereka bertiga, Anita membekap mulut Beni dengan tangan, seraya berharap suaranya tadi tak terdengar oleh mereka.
"Tenang dulu, kita harus pastiin hubungan mereka apa."
Suara Arie yang begitu pelan tak terlalu jelas di telinga Beni, tapi walaupun begitu, Beni dan Anita mengerti apa yang harus mereka lakukan, dan untuk saat ini yang harus mereka lakukan hanya diam.
__ADS_1
"Apa kabar?"
Ki Idir berusaha membuka pembicaraan antara sesama orang tua tersebut, yang sepertinya sudah lama tak bertemu.
"Tak perlu basa-basi, aku peringatkan, jangan campuri urusanku dan para pengikutku!"
Dengan tegas sapaan Ki Idir sama sekali tak di anggap oleh Mbah Kuncen, dan Ki Idir justru malah langsung mendapatkan peringatan keras darinya.
"Yang jadi urusanmu, akan menjadi urusanku juga, artinya aku akan selalu ikut campur dengan semua yang kau lakukan."
Dengan tenang, Ki Idir berusaha berbicara baik-baik dengan Mbah Kuncen, agar semua masalah bisa di selesaikan dengan baik-baik sehingga takkan ada lagi korban selanjutnya, namun sepertinya tak akan mudah, bahkan hampir mustahil, tapi Ki Idir akan tetap berusaha semampu yang dia bisa, bahkan jika harus mematahkan tangan dan kakinya, maka dia akan tetap melakukannya demi bisa membawanya kembali.
"Kalau begitu aku harus menyingkirkanmu!"
Mata hati itu benar-benar telah tertutup oleh iblis, hingga tak peduli dengan siapapun yang menghalangi jalannya, bahkan mungkin jika itu keluarga atau saudaranya sendiri.
Tanpa sepengetahuan Ki Idir dan para muridnya, tiba-tiba saja seseorang menyerang Ki Idir dengan sebilah golok yang tepat mengenai leher, namun beruntung serangan itu tak menimbulkan luka fatal, hanya sebuah goresan kecil saja hingga tak menjadi luka yang berarti bagi Ki Idir, seandainya ia tak refleks sedikit menghindar mungkin nyawanya kini telah melayang, namun Ki Idir tak langsung membalas orang yang tiba-tiba menyerangnya tersebut, begitu juga dengan para muridnya, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh gurunya, mereka dilarang untuk bertindak gegabah.
Danu tersenyum menyeringai menatap Ki Idir dan para muridnya dengan tatapan mengerikan, seolah tak seperti manusia, atau mungkin ia memang telah menjadi iblis berwujud manusia.
Ke tiga pasang mata yang masih bersmbunyi di semak-semak itu terperangah melihat Danu dengan ekspresi semengerikan itu, sepertinya sudah tak ada lagi sisi manusia dalam dirinya.
"Rupanya di sini kita masih kedatangan tamu."
__ADS_1
Mbah Kuncen itu tersenyum dengan meremehkan ke tiga orang yang sejak tadi mengawasinya dari balik semak-semak, Ki Idir yang tak tau ada orang lain di sekitar mereka heran dengan apa yang dikatakan oleh lawan di hadapannya, sedangkan Danu sudah bisa menebak bahwa mereka akan kembali untuk menyelamatkan Aini, ke tiga orang itu perlahan bangkit menampakan dari persembunyian lalu menampakkan dirinya, karena mereka rasa percuma untuk tetap bersembunyi, perlahan menghampiri Ki Idir dan para muridnya.
"Kenapa kalian ke sini?"
Ki Idir tak habis fikir kenapa mereka begitu nekat membahayakan nyawa mereka sendiri, tapi di satu sisi dia pun salut dengan pengorbanan yang mereka lakukan demi menolong salah satu sahabatnya yang kini masih terancam.
"Maaf Ki, kami gak bisa ninggalin sahabat kami, dia harus pulang bersama kami."
Kata-kata itu muncul dengan penuh keyakinan yang diucapkan oleh Beni, membuat Ki Idir tersenyum, dia mengerti denga apa yang mereka rasakan saat ini, karena saat ini diapun enggan untuk meninggalkan orang yang begitu berharga baginya, walaupun orang itu sudah terlalu jauh melangkah dalam kesesatan, tapi dia masih meyakini akan bisa membawanya kembali pada jalan yang benar.
Tanpa mereka sadari Danu telah bersiap kembali menyerang dan membunuh mereka semua, tapi sepertinya Danu mengincar Arie terlebih dulu dikarenakan melihat kondisi Arie yang lemah dan ia pun memiliki dendam pribadi padanya.
"Lebih baik kau pergi saja, tak ada gunanya kau di sini, aku takkan pernah kembali, karena ini adalah duniaku."
Mbah Kuncen memperingatkan Ki Idir untuk terakhir kalinya agar mereka tak harus berhadapan, namun tekad Ki Idir sudah bulat untuk bisa membawa saudaranya pulang.
Mbah Kuncen berhadapan dengan Ki Idir yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri.
KI Idir tersenyum, karena baginya mbah kuncen tetap keluarganya, dan itu berarti dia takkan kembali tanpa saudaranya itu.
"Aku akan pergi, setelah kau menghentikan semuanya, sudah cukup, ambisimu terlalu tinggi, lebih baik kita pulang dan melupakan semuanya."
Ki Idir berharap ada sedikit hati nurani saudaranya itu yang masih tersisa hingga dia akan kembali tanpa perlu melakukan tindakan kekerasan yang pada akhirnya bisa kembali menimbulkan jatuhnya korban.
__ADS_1
"Hahahhaahhahahahah, tak ada jalan kembali, semua sudah terlambat, dan kalaupun masih ada jalan, sudah tak ada yang tersisa lagi di sana."
Mendengar itu, Ki Idir tertunduk, sekilas bayangan masa lalu ketika mereka masih bersama dalam menuntut ilmu pun terlintas begitu saja, hingga pada akhirnya sesuatu telah memisahkan mereka berdua, yang membuat mereka akhirnya menempuh jalan hidup yang berbeda.