PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
15. Harapan Hidup


__ADS_3

Beni, Arie, Aini dan Anita berjalan menelusuri aliran sungai yang diketahui Arie sebagai salah satu jalan keluar yang aman dari hutan ini, setelah sebelumnya mereka berhasil melumpuhkan Danu melalui pertarungan antara dua melawan satu orang yang tak seimbang, karena walaupun Danu harus melawan Beni dan Arie tapi yang dia lawan semuanya dalam keadaan lemah yang tentu saja sedikit banyak akan lebih menguntungkannya, tapi kepercayaan dirinya yang terlalu tinggi justru menjadi bumerang yang menghancurkan dirinya sendiri.


Sungai kecil yang tak terlalu deras membelah sebagian kecil hutan yang menyelimutinya, perlahan membawa mereka menuju ke kaki gunung yang mungkin saja cukup dekat dengan pemukiman penduduk. Pada sisi kanan dan kiri sungai tak terlalu banyak ditumbuhi semak rerumputan liar yang terlalu tinggi, namun keadaan seperti itu justru cukup untuk menyembunyikan keberadaan mereka dari kejaran para pengikut aliran sesat itu, daerah yang mereka lalui begitu gelap hingga mereka harus berhati-hati menapakkan kaki, tanah serta batu berlumut kian mempersulit pijakan mereka dan sudah pasti memperlambat pergerakan mereka untuk segera keluar dari hutan itu.


Setelah dirasa cukup jauh mereka berjalan, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di pinggir sungai yang tertutup semak belukar, mereka duduk menutupi diri dengan semak belukar yang mereka punggungi. Arie dan Benie terasa semakin lemah setelah tenaga mereka sebelumnya terkuras ketika harus menghadapi Danu, kalau saja suasana saat itu terang, pastilah terlihat kalau kondisi mereka berdua sudah bisa disebut buruk. Tak ada obrolan di antara mereka karena khawatir suara mereka akan terdengar oleh para pemuja iblis tersebut, bahkan ketika bernafas pun mereka berusaha memelankannya seperti orang yang khawatir akan kehabisan oksigen ketika bernafas terlalu cepat.


"Apa kita masih jauh Rie?" Tanya Beni dengan suara yang sangat pelan.


"Lumayan, sekitar tiga jam perjalanan, itu pun kalau dalam keadaan biasa, terus tanpa istirahat."


Penjelasan Arie membuat semuanya terdiam, karena betapa tidak, tiga jam artinya perjalanan mereka masih panjang dan masih butuh tenaga lebih untuk bisa sampai di sana, di tambah lagi belum tentu ketika mereka sampai di sana akan segera mendapatkan bantuan, kemudian perjalanan itu hanya bisa ditempuh dalam kondisi tak seperti mereka saat ini, mereka harus bisa mengatur tenaga kalau masih ingin selamat sampai di sana.


"Apa gak ada jalan lain?"


Aini mencoba bertanya jalan keluar yang mungkin bisa di tempuh dalam waktu singkat dan menjadi alternatif terbaik untuk saat ini.


"Ada..."

__ADS_1


Jawaban Arie membuat wajah mereka sedikit berbinar, mengharapkan sebuah jalan yang mudah agar segera lepas dari bencana. Raut optimis mulai terlihat andai cahaya mampu menerangi wajah mereka saat ini.


"Ke arah sana, sekitar enam jam perjalanan, dan itu pun ketika dilakukan dalam keadaan normal."


Jawaban Arie cepat dan tepat, dan berhasil membuyarkan harapan mereka yang tadinya sudah mulai kembali tumbuh.


"Lebih baik kita jalan lagi."


Ucapan Beni langsung di ikuti oleh semuanya, terlalu lama mereka di sana bisa sangat berbahaya, bisa saja ada salah satu dari para pemuja iblis itu sudah ada di sekitar mereka. Dengan perlahan mereka kembali menelusuri sungai kecil itu yang masih dengan tenaga yang tersisa.


Air sungai yang dingin dan segar tak mampu mengembalikan rasa lelah mereka, namun setidaknya sedikit memberi tambahan tenaga untuk beberapa menit ke depan.


Setelah tak terasa sudah hampir lima jam mereka berjalan menelusuri aliran sungai kecil yang membelah hutan pegunungan tersebut, dari kejauhan tampak bintik-bintik cahaya kuning dari berbagai tempat yang cukup luas, mereka melihat dari kejauhan beberapa rumah penduduk yang memang berada di pinggiran hutan. Sayup terdengar dari kejauhan suara nyanyian ayam yang menandakan hari telah menjelang pagi, mereka berusaha secepatnya agar sampai ke tempat tersebut dengan mengerahkan semua tenaga yang tersisa, seolah ada tenaga tambahan yang menambah kekuatan mereka untuk setengah berlari menghampiri perkampungan tersebut.


"Tolooonnnngggg..."


Secara refleks Beni berteriak, berharap penduduk di di perkampungan tersebut ada yang mendengarkan terikan mereka yang begitu lemah dan tak termasuk dalam kriteria teriakan, namun sayangnya tak ada satu warga pun yang keluar menolong mereka, jangankan untuk menolong, sepertinya mendengar teriakan mereka pun tidak.

__ADS_1


"Tolooooonnnggggg...."


Lagi teriakan itu disuarakan dengan lantang menurut mereka, namun kali ini tak hanya Beni, Anita dan Aini pun ikut membantunya, berharap ketika mereka melakukannya bersama dapat membuahkan hasil, dan ternyata memang benar, salah satu dari jendela rumah yang paling dekat di pinggir hutan yang berarti paling dekat dengan mereka itu perlahan membukakan jendelanya, dan tampaklah seorang di dalamnya celingukan seperti mencari asal sumber suara.


"Tolooonnnnnggggg pak."


Teriak Beni ketika menyadari keberadaan orang tersebut, berharap orang tersebut mendengarnya dan memberikan bantuan, dan ya, usaha Beni berhasil, orang tersebut melihat mereka namun belum bereaksi apa-apa atau mungkin memastikan lebih dulu kebenaran tentang apa yang dilihatnya. Beni senang usahanya berhasil tapi itu hanya sementara, karena orang tersebut justru kembali menutup jendela dengan sangat ketakutan, yang juga menutup harapan mereka untuk mendapatkan pertolongan.


Beni tak percaya dengan apa yang di alaminya saat ini.


"Kenapa mereka...?"


Beni tak sanggup menyelesaikan kalimat pertanyaannya, dan sepertinya yang lain pun memikirkan apa yang Benie pikirkan saat ini.


Mereka terduduk di pinggiran hutan, menunggu fajar menyingsing menerangi dengan jelas keadaan mereka yang mungkin akan mengetuk hati para warga dan sedikit memberikan rasa iba nya. Setidaknya mungkin tempat ini sudah aman dari kejaran para pemuja setan itu.


Perlahan dari jauh terdengar beberapa langkah kaki menghampiri mereka dengan sedikit tergesa, dan setelah sampai mereka berdiri berkerumun menatap Beni dan yang lainnya dengan tanpa ekspresi yang membuat Beni bingung, apakah mereka akan di tolong ataukah...

__ADS_1


__ADS_2