
"Dan, lepasin Aini!"
Arie dengan tatapan tajamnya berusaha mengancam serta bernegosiasi dengan Danu, berharap ada sebuah keajaiban yang bisa menyentuh hati Danu namun itu semua sangat tak mungkin terjadi ketika dihadapanya Danu berdiri dengan perangai bengis serta tertawa sinis.
"Kalau gua gak mau, loe mau apa hah?"
Dengan nada tawa mengejek, Danu menatap ketiga orang yang pernah menjadi sahabatnya itu satu persatu. Mendengar ucapan Danu, sudah bisa di pastikan kalau Danu sama sekali tak berniat berubah fikiran dengan apa yang direncanakan selama ini.
"Itu artinya kita harus ngabisin loe!"
Beni merasa begitu muak melihat tingkah Danu langsung menyerang, berusaha sebisa mungkin melumpuhkan Danu dengan cepat, namun sayang Danu dengan sangat mudah menghindari serangan Beni dan memberikan hadiah sebuah pukulan yang tepat mengenai perut Beni yang membuatnya terhuyung, belum selesai merasakan sakitnya pukulan di perut, Danu sudah menambahkannya dengan sebuah tendangan yang membuat Beni jatuh menggeliding ke tanah landai.
"Orang bego kaya kalian bisa apa, hah? Jangan sok jadi pahlawan, mending kalian selametin diri aja, tapi itu juga kalau kalian bisa, tapi gua pastiin kalau kalian akan mati hari ini."
Perkataan Danu dengan sangat sukses memancing amarah yang sejak tadi Arie tahan, dengan tenaga yang belum pulih sepenuhnya, Arie menyerang Danu namun hasilnya serangan Arie tak berakibat apa-apa walaupun dia menyerang menggunakan tongkat yang dia gunakan untuk membantunya berjalan, namun pada akhirnya kesombongan membuat Danu sedikit lengah, hingga sebuah benda keras melayang mengenai bagian belakang tubuhnya.
Bugh...
Hantaman kayu dari Anita tepat mengenai punggung Danu yang tak di sadarinya karena dia hanya fokus pada Arie dan Beni saja, namun sayang serangan itu tak berefek apapun kecuali membuat Danu semakin murka.
"Dasar jalang!"
__ADS_1
Danu berbalik dengan cepat kemudian mencengkeram dan mencekik Anita yang masih berada di belakang Danu dengan satu tangan kanan, melihat kekasihnya tersakiti Beni yang tadi terhuyung seolah mendapat kekuatan baru seketika bangkit dan menerjang Danu.
"Anjixx, lepasin dia!"
Beni melesat Dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai pinggang Danu langsung membuatnya melepaskan cekikan di leher Anita, namun tak butuh waktu lama Danu sudah bangkit kembali dan dengan santai menghampiri Beni yang sudah siap dengan kuda kudanya untuk kembali menyerang.
Dengan tanpa aba-aba Beni kembali menyerang dengan melayangkan pukulan, Danu yang terlalu santai sepertinya belum siap menerima serangan Beni, hingga pukulan Beni tepat mengenai udara di samping Danu.
Bugh...
Sekali lagi Beni terhuyung yang kali ini di tambah dengan telinganya yang berdengung karena pukulan Danu mengenai pipi kiri hingga ke telinganya.
Di tempat lain, para murid Ki Idir menghadapi para pengikut aliran sesat tersebut, dan dengan mudah mereka melumpuhkannya satu persatu, mereka tak berniat membunuh para pengikut aliran sesat tersebut karena tujuan mereka adalah menyelamatkannya dan membawa mereka kembali pada jalan yang seharusnya.
"Lebih baik kita hentikan semuanya, kembalilah!"
Ki Idir masih berusaha membujuk kakaknya itu, karena bagaimanapun mereka bersaudara, dan Ki Idir sangat menyayangi kakaknya tersebut.
"Kenapa? Apa sekarang kau sadar perbedaan kekuatan kita?"
Mbah kuncen tersenyum kemudian tertawa dengan sombong, karena mengira kekuatannya lebih besar dari sang adik yang berniat membujuknya untuk pulang.
__ADS_1
Ki Idir tersenyum menangapi apa yang Mbah Kuncen ucapkan, dia tetap sabar dan tenang menghadapinya.
"Sudah aku duga, kau takkan bisa menghentikanku, karena kalau kau ingin menghentikanku itu artinya kau harus membunuhku."
Sejenak Ki Idir berfikir, bagaimana caranya melumpuhkan Mbah Kuncen tanpa terlalu melukainya, walaupun bisa disebut sebagai misi mustahil, namun Ki Idir tak menyerah begitu saja, demi pengorbanan orang-orang yang membantunya dan juga demi waktu yang selama ini terbuang untuk menemukan kakaknya itu.
Di tempat semula, Danu masih berdiri kokoh walaupun menghadapi ke tiga orang yang kini semakin melemah karena luka baru yang Danu berikan, namun mereka takkan menyerah semudah itu, tekad mereka masih kokoh meski tak sekokoh fisik mereka saat ini.
"Sudah cukup, kita akhiri sekarang!"
Seketika wajah Danu berubah serius, dengan mata yang tajam lalu kemudian menggeram dan dengan gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya dia menerjang menyerang membabi buta, Beni dan Arie yang belum siap dengan serangan Danu, tak bisa menghindari serangan itu hingga ke duanya tersungkur, belum cukup sampai di situ, Danu yang masih bernafsu menyiksa Beni dan Arie langsung menghampiri ke duanya dan menendang mereka secara bergantian tanpa sedikitpun menunjukkan rasa belas kasihan.
Di balik kegelapan, Aini diam mematung melihat Danu dengan kejamnya menghajar sahabat-sahabatnya itu hingga babak belur, mungkin kalau saat ini dalam keadaan siang atau terang benderang, pastilah terlihat jelas keadaan Beni dan Arie yang jauh dari kata baik-baik saja.
Perlahan Aini menghampiri Danu dengan tatapan kosong serta sebilah pisau yang di genggam tangannya berlumur darah, darah dari murid Ki Idir yang telah tewas di bunuh olehnya. Danu berpaling menatap Aini yang tepat berada di belakangnya kini, menyambutnya datang bagai boneka yang dikendalikan oleh pemiliknya.
"Sekarang bunuh mereka!"
Danu memerintahkan Aini untuk menghabisi sahabat-sahabatnya sendiri, Beni dan Arie yang bahkan sudah tak sanggup untuk berdiri lagi takkan mampu melawan walaupun hanya untuk melawan seorang wanita seperti Aini.
Dengan tatapan kosong serta wajah tanpa ekspresi Aini mengayunkan pisau untuk menikam mereka satu persatu.
__ADS_1
Tangannya diayunkan, lalu dengan sekali hentakkan maka kini pisau itu kembali bersimbah darah.
Jleb