PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
18. Kuat


__ADS_3

"Di mana ini?"


Arie baru saja tersadar, matanya langsung menatap sekeliling ruangan yang hanya terbuat dari anyaman bambu itu, ruangan yang begitu asing untuknya, tak seperti orang di sampingnya yang begitu dikenalnya.


"Tenang, kita aman sekarang."


Suara Beni membuat kekhawatiran Arie menghilang, karena dia percaya pada Beni dan yang lainnya, mereka akan menjadi sahabat terbaik yang pernah dikenalnya.


"Kenapa kita bisa di sini Ben?"


Arie tak mengingat ketika Ki Idir dan beberapa muridnya menolong mereka dan mengobati luka disekujur tubuhnya, tapi bukan hanya Arie saja sebenarnya yang tak ingat dengan apa yang telah terjadi, sebenarnya Beni pun mengalami hal yang sama. Beni menjelaskan pada Arie kenapa mereka bisa berada di tempat ini, tapi tentu saja semua yang di jelaskan oleh  Beni berasal dari cerita yang dia dengar dari Anita kekasihnya, dan mendapat penjelasan seperti itu Arie pun mengerti dengan situasi saat ini. Arie bisa sedikit menghela nafas panjang, sepertinya masalah yang mereka hadapi akan segera berakhir.


"Malam ini Ki Idir dan muridnya mau membereskan masalah kita ini Rie, tapi dia butuh informasi dari loe yang punya pengalaman sama mereka."


Arie dengan kondisi yang masih belum pulih sepenuhnya hanya bisa kembali menghela nafas panjang, berusaha mengingat pengalaman pahitnya menjadi salah satu bagian dari mereka, tapi rasa bersalah pada yang lainnya perlahan kembali menguatkannya pada sebuah keyakinan bahwa dia harus membantu menyelamatkan mereka semua, dan setidaknya salah satu dari mereka akan merasakan bukti rasa sayangnya yang selama ini tak terungkap.


"Gua pasti bantu kalian Ben, semua harus berakhir dan cukup Randy yang jadi korban terakhir, setelahnya jangan sampai ada lagi korban selanjutnya setelah kita."


Dengan tatapan sedih dan jauh menerawang Arie berusaha memendam penyesalannya yang membuatnya sedikit tertekanan.


"Gua minta maaf sama loe Rie."


Dalam keheningan diantara mereka berdua, tiba-tiba saja Beni memegang pundak Arie lalu meminta maaf atas semua yang dulu pernah dia lakukan, semua sikap buruknya selama ini ternyata membawa petaka.

__ADS_1


"Maaf buat apa?"


Arie bukannya tak mengerti maksud dari perkataan Beni, namun dia hanya ingin memastikannya saja bahwa tujuan dari permintaan maafnya sesuai dengan apa yang ada dalam fikirannya.


"Dulu gua sering nganggep loe sebelah mata, sering ngeremehin loe, tapi sekarang gua sadar, loe salah satu sahabat terbaik gua."


Beni mengucapkan itu tulus dari apa yang ada dalam fikiran dan hatinya, dia benar-benar telah berubah setelah Arie menunjukkan sisi gelapnya, yang membuatnya sadar kalau Arie terjerumus dalam kesesatan salah satu penyebabnya adalah sikap Beni padanya. Sebagai seorang sahabat seharusnya Beni bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan sahabatnya sendiri karena pada kodratnya manusia takkan ada yang sempurna.


"Lupain aja Ben, yang penting sekarang kita selametin Aini dulu, prioritas kita sekarang adalah kita harus keluar dari sini dalam keadaan hidup."


Ada rasa lega ketika ada yang mengakui Arie sebagai sahabat, tapi sekarang ini tak ada waktu untuk menanggapi kebahagiaan Arie secara berlebihan, dengan kondisi seperti itu rasanya untuk tersenyum pun masih begitu berat.


"Aini udah aman Rie, loe gak usah khawatir, dia baik-baik aja."


Untuk saat ini Aini memang sudah dalam perlindungan murid Ki Idir tapi ada yang Beni tak mengerti kalau Aini yang sekarang bukanlah Aini yang dulu. Arie sedikit banyak tau tentang apa yang dilakukan oleh Danu padanya.


Pertanyaan Arie yang sesingkat itu mampu menimbulkan penasaran dan tanda tanya besar dalam benak Beni, antara khawatir dan takut terjadi sesuatu yang buruk yang bisa saja kembali menimpa mereka.


"Maksud loe?"


Beni menatap Arie serius, seakan tak mau melewatkan satu kata pun dari apa yang akan di jelaskan oleh Arie selanjutnya.


"Aini sudah mereka kendaliin, aku ragu kalau dia bisa di sembuhin dengan mudah."

__ADS_1


"Maksud loe Aini udah bagian dari mereka?"


Tanya Beni yang terperanjat mendengarkan penjelasan Arie barusan.


"Bukan, saat kita bawa Aini waktu itu, dia sudah siap untuk di persembahkan."


Kata-kata Arie sukses membuat suasana yang sebelumnya telah membaik kini kembali memburuk, sepertinya menyelesaikan masalah ini tak semudah yang Beni kira.


"Maksud loe Aini..."


Belum selesai Beni menyelesaikan kalimatnya, Arie sudah memotongnya lebih dulu karena tau apa yang akan Beni katakan selanjutnya.


"Ya, dia udah bisa disebut terhipnotis oleh Danu, dan udah bisa dibilang jadi boneka bagi mereka, lebih baik sekarang loe cepet ingetin mereka sebelum semuanya terlambat."


Setelah Arie menjelaskan semuanya, mereka hanya bisa terdiam untuk sesaat, terutama Beni, dia tak percaya kalau masalah yang di hadapinya ternyata masih mengikuti mereka walaupun mereka kini telah jauh dari tempat pemujaan iblis tersbut.


"Terus sekarang kita harus gimana Rie?"


Setelah cukup lama saling berdiam tanpa suara, akhirnya Beni berani bertanya, demi keselamatan mereka semua.


"Aini harus di kurung, atau kalau perlu kita harus ngikat dia dan ngenjaganya, biar dia gak balik lagi ke mereka."


Tatapan tajam Arie mencerminkan keseriusan ucapannya, solusinya kali ini memang berat untuk di lakukan, bagaimanapun Beni tak sanggup melakukan itu pada sahabatnya sendiri, tapi demi keselamatan Aini dan yang lainnya mereka berdua sepakat akan melakukannya, namun tentu saja atas persetujuan dan bantuan dari Ki Idir dan murid-muridnya.

__ADS_1


"Aaaaaaahhhhhhhhh."


Tapi sebelum menjalankan apa yang telah mereka berdua rencanakan, tiba-tiba saja terdengar jerit histeris dari ruangan lain yang terdengar cukup jelas di telinga Beni dan Arie, karena memang ruangan itu hanya bersekat anyaman bambu saja, mereka bertatapan dan sepertinya apa yang ada dalam perkiraan mereka sama, yaitu Aini dalam bahaya. Suara jeritan tadi sudah sangat mereka kenal, yaitu dari seorang perempuan yang mengisi relung hati Beni, Anita, mendengar itu Beni langsung bergegas menuju ke tempat di mana suara itu berasal, tanpa mempedulikan Arie yang berusaha bangun dan ingin ikut untuk melihatnya, setelah sampai, mata Beni terbelalak mulutnya menganga melihat kejadian di depan matanya itu, seseorang telah di kelilingi oleh Ki Idir dan beberapa orang muridnya, dia terkapar bersimbah darah dan sepertinya telah tewas karena luka robek di beberapa bagian tubuhnya.


__ADS_2