Pendekar Iblis Racun Cantik

Pendekar Iblis Racun Cantik
Menggunakan Identitas Lain


__ADS_3

"Iya, terimakasih Wan Le. " kata Ming Ming nada riang.


"Yue Ming, kalian berdua darimana asalnya dan kenapa kalian berdua menjadi seperti ku Wan Le yang sudah lima tahun ini menjadi gelandangan di kota Se An usai rumah dan keluargaku di bakar oleh pasukan Istana Kekaisaran Ming? " tanya Wan Le yang senang mendapatkan roti kering dan segelas teh hangat dari Yuezhi yang pendiam dan ramah.


"Oh, dari luar tembok besar, sama kami juga. " jawab Ming Ming singkat.


"Yue Ming, makanan dan minuman kalian masih banyak, apakah kalian mau membagikannya kepada anak-anak lain di rumah kumuh di tepi sungai dalam kota ini? " tanya Wan Le yang amat menyukai sikap ramah dan baik hati Yue Ming dan Yuezhi.


"Tentu saja. " jawab Ming Ming tersenyum ramah kepada Wan Le.


Kemudian Wan Le mengajak kedua orang teman barunya menyelusuri tepi sungai untuk menuju ke sebuah rumah kumuh yang sudah lapuk dan bau. Disana terdapat beberapa orang anak kecil yang sebaya mereka dan seorang pendeta Dao yang sedang tidur di tengah-tengah ruangan di rumah kumuh itu.


"Teman-teman lihat aku membawa dua orang teman untuk ke rumah kita dan mereka berdua membawa makanan dan minuman untuk kita semua di sini. " kata Wan Le memanggil semua anak untuk kumpul di depan Ming Ming Ming dan Yuezhi yang membagikan makanan dan juga minuman mereka kepada semua anak itu.


Ming Ming yang sudah melihat adanya seorang pria dewasa di dalam rumah kumuh itu segera menghampiri pria itu dan menyodorkan sekeping roti kering kepada pria dewasa itu.


"Paman, aku cuma punya roti kering ini untuk di bagikan kepada mu. " kata Ming Ming ramah.


"Hmm, anak kecil yang memiliki sepasang mata yang tajam dan cerdas juga wajahnya menarik sekali. " pikir pria dewasa itu mengamati Ming Ming sambil menerima roti kering dari Ming Ming.


"Yuezhi, kau sungguh ramah sekali ya kami suka berteman dengan mu. " kata semua anak kecil di rumah kumuh itu kepada Yuezhi.


"Iya, aku juga senang mempunyai teman-teman seperti kalian. " jawab Yuezhi ramah.

__ADS_1


"Paman Zhao, lihatlah Yue Ming ini dia anak kecil yang baik dan tampan sekali juga baik sekali lho dengan memberikan makanan dan minumannya kepada mu dan kita semua di sini.Apakah kamu tak mau membalas kebaikannya dengan kamu menerima dia sebagai muridmu di sekte bulan dan matahari pelindung dari Kekaisaran Liao di Liaoning?" Wan Le yang sudah menyukai Ming Ming sebagai sahabatnya segera meminta pada Pamannya untuk menerima sahabatnya sebagai murid dari Pamannya itu.


"Wan Le, tanpa kamu memintaku untuk jadikan anak kecil itu sebagai muridku pun, aku sudah menyukainya. " kata Pria dewasa yang dipanggil Paman Zhao oleh Wan Le sambil menatap Ming Ming penasaran sekali.


"Yue Ming, kau sungguh beruntung sekali karena Paman Zhao menginginkan kamu menjadi murid nya bersama dengan aku dan Yuezhi.Ayo, cepat kau ucapkan terimakasih kepadanya. " kata Wan Le menarik lengan Ming Ming untuk anak kecil itu mendekat kepada Paman Zhao.


"Yue Ming, kau dan Yuezhi juga Wan Le berjodoh denganku di hari ini sehingga aku mau kamu jadi muridku.." Kata Paman Zhao yang telah meraih buntalan perbekalannya di lantai lalu mengajak anak-anak itu masuk ke ruangan lain dari rumah kumuh itu yang menembus sebuah pintu yang tertutup dan begitu terbuka menunjukkan hutan yang lebat sekali.


Di hutan itu ada sebuah kerete kuda yang siap di kusiri oleh Paman Zhao sendiri begitu ketiga anak kecil itu naik dan masuk ke dalam kereta kuda. Ketiganya duduk dengan manis sambil berbincang-bincang dengan akrab sekali satu sama lainnya.


Perjalanan menuju Kekaisaran Liao harus dilalui selama berhari-hari atau sebulan lamanya untuk mereka tiba di sebuah rumah bentuk tenda yang di kelilingi pasukan yang berpenampilan garang dan brutal. Disana ada seorang wanita muda dan cantik menggandeng seorang balita cantik dan anak laki-laki sebaya Wan Le sudah menanti mereka di pintu rumah itu.


"Istriku.. Coba lihat aku pulang ke rumah kita ini membawa apa? " tanya Paman Zhao dengan nada riang gembira begitu turun dari kereta kuda dan berdiri di depan istri dan anak-anaknya.


"Alia, bukan..! Mereka adalah anak-anak malang yang telah aku angkat sebagai murid-muridku. " jawab Paman Zhao yang cepat memperkenalkan mereka kepada istrinya.


"Selamat siang kepada Ibu guru Zhao. " sapa ketiganya sopan.


"Wahh, siapa nama kalian bertiga? " tanya Alia istri dari Paman Zhao yang langsung menyukai mereka.


"Saya Yuezhi. " jawab Yuezhi sopan.


"Saya Yue Ming. " jawab Ming Ming santun.

__ADS_1


"Saya Wan Le. " jawab Wan Le hormat.


"Wah, mari perkenalkan mereka berdua adalah anak-anak kami yang bernama Zhao Zhao dan Zhao Dao, mereka berdua ini adalah adik- adik seperguruan kalian. " kata Alia ramah kepada bertiga.


"Hai, Adik Zhao Zhao dan Adik Zhao Dao. " sapa ketiganya.


Demikianlah semenjak hari itu Ming Ming tinggal di rumah pejabat Zhao yang merupakan salah seorang dari kerabat dekat Kaisar Liao sebagai salah seorang murid utama dari sekte bulan dan matahari pelindung dari Kekaisaran Liao.


Ming Ming juga menyembunyikan identitasnya dengan menggunakan nama Yue Ming sebagai seorang anak laki-laki yang tampan sekali dan manis sekali sehingga tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya di Kekaisaran Liao.


"Yue Ming, bisakah kamu membantuku untuk membelah kayu di hutan belakang rumah kita? " perintah dari putri dari Paman Zhao yang amat galak kepada Ming Ming pada suatu hari.


"Bisa, " jawab Ming Ming nada riang gembira.


"Yue Ming, kenapa kamu mau saja diperintahkan oleh Zhao Zhao yang manja itu? " tanya seorang anak perempuan lain yang tak lain adalah Putri dari Kaisar Liao yang setiap hari datang ke rumah Paman Zhao untuk mendekati Ming Ming yang dikira sebagai seorang anak laki-laki yang menarik perhatiannya.


"Karena dia adalah putri dari Paman Zhao guru ku, Putri Liao Yu. " jawab Ming Ming sambil lari ke hutan belakang rumah Paman Zhao dengan membawa golok besar di tangannya.


Tetapi ia tidak pernah menggunakan golok untuk menebang pohon melainkan menggunakan ilmu sinkang tapak tarian Dewi langit melalui kedua telapak tangannya yang sanggup membelah pohon besar sekalipun.


Brakk!


Ia kembali memotong pohon menjadi sejumlah kayu bakar yang siap digunakan untuk membuat makanan atau perapian di rumah Paman Zhao dengan menggunakan ilmu yang sama tanpa sepengetahuan seorangpun di rumah Paman Zhao itu.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2