
"Dua gadis liar! Perlu apa malam-malam begini berada di tempat ini! Jika kau mengikuti diriku dan punya niat tidak baik, jangan kira aku tidak tega membuat kalian celaka seumur- umur!"
"Hik.. hik! Kak, kau dengar, dia mengancam kita!"
"Dia takut ketahuan apa yang barusan diperbuatnya di dalam sana dengan pemuda gagah yang digilainya itu!" ujar Racun Raga.
Lalu dua gadis itu kembali tertawa panjang.
"Nek, kami tadi mengintip kau hendak menelanjangi pemuda itu di dalam gubuk!" kata Racun Jiwa.
"Kau membelai kepalanya. Mengapa tidak membelai bagian tubuh lainnya?!"
"Gadis-gadis sesat bermulut keji! Kalau kau tidak menjaga ucapan akan kurobek mulut kalian saat ini jugal" Nenek penyihir gagak hitam marah besar.
"Hik.. hik! Dia takut kita mau mengambil pemuda itu!" kata Racun jiwa pula.
"Hemm.. Kalian suka pada pemuda itu! Silahkan masuk ke dalam gubuk! Lakukan apa yang kalian mau!" Nenek penyihir berkata seraya maju selangkah.
"Kami tidak berselera! Apa lagi pemuda itu siap menjadi bangkai tak berguna! Siapa sudi!" jawab dewi Racun jiwa
Seperti diketahui dua gadis kembar cucu-cucu Yao nexian ini memanag mempunyai kelainan yakni
hanya suka pada kaum sejenis.
"Kalau kalian tidak punya kepentingan lekas menyingkir! Atau api di ujung ranting ini
akan merusak wajah kalian!"
Habis berkata begitu nenek penyihir membuat lompatan, menyergap dua gadis kembar seraya babatkan ujung ranting berapi ke wajah mereka. Sepasang dewi racun tahu sekali siapa adanya Penyihir gagak hitam Mereka tidak mau mencari celaka.
Dengan sigap keduanya membuat gerakan melesat ke udara. Dalam melompat tinggi sosok mereka seolah-olah bersikap duduk enak-enakan.
Sesaat kemudian keduanya lenyap dalam kegelap an. Hanya suara tawa mereka yang terdengar di kejauhan. Setelah memastikan dua gadis itu telah pergi jauh nenek penyihir segera tinggalkan tempat tersebut. Namun hatinya was-was.
"Dua gadis itu, aku tidak percaya pada mereka. Sejak keadaan mereka menjadi seperti itu benak dan hati mereka telah dilumuri segala macam kekejian. Aku harus melakukan sesuatu..."
Si nenek angkat tangan kirinya tinggi-tinggi keatas. Telapak tangan dipentang terbuka kearah gubuk. Matanya membesar tak berkesip.
"Wussss!
Kepulan asap hitam melesat keluar dari lima jari dan telapak tangan si nenek. Asap itu membuntal ke arah gubuk. Tepat seperti yang diduga nenek penyihir, tak selang berapa
lama Sepasang dewi racun muncul kembali. Mereka memandang berkeliling dalam gelap.
"Aneh, rasanya kita sudah sampai di tempat gubuk itu berada aneh sekarang sudah tidak ada lagi
coba tadi dimana.-?"
__ADS_1
" Tapi mengapa gubuknya tak ada lagi...?"
berucap racun jiwa
"Pohon besar itu," kata Racun raga sambil memandang pada
pohon besar beberapa langkah di hadapannya.
"Apakah pohon ini sebelumnya memang ada di sini?"
"Aku tak dapat memastikan," jawab Racun jiwa
Perasaanku tidak enak Jika penyihir jahat itu membokong kita di malam gelap gulita begini rupa, kita bisa celaka. Sebaiknya
kita pergi saja. bukankah kita ingin menyirap kabar bagaimana keadaan dan apa yang dilakukan kakek kita Si racun ular ?"
"Ya, kita pergi saja. Kalau bertemu kakek kita beritahu bahwa pemuda asing yang di carinya
itu berada di kawasan bukit kecil ini."
Tapi bagaimana kalau dia tahu kita mendustainya tentang batu biru itu?" ujar Racun jiwa membuat Racun raga jadi terdiam sesaat Akhirnya dia berkata.
"Sudah, lupakan dulu mencari kakek Yang penting kita lekas pergi dari tempat ini!" Seperti ditelan bumi dan gelapnya malam, dua gadis itu kemudian berkelebat lenyap dari tempat itu.
**** *
luluh. Petir sabung menyabung. Guntur menggelegar menggetarkan puncak bukit.
Dinding gubuk yang banyak berlubang membuat angin dingin menerobos masuk dengan
mudah
Long ryu terbaring tak bergerak di atas tempat tidur terbuat dari susunan-batang pohon kelapa. Hanya dua bola matanya memandang berputar. Tubuhnya terasa dingin diterpa angin yang masuk dari luar.
Tampisan air hujan dari atap dan dinding membasahi dirinya.
Untuk kesekian kalinya petir menyambar.
Gelegar guntur membuat batang-batang pohon kelapa yang ditiduri long ryu
bergetar keras. Tiba-tiba dia melihat cahaya terang di atas gubuk. Lalu terdengar suara lolongan anjing di kejauhan. Sesaat kemudian
"braakk!"
Atap gubuk jebol ambruk. Bersamaan dengan guyuran air Hujan satu sosok melayang turun ke dalam gubuk! Dalam kejutnya long ryu berusaha bangkit Tapi sekujur tubuhnya laksana direkat kebatang pohon kelapa.
Matanya membeliak besar
__ADS_1
ketika mengenali siapa adanya sosok tinggi besar berjubah hijau kehitaman basah kuyup yang tegak di sampingnya
"Si racun ular.!!"
"Pemuda terkutuk ! Aku mau melihat sampai dimana kesaktianmu! Apa kali ini kau sanggup menyelamat kan diri dari kematian?
Roh teman-temanmu tidak sabar menunggu kedatanganmu untuk bergabung!"
Murid biksu lang ini jadi terkejut besar.
"A.. apa?! Jadi kau. .. kau telah membunuh Wei bi dan Kakek peramal?"
Yao nexian tertawa bergelak. Tiba-tiba dia gerakkan dua tangannya. Dua tangan itu serta merta menjadi panjang dan berkelebat ke arah leher Long ryu. Satu tarikan yang sangat kuat membuat lidah long ryu tersesat.
hingga lidahnya terjulur. Dia tidak bisa melakukan apapun. Tangannya tak bisa digerakkan. Dia tidak ada daya untuk menyelamatkan diri!
Suara tawa Yao nexian semakin keras.
Lidah long ryu semakin panjang terjulur. Ludah bercampur darah berbusa di mulutnya. Nafasnya tidak keluar lagi dari mulut ataupun hidung!
"Tidak..!Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!" teriak long ryu. Dia berusaha mengerahkan tenaga. Tiba-tiba entah bagaimana, dia mampu menggerakkan tangan dan kakinya.
Langsung dia menendang dan memukul. Tapi sosok yao nexian seperti bayang-bayang. long ryu hanya memukul angin!
"Aku tidak mau mati! Tidaakk! Kau yang harus mati! Kau kau... kau!" long ryu berteriak lagi lalu kembali dia memukul dan menendang kalap.
Mendadak pintu gubuk ditendang orang dari luar. Satu sosok hitam menghambur masuk.
Di kepitan tangan kirinya dia
membawa berbagai macam dedaunan. Di tangan kanan orang ini memegang obor ranting kayu.
"Ryu!! Apa yang terjadi?!" si nenek bertanya kaget dan heran melihat keadaan long ryu begitu rupa.
"Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Kau yang harus mati!"
"Kau ... kau ... kau!"
"Kau.. kau siapa maksud pemuda ini? Diriku? Dia ingin aku mati?"
Si nenek sisipkan obor di sudut gubuk. Dedaunan dibuangnya ke lantai lalu cepat dia mendekati long Ryu. Begitu dia menyentuh
tubuh si pemuda terasa sangat panas.
"Kau mimpi! kau barusan bermimpi ryu! Sekaligus diserang demam panas akibat racun pukulan..
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°.
__ADS_1