
Selamat! Membaca π€
πππππ
Sadar apa yang ia lakukan salah, Erdogan segera menarik tangannya.
Wajah nya kaku dengan tingkah laku aneh.
"Cepat, antarkan saya ke mobil,"titahnya.
"Baik Tuan."
Ibram memapah Erdogan.
Namun tindakan Ibram malah semakin membuat Erdogan salah tingkah, entah apa yang lelaki itu rasakan yang jelas ada perasaan lain di dalam hatinya ketika Ibram menyentuhnya.
"Saya bisa sendiri."Erdogan melepaskan diri dari Ibram, karena ia merasa ada yang salah dengan dirinya, dan takut jika kesalahan itu akan semakin menjadi.
β¨β¨
Ibram dan Erdogan benar-benar meninggalkan Mario untuk menghadapi semua musuh di sana, tapi sebelum beranjak, Ibram terlebih dahulu mengirimkan pesan jika ia sudah mengamankan Erdogan.
Mobil melaju dengan cepat menuju kediaman Erdogan.
"Kenapa kita tidak ke Rumah Sakit terlebih dahulu Tuan, Anda terluka."Kata Ibram yang masih merasa khawatir.
"Tidak perlu, cepatlah sedikit,"sahut Erdogan.
Ibram menambahkan kecepatan mobilnya, hingga dalam waktu beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Beberapa pelayan datang menyambut kedatangan Mereka, kepanikan dan kekhawatiran begitu nampak di wajah para pelayan yang semuanya lelaki tidak ada wanita satupun.
"Apa yang terjadi dengan tuan Er?"
"Beliau terluka!"
"Cepat bawa masuk Tuan Er!"
"Cepat panggil Dokter spesialis, Tulang, Jantung, Hati, Gigi, Kulit dan semuanya."Titah salah satu penjaga di Rumah itu pada temannya.
Itulah beberapa suara kepanikan dari pelayan yang benar-benar sangat menghawatirkan Erdogan.
Elif sampai terkesima dengan itu semua, mereka sungguh sangat menghawatirkan sang Tuan.
β¨β¨β¨β¨
"Lukanya tidak terlalu dalam, hanya perlu beberapa jahitan saja. Rupanya, kepala kau benar-benar sekeras batu, jadi kau tidak perlu lagi memanggil Dokter spesialis Jantung, bedah dan lainnya, karena aku pun sudah bisa menangani ini."Ucap seorang Dokter laki-laki yang bernama David.
"Diam!"sentak Erdogan.
__ADS_1
"Kenapa kau menyuruhku diam, aku kan Dokter, jadi harus menjelaskan apa yang terjadi pada pasien ku ini."
"Ibram!"panggilan Erdogan.
"Iya Tuan!"dengan sigap, Ibram datang tepat di hadapan mereka berdua.
"Waaaah... Siapa ini! Apa ini pengawalmu yang baru! Luar biasa, butuh pengawal berapa lagi kau Er, agar membuatmu merasa aman."Seru David sambil menggelengkan kepalanya.
"Ibram, antarkan Lelaki ini keluar,"kata Erdogan yang tidak meladeni ucapan David.
"Baik Tuan."
Ibram, beralih pada David, ingin membawa Dokter itu keluar dari kamar sang Tuan, namun sikap David malah membuat Ibram risi, karena Dokter muda itu memperhatikan wajah Ibram dengan sangat teliti, ia seperti mengenali sosok yang ada di hadapannya itu.
"Er, kau dapat dari mana Pengawal baru ini?"tanyanya, dengan wajah yang masih meneliti Ibram.
"Hentikan ocehan mu itu! Jika kau sudah selesai dengan urusanmu, segera Enyah dari sini sebelum aku menendang mu,"usir Erdogan yang sudah jengah dengan tingkah laku David, yang jika di biarkan akan semakin membuat Erdogan naik gunung, eh pitam.
"Kau ini kenapa! Aku sedang memastikan, apa aku pernah bertemu dengannya sebelum ini, karena aku merasa pernah mengenalnya."
"DAVID!"
Erdogan sudah meninggikan suaranya, bertanda jika ia sudah tidak bisa menahan kesabaran yang hanya setipis tisu.
"Baiklah! Aku akan pergi, sepertinya aku salah orang,"ujar David, tapi ia masih terus melirik Ibram meyakinkan diri jika ia memang pernah bertemu dengannya.
David kembali fokus pada Erdogan, ia menyarankan agar temannya itu banyak beristirahat dan meminum obat secara rutin.
"Ya, aku tau dia memang sangat bisa di andalkan, tapi. Ngomong-ngomong di mana dia sekarang, sejak tadi aku tidak melihatnya?"
"Kau tidak perlu tau, cepat! Pergi!"Erdogan kembali mengusir.
"Iya-iya kau ini cerewet sekali."
David merapihkan alat medis yang ia bawa dan sudah siap akan keluar dari sana.
Tapi, tatapannya kembali tertuju pada Ibram yang masih berdiri di tempat, kali ini David tidak lagi seperti merasa sok kenal.
"Perkenalkan nama saya David?"
Ia malah Memperkenalkan diri.
Ibram yang sejak tadi merasa cemas takut jika David benar pernah bertemu dengannya, semakin di buat cemas.
"Kenapa diam!"kata David, yang masih menggantungkan tangannya.
"Tidak, maafkan saya Dokter."Dengan ragu-ragu Ibram menyambut uluran tangan David.
"Saya Ibram."
__ADS_1
David mengangguk setelah mendengar nama lelaki yang membuatnya berfikir keras.
"Tanganmu lembut sekali, seperti tangan seorang gadis!"ucapnya, yang tidak langsung melepaskan jabatan tangganya.
"Astaga! apa Dokter ini benar mengenaliku! tidak mungkin kan, penyamaran ku sangat baik." Batin Ibram, dan ia memasang wajah yang biasa, menghilangkan semua ketakutan yang ada di hatinya.
"Ah, Dokter bisa saja,"ujar Ibram canggung dan berusaha menarik kembali tangannya.
"Ini memang sangat lembut, dan tanganmu sangat kecil,"sahut David, yang seolah senaja.
"Kurang ajar! apa yang dia lakukan, kenapa malah memperpanjang!"Batin Ibram Kesal.
"Mungkin karena saya sering menggunakan Losion milik adik perempuan saya, jadi tangan sayapun ikut lembut seperti tangannya,"Ibram yang beralasan.
"Adik perempuan!"David yang sudah menjomblo sejak bertahun-tahun lamanya, seketika berbinar mendengar nama perempuan. Ia langsung melepaskan tangan Ibram dan kembali bertanya!
"Siapa nama adik perempuanmu? Apa dia masih bersekolah atau sudah bekerja? Tidak! Itu tidak penting, yang terpenting adalah! Apakah dia jomblo atau sudah menikah dan dia pasti sangat cantik kan!"cerocos David menggebu-gebu.
"David! Apa kau memiliki nyawa seperti kucing?"suara Erdogan kembali menggema.
"Astaga Er, kau ini kenapa sih! Aku hanya sedang berbincang dengan pengawalmu ini?"kata David dengan gemas.
"Dia sedang bekerja, kau tidak boleh menggangunya!"
"Pengawalmu ini mempunyai adik perempuan Er?"
"Memangnya kenapa jika dia punya adik perempuan? Dasar Jomblo. Mendengar kata perempuan saja sudah seperti ini, macam orang yang tidak pernah mendengar nama perempuan selama ribuan tahun saja."
"Sial!"umpat David dengan suara pelan, karena kesal mendengar kata-kata Erdogan.
"Apa kau bilang?"Erdogan yang mendengar kembali naik pitam.
"Tidak-tidak, aku tidak bilang apa-apa, baiklah aku akan segera pergi. Cepat sembuh dan jaga kesehatanmu baik-baik."David yang mengalah.
Inilah kelakuan Erdogan dan David, ketika kedua jantan itu bertemu. Mereka bersahabat sejak usia remaja, sama seperti Mario yang selalu ada untuk Erdogan, tapi David lebih santai ketika bersama Erdogan, David dengan tingkah laku dan kata-katanya yang sering membuat Erdogan kesal, justru menambah warna di persahabatan mereka.
Sebelum beranjak! David menyelipkan sebuah kartu nama di saku Jas hitam yang di kenakan Ibram sembari berbisik!
"Hubungi aku, Ok!"
Bersambung....
β¨π«β¨β¨β¨
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Minta dukungannya yaπ€
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini π
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ