Pengawal Untuk Tuan Er

Pengawal Untuk Tuan Er
Libur Untuk Satu Hari


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Aku pulang dulu kak,"pamit Erdogan pada kakaknya.


"Berhati-hatilah di jalan dan jaga kesehatanmu."


"Apa kakak masih menolak untuk tinggal bersamaku?"


Ini pertanyaan yang sudah ratusan kali Erdogan katakan pada Erina, karena sesungguhnya ia sangat mengkhawatirkan keselamatan kakaknya jika tinggal bersama Mila dan ketiga putranya.


"Er, maafkan Kakak. Kakak akan tetep di sini bersama Papa." Dan inilah jawaban yang selalu Erdogan dapat.


"Baiklah! Tapi, katakan padaku jika ada yang mengganggu atau menyakitimu."


"Erdogan! Kau bicara apa, sejak tadi kau selalu memancing emosi Papa, apa kau pikir kakakmu ini tinggal bersama seorang penjahat! Hingga kau berlebihan seperti ini."Marah Erson.


"Sudah Pa, tenang!"Mila yang bagai istri Solehah, kembali menenangkan Erson agar tidak terpancing oleh Erdogan.


"Benar Pa, kak Erdogan hanya Khawatir dengan ka Erina, dia tidak ada maksud apapun,"sahut Riko, yang berperan dalam Putra terbaik.


"Kau lihat Er! Seharusnya kau bisa mencontoh Adik-adikmu ini, kau selalu saja mencurigai mereka tampa sebab, tapi mereka tidak pernah marah dan selalu bersikap baik padamu layaknya seorang adik pada kakaknya."


Mendengar ocehan Erson yang mulai membandingkan dirinya dan ketiga saudara tirinya, Erdogan semakin muak dan ingin cepat pergi dari sana. Jika Erina tidak tinggal di Rumah itu, tentu Erdogan tidak akan pernah Sudi menginjakkan kakinya di Rumah di mana ia di besarkan.


✨✨✨


Makan malam keluarga yang seharusnya menjadi Harmonis, bisa berkumpul dan bercengkrama di satu meja yang sama, justru menjadi menegangkan karena ulah Erdogan yang membuat Erson terus-terusan marah, tapi makan malam itu tetep berjalan sesuai rencana, menurut Mila dan ke 3 anaknya, tapi mereka tidak menyadari jika ada Ibram yang mengetahui apa yang Riko dan Madam Shar lakukan.


****


"Apa kita langsung pulang?"tanya Ibram.


"Tentu saja, apa kau berniat tinggal di sini?" Sahut Erdogan.


"Bukan seperti itu Tuan, tapi Wendy masih di sini."


Erdogan baru menyadari jika Pengawalnya kurang satu.


"Memangnya kemana dia?"


"Sepertinya dia tersesat Tuan. Tapi jadwal Anda di rumah ini sudah usai, jadi pekerjaannya Wendy pun usai, kita tetep kembali ke Rumah karena Tuan Er harus beristirahat."Sahut Mario.


Erdogan mengangguk setuju.


Dan tanpa menunggu Wendy yang entah di mana, bahkan mereka tidak berniat untuk mencari keberadaan lelaki yang berpamitan untuk mencari Ibram itu. Memutuskan pulang tanpa Wendy, dan mau tidak mau, Ibram mengikuti apa kata Mario.


✨✨✨

__ADS_1


"Riko, apa kau sudah melakukan apa yang harus kau lakukan?"tanya Mila.


Setelah mereka sudah berkumpul di satu ruangan yang jauh dari jangkauan Erson.


"Sudah Mah!"


"Lalu kenapa Erdogan baik-baik saja, tidak terjadi apapun padanya?"


"Mama tenang saja, Mama taukan jika aku satu-satunya anak Mama yang paling cerdik, bahkan kecerdikanku ini melebihi kecerdikan kancil."Sahut Riko dengan bangga.


"Sudah, kau jangan banyak bicara, cepat katakan apa rencana dari otak yang kau klaim cerdik itu,"sahut Putra bungsu Mila, yang bernama Rajes.


"Sepertinya kau sangat tidak sabar sekali adikku tersayang!"


Rajes melengos!


"Aku memberikan Racun yang berisaf tertutup! kenapa tertutup? jika terbuka semua orang akan mengetahuinya. Hahahaha..." Ujar Riko, yang semakin membuat adik bungsunya kesal dengan tawa garing yang menggema itu.


"Sekali lagi kau tertawa seperti itu, aku akan melayangkan botol ini di kepalamu,"ancaman Rajes sambil menggenggam botol minuman di tangannya.


"Kau ini pemarah sekali."


"Riko! cukup, di situasi seperti ini bukan saatnya untuk bercanda, jangan sampai kakakmu tau dia pasti akan marah."Sahut Mila, yang juga sudah merasa kesal dengan anaknya itu.


"Baik mah," Riko memasang mode serius.


Mila dan Rajes takjub mendengar penjelasan dari Riko.


"Kau memang benar-benar luar biasa, memang pantas jika kakakmu selalu mengandalkan kau dalam melakukan segala hal, karena kau memang pantas untuk diandalkan,"ucap Mila.


"Tapi, bagaimana cara kita memberikan racun itu kembali kepada Erdogan, bukankah kita jarang sekali bertemu dengannya, dia ke sini jika Papa menyuruhnya datang, itupun dipaksa, dan jika kita menyuruh seseorang untuk bertugas di Rumah Erogan, tentu saja lelaki itu akan dengan mudah mengetahui."Sahut Rajes.


"Kau tidak usah khawatir, aku sudah memikirkan soal itu, dan aku akan menggunakan Erina sebagai umpan Erdogan agar sering datang ke sini."


Mila dan Rajes sama-sama tersenyum puas.


✨✨✨✨


"Selamat beristirahat Tuan!


ucap Mario setelah membukakan pintu kamar untuk Erdogan.


Setelah memastikan Erdogan termasuk dengan selamat di dalam kamarnya, Mario segera mengajak Ibram untuk berbicara.


"Jadi, apa yang kau temukan di Rumah Tuan Erson, saya tidak akan memaafkanmu jika itu tidak penting, sampai kau meninggalkan Tuan Er dari di meja makan dengan orang-orang yang bisa saja melukai Tuan Er secara langsung."


"Maafkan saya Tuan."Ibram mulai menyiapkan Kata-kata dan barang bukti yang ia dapatkan, lalu Ia menceritakan semuanya kepada Mario.

__ADS_1


Mario menatap bungkusan kecil transparan yang diberikan oleh Ibram.


"Kerja bagus! saya akan memeriksa obat apa ini, dan kau hubungi Wendy, tanya dimana dia berada."


"Baik Tuan."


Mario bergegas, tanpa membuang-buang waktu lelaki itu segera membawa sampel obat yang diberikan oleh Ibram, ia harus mengetahuinya malam ini juga obat apa yang Riko dan Madam Shar berikan kepada Erdogan.


✨✨✨✨


"Kau dimana?"Tanya Ibram pada rekannya Wendy lewat sambungan telepon.


(.....)


"Kami sudah pulang! pulanglah sendiri."


(.....)


"Itu urusanmu, kenapa kau bisa sampai tersesat di Rumah itu, padahal kau bisa bertanya pada pelayan kan."


(.....)


"Terserah! aku mau beristirahat."


Ibram sudah tidak lagi meladeni perkataan Wendy di sebrang sana yang tengah kebingungan menuju pulang.


✨✨✨✨


Keesokan harinya. Dan kebetulan hari ini adalah Weekend, Di mana Ibram dan Wendy mendapatkan libur dan di persilahkan pulang untuk menjenguk keluarganya. Kerena Erdogan tidak mempunyai kesibukan di luar, sepanjang hari ia akan berada di dalam rumah, dan meskipun begitu, penjagaan masih tetep di perketat dengan pengawal yang bertebaran di rumah Erdogan dan Mario yang selalu ada di sampingnya.


"Sore kau harus sudah kembali, dan menjalankan tugas seperti biasa."Ucap Mario, memperingati Ibram yang berpamitan untuk pulang ke Rumah orang tuanya.


"Baik Tuan, saya permisi."


Dengan hati riang gembira, Ibram melangkah keluar dari Rumah besar Erdogan, untuk satu hari ia akan kembali menjadi Elif.


Bersambung...


✨✨✨✨


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2