
Selamat! Membaca π€
ππππ
"Maksud Anda?"bingung Ibram.
"Sudahlah! Apapun alasannya, nanti malam dan besok malam atau di malam-malam berikutnya, aku tidak mengijinkan mu keluar."
Mario dan Ibram semakin di buat bingung dengan tingkah Erdogan.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"Khawatir Mario.
"Tentu saja! Memang apa ada alasan untuk aku tidak baik-baik saja!"sentak Erdogan.
Mario terkejut! Erdogan marah tanpa sebab yang jelas. Bahkan ia tadi terlihat baik dan tenang.
"Aku mau pulang!"kata Erdogan, dan sebelum menunggu sahutan dari Mario ia melangkah terlebih dahulu meninggalkan ruangannya. Dan dengan cepat! Ibram mengikuti langkah sang Tuan.
β¨β¨β¨
Sampai di Rumah.
Erdogan yang tiba-tiba kesal segera menuju kamarnya.
Sedangkan Mario membawa Ibram untuk di interogasi, karena ia menduga jika Ibram penyebab Erdogan kesal.
"Sungguh Tuan, saya tidak melakukan apapun?"Ibram meyakinkan Mario.
"Apa yang kau janjikan dan bicarakan dengan Nona Sheryl?"
"Tidak ada?"
"Lalu apa yang ia bisikan padamu tadi?"
"Ah, itu. Aku tidak mengerti dengan kata-katanya, Nona Sheryl berkata! Tuan Er sudah mengijinkannya, dan aku akan mengirimkan lokasinya padamu. Setelah itu Nona Sherly tidak mengatakan apapun lagi pada ku Tuan."Yakin Ibram.
__ADS_1
Mario mencerna ucapan Sheryl, dan ia juga mengingat jika sebelumnya Sheryl berbisik pada Erdogan. Sepertinya ada hubungannya dengan apa yang Gadis itu bisikan pada Ibram.
Pikir Mario.
"Yasudah, kau boleh pergi, aku akan memanggilmu jika Tuan Er sudah keluar dari kamarnya."
"Baik Tuan, terima kasih. Saya permisi."
β¨β¨
"Ada apa sebenarnya dengan tuan Er, kenapa tiba-tiba ia kesal dan kenapa Tuan Mario seperti menyalahkan aku, aku sangat yakin, kali ini tidak melakukan kesalahan, dan Nona Sherly! Aaaahh, wanita itu benar-benar bisa membuatku gila, aku harus bisa membuatnya menjauh aku sungguh meras tidak nyama dan berdosa, dan apa tadi? Mengijinkan? Lokasinya? Aku bisa gila karena ini."EIif sedang menuangkan kekesalannya di taman Belakang Rumah Erdogan.
"Apa kau puas!"
Satu suara mengejutkan Ibram, dan suara itu milik Wendy yang tiba-tiba datang dari arah belakangnya.
"Wendy, kau membuatku terkejut!"Ibram mengusap dadanya.
Wendy mendengus kesal.
"Kau senang bukan? Kau puas kan?"cerocosnya .
"Kau sudah berhasil menyingkirkan aku dari posisi penting tuan Er, dan ini semu pasti ulahmu yang meminta Tuan Mario memindahkan posisiku."
"Tidak, aku sama sekali tidak pernah mengatakan apapun pada Tuan Mario, dan aku juga tidak tau kenapa kau di pindahkan menjadi penjaga pintu masuk."
Wendy terkekeh.
"Kau pikir, aku akan percaya dengan omong kosong mu itu? dasar picik."
Merasa Wendy yang sudah bersikap berlebihan. Elif bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Wendy.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? kau merasa iri karena aku menjadi satu-satunya pengawal pribadi Tuan Er? sedangkan kaulah yang selama ini mengidam-idamkan posisi itu? iya kan? tapi sayang Wendy, Tuan Er dan Mario lebih memilihku, kau harus terima itu."
"Tidak! aku tidak akan pernah menerima dan mengalah denganmu, aku akan kembali merebut posisiku, bahkan aku akan membuatmu tersingkir dari sini."
__ADS_1
Wendy yang sangat terobsesi dengan posisi pengawal satu-satunya Tuan Er menjadi dengki dengan Elif yang malah terpilih, dia akan melakukan apapun agar posisinya kembali dan menjadi kebanggaan Tuan Er.
"Apa kau tidak merasa kau ini terlalu berlebihan dan terobsesi dengan posisi itu? seharusnya kau bisa menerima kenyataan Wen, apa salahnya jika kau di tempatkan di pintu masuk Tuan Er, toh sama-sama tetap menjadi pengawal Tuan Er kan! dan kau masih bekerja dan bisa mengabdi dengannya, dan yang pasti kau juga mendapatkan gaji yang sepadan."
Wendy semakin memasang wajah tidak suka pada Ibram.
"Kau tau, aku menginginkan lebih dari itu, dan seharusnya aku sudah mendapatkannya jika kau tidak hadir di seleksi waktu itu, padahal aku sudah melakukan segala cara untuk mendapatkannya."
Tatapan Mata Wendy, dan kata-katanya membangkitkan rasa curiga Elif.
Apa mungkin lelaki yang ada di hadapan ini ada hubungannya dengan kecelakaan Ibram kakaknya.
Karena Elif sangat yakin, jika Ibram kecelakaan bukan karena kelalaiannya yang mengendarai motor karena tidak fokus, Elif sangat tahu seperti apa kakaknya dan tentu ia tidak pernah melakukan hal bodoh seperti itu.
"Sepertinya aku harus mulai menyelidiki kasus kecelakaan Kak Ibram." Batin Elif.
"Kenapa kau diam! Apa kau takut jika aku merebut posisimu kembal?"tanya Wendy dengan membusungkan dadanya.
Ibram tersenyum miring.
"Sama sekali tidak, aku sudah mendapatkan posisi ini dan tentu saja tidak akan mudah kau merebutnya. Terimalah nasibmu sebagai penjaga pintu masuk, bukankah itu sangat keren."Kata Elif, namun dibumbui dengan ledekan untuk Wendy.
"Kurang ajar!"
Wendy sudah mengangkat tangannya dan akan melayangkan pukulan di wajah Ibram.
Namun dengan gesit, Ibram menahannya, dan Ia melakukan gerakan memutar di tangan Wendy dan menekuknya ke belakang tubuh pria angkuh itu sampai membuat Wendy meringis kesakitan.
Bersambung...
β¨β¨β¨β¨β¨
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Minta dukungannya ya π€
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini π
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ