
Selamat! Membaca π€
ππππ
"Sudah lupakan!"Timpal Erdogan.
"Tapi anda tidak marah pada saya kan tuan?"Ibram memastikan.
"Tidak!"sahut Erdogan tanpa melihat.
"Terima kasih atas kebaikan dan pengertian Anda tuan, saya berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi."
ππ
Setelah 50 menit Erdogan fokus dengan semua pekerjaannya dan Ibram masih setia berdiri sampai membuat kakinya kram dan kesemutan. Pada akhirnya Erdogan pun selesai.
Ia merenggangkan semua otot-ototnya yang mungkin terasa kaku dengan gerakan putar ke kanan dan putar ke kiri.
Setelah merasa semuanya lentur, Erdogan bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju sebuah pintu kaca yang di dalamnya terdapat kasur berukuran king size.
Ia merebahkan diri di sana dengan gerakan meloncat, Erdogan memejamkan mata seperti sedang menikmati udara dan bau di ruang.
Sementara Ibram masih terus berdiri, ia tidak berani untuk duduk apalagi beranjak karena Erdogan belum menyuruhnya untuk duduk.
"Sampai kapan aku terus berdiri di sini,"keluh Ibram yang sudah merasa pegal di kedua kakinya karena lebih dari 50 menit ia berdiri seperti manekin tanpa bergerak dan bergeser sedikit pun, dan sepertinya ia akan lebih lama lagi berdiri di sana karena tuan Er yang seharusnya meminta ia untuk duduk malah tertidur di atas kasurnya yang terlihat sangat menakjubkan itu.
β¨β¨β¨
Di tempat lain.
"Maaf Bu, secepatnya kita harus melakukan operasi kepada saudara Ibram. Karena semakin dilakukan lebih cepat akan semakin baik, jika kita terus mengulur-ngulur waktu saya khawatir akan berpengaruh buruk pada kondisi Ibram."
__ADS_1
Itu yang disampaikan seorang Dokter lelaki kepada Rosalin yang tengah duduk di hadapannya.
"Ba.. Baik Dok, sa... Saya berusaha secepat mungkin agar Ibram bisa segera dioperasi,"sahut Rosalin dengan terbata-bata.
"Bagaimana kak, apa yang dikatakan dokter?"tanya Rika yang melihat kakaknya sudah kembali ke kamar Ibram.
Dengan wajah lesu dan sedih Rosalin pun berkata.
"Dokter menyarankan agar Ibram harus segera dioperasi, karena jika dibiarkan berlama-lama tentu akan berpengaruh sangat buruk pada kondisinya."
Sama seperti Rosalin, Rika pun memasang wajah lesu dan sedih, karena mereka bingung untuk mendapatkan biaya operasi yang jumlahnya tidak sedikit itu, sedangkan Elif baru beberapa hari bekerja di sana tentu saja ia belum mendapatkan gaji bulanannya.
"Saya akan coba menghubungi Elif."Kata Rika.
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk membahas soal ini, bagaimanapun juga Elif harus tahu kondisi kakaknya yang semakin kritis, aku tahu jika Elif pasti belum mempunyai uang sebanyak itu. Tapi kita harus tetap menyampaikan setiap kondisi Ibram padanya."
Rika yang tahu jika saat ini Elif tengah bekerja, tentu tidak akan menghubungi Elif lewat sambungan telepon, Ia hanya mengirimkan pesan kepada keponakannya itu lewat nomor ponsel pribadinya, agar menghubunginya di saat jam istirahat.
β¨β¨β¨β¨
Ibram yang mendapati ponsel pribadi miliknya bergetar dari balik saku celana merasakan kekhawatiran dalam hatinya, ia sangat tahu jika itu pasti pesan dari Rika atau Rosalin, karena ponsel itu memang dikhususkan untuk keluarga intinya. Tidak mungkin jika Rika menghubunginya di saat jam kerja seperti ini jika itu bukan hal yang penting.
Ibram melirik pintu yang tadi dimasuki Erdogan, dan ia sangat yakin jika Erdogan Tengah tidur nyenyak.
Ibra memberanikan diri untuk mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan yang dikirim oleh Rika.
Hatinya seketika menjadi sakit, ketika membaca kabar yang mengatakan jika Ibram harus segera dioperasi.
Karena jujur, saat ini Elif tidak memiliki uang sebanyak itu bahkan setengahnya pun tidak.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?"gumam Elif, "Apa aku coba meminta gajiku selama beberapa bulan ke depan saja kepada tuan Mario,"sambung Elif. Namun ia tidak yakin dengan ucapannya itu, karena ia tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk mengatakan hal tersebut kepada Mario ataupun Erdogan. Sehingga ia pun memilih cara lain untuk mendapatkan uang untuk operasi Ibram.
β¨β¨β¨β¨
"Kira-kira, kapan Erdogan akan mati?"tanya Rohan pada adiknya Riko.
Saat ini mereka tengah berkumpul di ruangan yang biasa mereka gunakan untuk merencanakan niat buruk kepada Erdogan, dan ruangan ini berada di salah satu sudut kediaman Erson yang kedap suara, dan jarang sekali dilintasi oleh Erina atau pengawal dan pelayan yang berada di sana.
"Kau tenang saja kak, efek samping racun itu memang tidak langsung ditunjukkan apalagi secara spontan. Racun itu bekerja secara diam-diam, merusak dan mematikan sel-sel penting yang ada di tubuh seseorang yang mengkonsumsinya, saya sangat yakin jika saat ini racun itu pasti sudah bekerja keras di tubuh Erdogan dan tidak lama lagi kita akan mendengar kematian lelaki sombong dan angkuh itu."
"Apa perkataanmu ini dapat dipercaya?"sepertinya Rohan meragukan rencana adiknya ini.
Riko berdiri tegap, menghadap sang Kakak yang meragukan dirinya.
"Apa kak Rohan, meragukan kecerdasan saya?"
"Tidak! aku hanya khawatir jika rencanamu itu gagal."
"Kakak tenang saja, aku sudah menyiapkan ini selama bertahun-tahun tentu saja sudah sangat matang. Kak Rohan hanya perlu duduk manis dan cantik, menyaksikan permainan apa yang akan aku lakukan kepada Erdogan."Riko meyakinkan kakaknya.
Riko tipe laki-laki yang tidak mau ditandingi dan dikalahkan. Hingga ia akan melakukan segala cara apapun agar bisa melakukan yang terbaik baginya.
Bersambung...
ππππ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Minta dukungannya ya π€
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini π
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ