Pengawal Untuk Tuan Er

Pengawal Untuk Tuan Er
Tuan Er Yang Akan Menanggung Semuanya


__ADS_3

Selamat! Membaca πŸ€—


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


"Baiklah! Aku percayakan semuanya padamu."


Riko mengangguk, sambil mengacungkan jempolnya.


✨✨✨


Bug!


Awww..


Elif meringis ketika pintu membentur tubuhnya.


"Kanapa kau?"tanya Mario yang baru saja mendorong pintu ruangan Erdogan, sampai membentur Elif, dan melangkah masuk seperti tak punya salah.


"Tidak apa-apa Tuan."


"Anda bisa tidak sih, kalau mau masuk itu ketuk pintu terlebih dahulu," batin Elif.


"Di mana tuan Er?"


Tanyanya Mario kembali, seraya meletakkan Paper Bag di atas meja.


"Tua Er, sedang tidur, tuan!"


"Lalu, apa sejak tadi kau masih berdiri di sini?"


"Benar tuan."


Mario menggelengkan kepalanya.


Sudah terhitung lebih dari 4 jam, semenjak Mario meninggalkan mereka di sini. Dan selama itu juga Ibram berdiri seperti tiang di depan pintu ruangan Erdogan.


Itu yang membuat Mario menggelengkan kepalanya.


"Kau boleh keluar. Ini sudah waktunya makan siang, di kantor ini di siapkan Kantin. Kau bisa mengisi perut mu dengan gratis di sana."


"Terima kasih Tuan, kalau begitu saya permisi!"


Ibram melangkah mundur dan berbalik untuk membuka pintu. Mario melihat ada gurat sedih di wajah lelaki itu.


"Tunggu!"panggil Mario, dan Ibram yang sudah memegang handel pintu menghentikan pergerakannya.


"Saya Tuan?"

__ADS_1


"Kemari!"Mario melambaikan tangannya.


Ibram berjalan mendekati atasnya nya itu.


"Iya Tuan?"


"Ada apa?"


"Ada apa? Maksud Anda?"Ibram yang nampak bingung.


"Siapapun yang berdiri di sisi tuan Er, tidak di ijinkan memasang wajah sedih dan murung, seharusnya kau sudah tau itukan, karena saya sudah menulisnya secara jelas di surat perjanjian kerja mu."


Ibram mengangkat wajahnya, melihat Mario dengan jelas.


"Astaga! lagi-lagi aku melakukan kesalahan, ini salahku yang tidak membaca semua surat perjanjian yang berisi 100 lembar itu." Keluh Elif dalam hatinya.


"Maafkan saya Tuan, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."Sesal Ibram yang sudah melakukan pelanggaran kerjaan sebanyak 2 kali.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Jangan sampai masalah pribadimu berdampak pada pekerjaanmu."


"Saya...!"


"Apa lebih baik aku bicara saja pada Tuan Mario, Siapa tau dia bisa membantu ku."


Mario masih menunggu Ibram melanjutkan ucapannya.


"Saya tengah memikirkan kondisi Kakak saya Tuan, dia koma pasca kecelakaan. Dan Dokter menyarankannya untuk segera di operasi."


Mario mengerutkan keningnya.


"Kakak! apa kau mempunyai kakak? bukankah kau hanya mempunyai adik perempuan?"


DEG!


"Aduh! gawat, aku lupa kalau sekarang aku Ibram. Ayo berfikir Elif, jangan sampai tuan Mario curiga."


"Maksud saya, kakak sepupu saya Tuan, dia kecelakaan beberapa Minggu lalu. Dan mengalami koma."


"Semoga dia tidak curiga."Batin Elif.


Mario mengangguk, sepertinya ia mempercayai ucapan Elif.


"Lalu apa masalahnya? tinggal di operasi saja kan."ucap Mario dengan entengnya.


"Memangnya Anda kira biaya operasi, seperti beli permen di warung!"


"Begini Tuan."Elif terdiam sejenak, ia tengah mengumpulkan semua keberaniannya.

__ADS_1


"Keluarga saya tidak memiliki cukup uang untuk biaya operasi tersebut."Setelah bicara seperti itu, Elif menunduk wajahnya karena takut bercampur malu.


Mario kembali menggelengkan kepalanya, sepertinya hari ini Elif sudah banyak membuatnya terheran-heran.


"Sepertinya kau benar-benar tidak membaca surat kerjamu dengan baik dan seluruhnya."


"Maksud Anda?"Ibram sudah ketakutan setengah mati, ia takut kembali melakukan kesalahan.


"Di kertas perjanjian kerja, di lembar ke 88 Nomor 33. Di situ tertulis jelas, jika selama kau menjadi bagian dari kami, semua kebutuhan dan biaya hidup atau sakit keluargamu, Tuan Er yang akan menanggung semua. Dengan imbalan kau harus setia dan berada di sisi tuan Er sampai dia bosan dan menendang mu.


Meskipun di akhir kalimat Mario cukup nyelekit, tapi sudah berhasil membuat Ibram sumringah dan dengan mata yang berbinar.


"Aku memang sangat bodoh karena tidak membaca semua isi surat kerja itu,"Elif kembali bergumam dalam hatinya.


"Terima kasih Tuan, maafkan saya Tuan, saya memang belum membaca seluruhnya, tapi saya akan segera membaca sampai habis."


"Bagus! jangan sampai kau menyesalinya."


Perkataan Mario terdengar cukup aneh bagi Elif, seperti ada sesuatu di surat perjanjian itu. Tapi Elif tidak memperdulikannya, yang penting sekarang ia bisa membiayai operasi untuk Ibram.


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Setelah menyelesaikan urusan biaya operasi Ibram selesai, Elif melangkah dengan riang gembira menuju Kantin. Hatinya sangat bahagia, sepertinya ia akan makan banyak hari ini.


Tapi Elif sungguh tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, karena ia pun tidak membaca semu surat perjanjian yang telah ia tanda tangani. Saat itu Elif terlalu bersemangat dan bahagia. Hanya dengan membaca beberapa lembar yang berisi aturan utama yang ia anggap wajar dan masuk akal, Elif langsung mendatanginya tanpa berfikir panjang.


✨✨✨


"Anda sudah bangun Tuan?"Mario melihat Erdogan keluar dari kamar pribadinya.


"Aku tidak tidur, aku bahkan mendengar semua percakapanmu dengan Ibram."Sahut Erdogan, dan langsung mendudukkan dirinya di sofa panjang, sisi jendela kaca.


Mario meraih Paper Bag yang tadi ia letakkan di meja dan membukanya.


"Sudah waktunya makan siang Tuan. Ini makan siang yang di kirim Chef Juna, khusus untuk Anda."


Ujar Mario seraya menyerahkan Kotak makan mewah, yang katanya dari Chef ternama itu.


Bersambung...


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini πŸ™


Minta dukungannya ya πŸ€—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini πŸ™

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️❀️


__ADS_2