Pengawal Untuk Tuan Er

Pengawal Untuk Tuan Er
Erdogan Frustasi


__ADS_3

Selamat! Membaca πŸ€—


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Dengan pikiran positifnya itu Elif kembali melakukan pekerjaannya yang tertunda, entah sudah berapa jam lamanya ia berada di ruangan ini hanya untuk merapikan buku.


***


Sementara di tempat lain.


Tepatnya di dalam kamar sang tuan, Erdogan seperti ingin meledak karena suhu di tubuhnya tiba-tiba meningkat ketika ia bersentuhan dengan Ibram.


"Sadar Er, sadar. Kau tidak boleh seperti ini, ini salah, ini tidak benar."Erdogan frustasi sampai mengacak-ngacak rambutnya.


"Aahh. Kenapa tubuhku tiba-tiba merasa panas."Sambungnya dan segera berlari menuju ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuh yang seperti terbakar itu.


Iya mengucurkan air shower dan melepaskan semua kain yang membalut di tubuhnya.


Ia sampai mendesah ketika merasakan sejuk di tubuh panasnya, tapi tiba-tiba Erdogan kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu di saat tubuhnya dan Ibram bersentuhan. Lelaki ini juga mengingat sesuatu yang membuatnya penasaran.


"Ada yang mengganjal, aku merasakan sesuatu yang mengganjal ketika dadaku menyentuhnya. Aaaah.... Kenapa kau masih memikirkannya, ingatlah! dia itu laki-laki dan kau juga laki-laki, mana boleh memikirkannya sampai sejauh ini."Erdogan semakin frustasi dan dia semakin mengencangkan kucuran air yang mengguyur tubuhnya.


**


Entah sudah berapa lama Erdogan berada di kamar mandi ia masih belum juga keluar.


Dan Elif yang tengah mengerjakan tugasnya baru saja selesai menyusun buku-buku yang membuatnya sedikit kesal.

__ADS_1


"Apa kau baru selesai mengerjakan tugas yang Tuan Er berikan?"tanya Mario ketika Ibram keluar dari ruangan Erdogan.


"Benar tuan, saya harus mengulangnya beberapa kali sampai mendapatkan posisi yang diinginkan oleh Tuan Er."Jawab Elif.


"Kalau begitu, kembalilah ke kamarmu. istirahatlah karena besok pagi kau harus mengantar Tuan Er ke suatu tempat, kau tidak boleh merasa ngantuk apalagi lelah di saat menjaga Tuan Erdogan, karena itu akan sangat membahayakan keselamatan beliau."


"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi."usai menundukkan kepalanya pada Mario Elif pergi dari sana menuju ke kamarnya.


Dia merebahkan diri di kasur empuk yang disediakan oleh Mario, Elif juga membuka Wig dan Jas, yang membalut tubuhnya seharian ini, tapi sebelum ia membuka semua perlengkapan penyamarannya. Elif sudah lebih dulu mengunci pintu kamar dan jendela rapat-rapat, jangan sampai ada pasang mata yang mengetahui siapa dirinya.


"Aaaah... Lega sekali, akhirnya aku bisa membuka semua pembungkus ini, rasanya badanku sesak menggunakan baju tebal dan korset seharian."Keluh Elif. Dan karena merasa sangat lelah Elif pun melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda.


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Keesokan harinya.


Sementara seseorang yang akan diantar oleh Elif tengah terbaring di kasurnya dengan selimut tebal membungkus tubuhnya, tapi meskipun selimut tebal itu sudah membungkus tubuh Erdogan tak tersisa dia masih saja menggigil kedinginan.


"Sepertinya aku masuk angin kenapa tubuh ini dingin sekali, padahal semalam aku merasakan panas yang luar biasa."Gumam Erdogan masih dengan menggigil.


Bagaimana tidak masuk angin! sudah lebih dari 4 jam laki-laki ini mengguyurkan tubuhnya di bawah shower kamar mandi, hingga sekarang ia merasakan akibatnya.


Mario masuk ke kamar Erdogan, karena seperti biasa. Lelaki ini akan membantu Erdogan untuk mempersiapkan diri sebelum mereka pergi.


"Selamat pagi, tuan. Apa Anda belum bangun? ada pertemuan penting hari ini, dan pertemuan itu akan dilakukan pukul 08.00. Dan kita berangkat pukul 07.00. Jadi bangunlah, kita harus bersiap-siap karena ini sudah pukul 06.00."Ujar Mario sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lelaki itu sudah sangat rapi dengan setelan jas yang biasa ia gunakan.


"Tuan?"panggil Mario karena Erdogan belum menyahuti ucapannya.

__ADS_1


"Eeemm. Tubuhku dingin sekali, aku tidak mau beranjak dari sini. Lebih baik kau batalkan saja pertemuan itu atau kau sendiri yang pergi sebagai perwakilan aku."Sahut Erdogan yang masih berada di bawah selimut, namun sahutan itu terdengar seperti rintihan di telinga Mario.


"Tuan, anda baik-baik saja kan?"tanya Mario dengan penuh khawatir.


"Eeeem..!"


dan hanya sahutan ini saja yang ada di balik selimut membuat Mario semakin cemas dan khawatir dengan kondisi tuannya itu.


Tanpa menunggu aba-aba lagi, Mario segera membuka selimut yang menutupi tubuh Erdogan dan ia melihat lelaki itu tengah meringkuk gemetar.


"Tuan, Anda sakit?"


"Aku kedinginan."


Mario menyentuh kening Erdogan dan dia sampai tersentak karena merasakan panas di telapak tangannya, dengan cepat Mario menghubungi dokter untuk segera meluncur ke kediaman Erdogan.


Bersambung..


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini πŸ™


Mohon dukungannya πŸ™


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini πŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2