
Selamat! Membaca 🤗
✨✨✨
Hingga malam menjelang.
Ibram masih belum menyelesaikan apa yang di tugaskan Erdogan, karena Erdogan selalu menyuruhnya untuk menyusun kembali jika buku-buku tidak tersusun sesuai keinginannya. Padahal, dari dulu ia tidak pernah perduli dengan apa yang ada di rumahnya, termasuk buku-buku yang anteng di Rak. Sepertinya Erdogan, berniat menahan Elif di sana agar tidak pergi bersama Sheryl.
Dan puluhan kali Sheryl menghubungi Ibram, namun sebanyak itu juga Ibram tidak mengangkatnya.
CKLEK.
Mario masuk, dan ia terkejut karena ada Ibram di dalam.
"Apa yang kau lakukan di sini?"tanya Mario.
"Saya sedang merapikan buku-buku ini Tuhan."Sahut Elif.
Mario semakin bingung, ternyata Erdogan menyuruh Elif datang ke ruangannya hanya untuk merapikan buku-buku. Yang sebenarnya ini bukanlah tugas dari Elif.
Lalu Mario melirik kepada Erdogan yang tengah khusyuk melihat laporan berkas-berkas yang ada di meja, padahal berkas-berkas itu sudah puluhan kali Erdogan Cek dan memeriksanya, tapi entah kenapa dia menjadi sangat teliti seperti ini, sampai berulang-ulang untuk memeriksa berkas tersebut.
Karena penasaran dan merasa ada sesuatu yang aneh dengan tuannya, Mario melangkah mendekati Erdogan dan bertanya.
"Tuan. Apa Anda kesulitan untuk memeriksa berkas-berkas tersebut?"
"Mario?"sahut Erdogan tanpa melihat karena ia masih fokus dengan apa yang ada di tangannya.
"Iya tuan?"
"Apa kau pikir selama ini saya tidak cukup mahir untuk memeriksa semua berkas yang datang di meja saya?"
"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud meragukan kehebatan Anda, karena kehebatan Anda sudah teruji kualitasnya. Saya hanya merasa Anda sangat lama sampai membutuhkan waktu berjam-jam untuk memeriksa berkas tersebut, biasanya Anda hanya memerlukan waktu beberapa menit saja."
Erdogan menutup map besar yang tengah ia baca.
"Benar juga! apa yang aku lakukan."
"Aku hanya ingin memastikan saja, jika ini sudah benar atau tidak, sudahlah lebih baik kau pergi ke ruangan mu. Apa kau tidak ingin beristirahat."
__ADS_1
Mario melirik elif.
"Sudah biarkan saja, dia masih belum menyelesaikan tugasnya. Jangan pedulikan dia. Sekarang lebih baik kau keluar dari ruangan ku."Usir Erdogan yang tidak mau diganggu keseriusannya malam ini.
"Baik, tuan. Saya permisi, jika ada kesulitan dalam berkas itu segera panggil saya."
"Eeemmm."
Sahut Erdogan sambil mengibaskan tangannya menyuruh Mario cepat enyah dari hadapannya.
Selepas kepergian Mario, kini Erdogan dan Elif kembali hanya berdua di ruangan itu.
Ternyata memeriksa berkas yang menumpuk di mejanya hanyalah alasan dari Erdogan karena mata yang sesungguhnya tengah mencuri-curi pandang pada Elif yang tengah menyusun buku di rak yang sudah puluhan kali ia ulang dan ulang.
"Kenapa ini tinggi sekali,"gumam Elif yang tangannya tak sampai meletakkan buku di rak bagian paling atas.
Lalu ia menarik sebuah kursi sebagai alat untuk ia sampai ke rak paling atas.
Dengan hati-hati, Elif mulai menaiki bangku dan menyusun kembali buku-buku di atas rak.
Sepanjang mengerjakan pekerjaan ini Elif terus saja menggerutu. Tapi ia tidak berani menampakkan raut tidak suka, kesal atau marah. Karena itu bisa jadi membuat Tuan Er tidak suka dan memotong gajinya.
Karena sudah kelelahan dan kakinya mulai bergetar, sampai membuat kursi yang menjadi pijakan Elif pun ikut bergetar.
Di saat Elif kembali menggeser sedikit kakinya, tiba-tiba kursi yang menjadi pijakannya kehilangan keseimbangan. Hingga membuatnya terguncang tidak mampu menahan beban tubuhnya, dan ia pun harus terjun dari atas kursi tersebut.
Aaaahh...!
GREB!
Sebelum tubuh kecil yang di buat berisi dengan setelan jas tebal berlapis itu menyentuh lantai, Erdogan sudah lebih dulu menangkapnya.
Ting!
Jam dinding seperti berhenti berdetak, begitu juga dengan nafas mereka berdua. Erdogan menangkap Elif dengan kedua tangannya dan membawa pengawal itu kedalam pelukannya.
Elif yang terkejut, membulatkan matanya menatap Erdogan tanpa bernafas, begitu juga dengan di Lelaki yang tengah memandangnya.
Erdogan bisa melihat dengan jelas wajah pengawalnya. Mulai dari mata, hidup, pipi, dan bibir.
__ADS_1
"Sial! ada apa ini."Umpat Erdogan dalam hatinya, karena merasakan debaran luar bisa di dadanya kala menatap sedekat ini Wajah Ibram atau Elif.
"Tidak! tidak boleh seperti ini, sadar Er, dia Ibram."
Erdogan yang kembali kesadarannya, dengan cepat melepaskan pelukannya.
Dan.
BUG!
Ibram pun benar-benar harus menyentuh lantai.
"Aaaaawwww... Sakit sekali."Rintih Elif, seraya menyentuh pinggangnya.
Sedangkan Erdogan kembali berdiri dengan gagahnya di depan Ibram dan memasang wajah tidak perduli, seraya berkata.
"Kau ini, merepotkan saja. Saya sampai harus bertindak karena kecerobohanmu?"
Ibram segera bangun,
"Maaf, maafkan saya tuan."Kata Ibram dengan menunduk secara berulang-ulang,"Apa tangan yang Anda gunakan untuk menangkap saya, sakit?"
Erdogan melirik tangannya.
"Kau pikir, saya lelaki lemah, hanya menangkap tubuh kecil seperti mu harus mencederai tangan ini?"
"Bukan seperti itu maksud saya tuan."Ibram kembali menunduk, merasa bersalah dan takut di hukum.
Sedangkan Erdogan Masih, mengontrol degup jantungnya yang tidak karuan.
"Sadar Er, kenapa kau seperti ini."
Bersambung..
✨✨✨✨✨✨
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya ya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️