
Selamat! Membaca π€
πππππ
Elif masih berdiri di tempat, ia mempertentikkan wajah Erdogan yang nampak aneh karena lelaki itu terus saja menaik turunkan nafasnya.
"Tuan Er, Anda baik-baik saja kan? apa tangan Anda cidera? saya akan memanggilkan dokter untuk Anda."
Elif sudah akan beranjak dari sana, namun dengan cepat Erdogan menghentikan langkah kakinya.
"Tidak perlu memanggil dokter atau siapapun, saya baik-baik saja. Lebih baik, kau selesaikan semua pekerjaanmu ini, susun kembali buku-buku ke tempat semula dan jangan pergi dari ruangan ini sebelum kau menyelesaikan semuanya."Titah Erdogan.
"Baik Tuan."Elif mengangguk dan mematuhi perintah Erdogan.
Dan Erdogan memilih untuk keluar dari ruangan itu.
Elif menjatuhkan dirinya di lantai selepas Erdogan benar-benar tidak terlihat lagi, tubuhnya yang merasa sakit karena jatuh lunglai karena sudah merasa lelah dan tak kuat lagi.
"Ya Tuhan! sampai kapan aku mengerjakan ini semua, sepertinya tidak akan ada habisnya karena aku terus saja mengulanginya, selama beberapa puluh kali."Gumam Elif, sambil menatap buku-buku yang berserakan di lantai.
π
Beralih kepada Erdogan. Lelaki itu memilih pergi menuju ke kamarnya, di sana Erdogan Tengah memukul-mukul pelan dadanya yang sejak tadi berdebar-debar tidak karuan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi! sadarlah Erdogan, kau tidak boleh seperti ini."
Erdogan melangkahkan kakinya menuju cermin besar yang terpajang di kamar mewah itu.
Ia menatap dirinya di depan cermin.
"Ingat Erdogan, kau ini laki-laki sejati, begitu juga dengan Ibram. Jangan berpikir macam-macam dan jangan memiliki perasaan yang aneh."Erdogan memperingatkan dirinya sendiri.
Lalu setelah itu ia mengacak-ngacak rambutnya.
"Tapi aku tidak bisa, kenapa di saat dekat dengannya dada ini selalu berdebar-debar."Erdogan menjawab dirinya sendiri.
Ia kembali mengatur nafasnya dan mencoba berfikir positif.
"Tidak terjadi apa-apa dengan hatimu Er, mungkin kau sedang mengalami gangguan kesehatan hingga membuat dadamu berdebar lebih cepat seperti ini."
Namun, ketika ia sampai di sana. Erdogan dikejutkan dengan pemandangan yang sampai membuat bola matanya melebar selebar bola basket.
"Apa-apaan ini! kenapa dia malah asik tidur di tumpukan buku!"geram Erdogan yang sudah melipat kedua tangannya di dada.
Ya, dia melihat Ibram tengah tertidur pulas, di atas tumpukan buku yang seharusnya ia susun kembali ke dalam rak.
"Bangun!"panggil Erdogan seraya mengguncang tubuh Ibram dengan kakinya (sungguh sangat tidak sopan)
__ADS_1
Namun, meskipun dia sudah melakukan itu. Ibram masih enggan untuk membuka matanya, mungkin ia terlalu lelah karena dikerjai oleh Erdogan hingga membuatnya tidur pulas di tempat yang tidak seharusnya.
"Kenapa dia sulit sekali dibangunkan, apa aku harus menggunakan cara lain untuk membangunkan pengawal ini."Kata Erdogan dengan suara kuat berharap jika Ibram mendengarnya.
Namun tetap saja, sekalipun Erdogan berteriak. Ibram masih tidak mendengar suaranya apalagi membuka mata.
Erdogan berjongkok, karena ia memilih membangunkan Ibram dengan cara yang lain.
Erdogan mengulurkan tangan ingin mengguncang kuat tubuh Ibram, namun belum sampai tangan itu ke tubuh Ibram, si pemilik tubuh sudah terlebih dahulu menangkap tangannya dan berkata.
"Apa yang ingin kau lakukan! Apa kau berniat jahat dan ingin macam-macam denganku? buang niat buruk mu itu. Apa kau tidak lihat dengan penampilanku yang gagah seperti ini! sekarang aku sehebat Ibram."
Elif mengoceh, tapi matanya masih tertutup, sepertinya ia tengah mengigau.
Erdogan tertegun, mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pengawalnya itu. Tapi ada yang paling membuat Erdogan terkejut, yaitu suara! suara Ibram nampak berbeda dari biasanya.
Bersambung...
πππ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya π€
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini π
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ