
Selamat, membaca π€
Mohon maaf, jika Author baru bisa Update kembali π
Karena ada beberapa Hal yang membuat Otor Hiatus di Novel ini π
Dan terima kasih, bagi yang sudah selalu menunggu Er dan Elif π€π€π€β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
ππππ
"Apa! sesuatu yang hangat?"Erdogan bertanya dengan membelalakkan matanya dan menatap ke arah Ibram.
Elif yang terkejut, dengan kebangkitan Erdogan yang tiba-tiba dari balik selimut, hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang Tuan.
"Sesuatu yang hangat, sepertiii...?"Erdogan kembali bertanya dengan menggantung ucapannya.
"Sepertiiiii..!"Balas Elif, yang juga menggantungkan ucapannya, karena ia tengah berfikir.
Erdogan mengangguk-anggukkan kepalanya serta menggerakkan kedua tangannya, meminta Elif untuk melanjutkan ucapannya.
"Aaa, sesuatu yang hangat seperti wedang jahe? Apa Anda suka? wedang jahe sangat baik untuk kesehatan apalagi jika Anda sedang kedinginan seperti ini."Ujar Elif dengan lantang.
Tiba-tiba Erdogan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bagaimana? Apa Tuan suka dengan wedang jahe?"tanya Elif kembali.
__ADS_1
"Ya, kau bikin saja,"sahut Erdogan dengan ketus, dan dia kembali berbaring di atas Ranjang.
'Dia kenapa, tadi bersemangat. Sekarang ketus'Batin Elif.
"Kalau begitu, saya permisi Tuan, saya akan segera kembali dan membawakan wedang jahe untuk Anda."
Erdogan mengangguk, dan setelah Elif pergi dari kamarnya dia kembali bangkit dan mendudukkan dirinya.
"Apa yang kau pikirkan Er! Sadarlah, buang jauh-jauh apa yang saat ini ada di otakmu!"Kata Erdogan Sambil mengacak-acak rambutnya.
***
"Selesai.... Tidak sia-sia aku mempelajari resep yang ibu berikan padaku, hingga sekarang aku bisa membuat wedang jahe ini, apa dengan ini aku bisa naik gaji! Aaa, semoga saja,"seru Elif, yang be berapa saat setelah dia menuangkan wedang jahe ke dalam gelas transparan dan siap dia bawa di hadapannya sang Tuan.
***
"Tuan, aku membawakan wedang jahe untuk Anda."Kata Elif, dengan mengetuk pintu yang sebenarnya pintu sudah setengah terbuka.
"Masuk!"Sahutan dari dalam.
Dan Elif alias Ibram segera melangkahkan kakinya memasuki kamar.
Erdogan masih dengan posisi duduk di sisi Ranjang. Tapi kali ini dia tidak mau lagi memikirkan apapun yang mengotori otaknya.
"Ini Tuan, sebaiknya Anda segera meminumnya. Karena wedang jahe akan lebih nikmat dan baik jika di minum dalam keadaan hangat."Ujar Elif, dan dia meletakkan nampan berisi gelas di atas meja yang letaknya persis di sisi Ranjang Erdogan.
__ADS_1
Erdogan mengagguk malas, naman ketika lirikan matanya tidak senaja tertuju pada tangan Elif, otaknya kembali bekerja.
"Kenapa tangganya begitu kecil? Seperti tangan kak Erina, kuku! Dan kenapa kukunya tidak seperti kuku lelaki pada umumnya? Apa mungkin dia rajin melakukan perawatan di kukunya! Hingga membuat kuku itu mengkilap!"
Pertanyaan demi pertanyaan berkeliaran di benak Erdogan, ketika dia melihat tangan dan kuku Ibram yang tentu saja tidak biasa, maksudnya tidak seperti tangan dan kuku seorang lelaki pada umumnya. Jika di bandingkan dengan tangannya tentu sangat jauh berbeda.
"Tuan!"panggil Ibram.
Dan Erdogan tidak menggubris panggilan Elif karena fokus dan pikirannya tengah di kuasai oleh kuku dan tangan yang lentik itu.
Elif yang tengah kebingungan dengan sikap Erdogan hanya bisa diam sambil terus memperhatikan lelaki itu.
Pandangan mata Elif tertuju ke arah pandangan mata Erdogan. Dan seketika gadis itu menarik tangannya dan menyembunyikan di belakang.
"Kenapa dia memperhatikan tanganku, apa yang dia lihat! Apa dia sedang memeriksa sesuatu?"
Bersambung...
ππππ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya π€
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini π
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ