
Selamat! Membaca π€
ππππ
Ibram yang tidak bisa menolak dan melakukan apa-apa, terpaksa mengikuti kemauan Sheryl, tapi hanya untuk sementara waktu, itu yang ada di pikiran Ibram.
Setelah membuat Ibram hampir pingsan di kantin, gadis itu menggandeng lengan Ibram menuju Lift untuk pergi ke ruangan Erdogan.
"Tinggi tubuhmu dan tubuhku tidak terlalu berbeda, sepertinya kita memang di takdirkan bersma."Kata Sheryl yang saat ini ada di Lift bersma Ibram dan ada beberapa karyawan yang lainnya juga.
Ibram tak mau banyak bicara, karena ia tengah kesal. Cukup mengulas senyum, itu yang Ibram lakukan.
"Anda tidak tahu Nona jika saya menggunakan sumpelan di sepatu, untuk menambah tinggi badan. Meskipun tidak bisa setinggi Kak Ibram dan Tuan Er."
"Aku belum mempunyai kekasih, jadi aku akan memikirkannya jika kau menawarkan diri untuk menjadi kekasih ku."
Sheryl yang bar-bar. Membuat semua karyawan yang ada di Lift takjub, begitu juga Ibram. Mana ada wanita berkata terang-terangan seperti ini.
"Bagaimana?"Sheryl bertanya sambil mengusap wajah Ibram.
"Maaf Nona, tolong jaga sikap Anda, ini di tempat umum. Dan saya juga tengah bekerja di sini."Bisik Ibram, dan menjauhkan tangan Sheryl dari wajahnya.
Ting!
Suara Lift terdengar dan itu penyelamat bagi Ibram, karena begitu pintu Lift terbuka ia langsung keluar tanpa menunggu gadis yang sudah membuatnya ingin pindah pelanet itu.
"Dia jual mahal sekali, tapi aku suka dengan tipe seperti ini."Gumam Sheryl, lalu melangkah mengikuti Ibram.
β¨β¨β¨
"Apa Johan, yang memintamu untuk datang?"tanya Erdogan, sesaat setelah Sheryl masuk dan mendudukkan dirinya di hadapan Erdogan.
"Memangnya siapa lagi."Sahut Sheryl, dan ia mengeluarkan beberapa berkas dari tas berwarna merah yang ia bawa.
"Periksa ini, dan jika kau setuju cepat tanda tangani, agar Lelaki serakah itu senang."Ujar Sheryl.
Erdogan terkekeh.
"Kenapa kau terlihat sangat membenci ayahmu tirimu itu?"
"Dia bukan ayah ku, aku sungguh tidak sudi menganggap jika dia ayahku."
__ADS_1
"Tapi, sampai sekarang kau masih sangat patuh pada pria itu, bagaimana bisa kau bilang jika kau tidak mau menganggapnya sebagai ayah."
"Karena kau tidak tau apa-apa."
"Aku tidak perlu memberi tahumu kan?"
"Tentu, karena aku juga tidak mau tau,"sahut Erdogan
Dan setelah beberapa detik mereka berdebat, Erdogan dan Mario fokus memeriksa berkas yang di bawa Sheryl.
Sementara Sheryl sendiri tengah mencuri-curi pandang pada Ibram yang berdiri di sisi pintu.
Ia mengedipkan mata, dan melakukan gerakan sensasional untuk menggoda Pengawal satu itu.
"Astaga! Aku sungguh muak melihatnya,"Ibram mengalihkan pandangan, tidak mau melihat aksi Sheryl yang di luar nurul eh nalar itu.
Mulai dari mengalihkan pandangannya, sampai memejamkan mata sudah Ibram lakukan. Berharap jika Sheryl menyerah dan tidak berusaha menggodanya lagi.
Tapi sikap Ibram malah semakin memancing Sheryl untuk melakukan aksi yang lebih panas, ia menarik perlahan Dress maroon yang ia kenakan, Dress yang hanya sepanjang lutut itu kembali Sheryl tarik agar lebih tinggi, dan memperlihatkan pahanya yang mulus seperti ubin orang kaya.
Sheryl juga melipat kedua pahanya, lalu menggoyangkan telapak kakinya.
"Ya tuhan, aku ingin sekali melempar wanita itu. Apa dia tidak sadar dengan apa yang ia lakukan! dia sini ada lelaki bagaimana jika tergoda dan melakukan hal yang tidak-tidak pada dirinya." Kesal Elif.
"Jangan kau melakukan hal yang tidak-tidak di ruanganku."Erdogan bersuara dan mengejutkan Ibram serta Sheryl.
"Kau sudah selesai, bagaimana kau setuju?"tanya Sheryl yang seperti tidak terjadi apa-apa.
"Mario yang akan mengurus semuanya."
"Baiklah!"Sheryl bangun dari duduknya, dan mendekati Erdogan lalu berbisik.
"Apa boleh aku meminjam Pengawalmu untuk satu malam saja."
Erdogan mengangkat wajahnya.
"Apa kau masih belum menyerahkan? sepertinya ia tidak menginginkan mu."
"Mana ada yang bisa menolak ku, selain dirimu, di sudah terpikat dengan pesona ku, tinggal aku memainkannya saja."
Erdogan terdiam. Biasanya ia akan mengatakan silahkan. Tapi entah kenapa kali ini Erdogan terlihat tidak ikhlas, untuk membiarkan pengawalnya pergi bersama Sheryl.
__ADS_1
Tampa menunggu persetujuan dari Erdogan, Sheryl mengayunkan kakinya untuk mendekati Ibram yang masih berdiri di tempat semula.
Gadis itu merapatkan diri di tubuh Ibram dan ia berbisik.
"Tun Er, sudah memberimu izin, aku akan mengirimkan lokasinya."
Ibram mengerutkan keningnya. Ia tentu bingung dengan apa yang di katakan Sheryl.
Mengijinkan?
Lokasinya?
Apa maksud wanita itu? pikir Elif.
Setelah selesai dengan urusannya, Sheryl pun meninggalkan kantor Erdogan dan segera pulang ke Rumah untuk memberikan berkas yang baru saja ditandatangani oleh Erdogan kepada ayah tirinya Johan.
Sementara di ruangan Erdogan, dua lelaki itu menelisik Ibram, ia menatap lelaki yang masih berdiri di ambang pintu itu dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
Ibram yang mendapat tatapan seperti itu tentu merasa risih dan ia sangat yakin ini ada hubungannya dengan apa yang dibisikan Sheryl tadi.
"Pasti wanita itu berkata yang tidak-tidak pada Tuan Er."
"Ibram!"panggil Erdogan.
"Iya Tuan?"
"Ternyata kau sama saja dengan lelaki lain, yang mudah tergoda dengan wanita seksi."Ucap Erdogan dengan nada kesal.
Mario melirik Erdogan. Erdogan tidak pernah bicara seperti itu pada Pengawalnya, di saat mereka ingin berkencan dengan gadis-gadis yang datang menggodanya dan Erdogan selalu menyuruh gadis itu agar menggoda Pengawalnya saja.
Tapi kenapa sekarang Erdogan terlihat tidak suka.
Bersambung...
β¨β¨β¨β¨
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Minta dukungannya ya π€
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini π
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ