Pengawal Untuk Tuan Er

Pengawal Untuk Tuan Er
Apa Tuan Er Cemburu?


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


✨✨✨✨✨


"Kurang! Ajar. Lepaskan, jika tidak ingin aku mematahkan tanganmu yang lancang itu."Geram Wendy.


"Hai, bagaimana bisa kau mematahkan tanganku, sedangkan tanganmu sendiri belum tentu selamat dari tanganku."Elif semakin menguatkan cengkeramannya, dan Wendy semakin meringis kesakitan.


"Apa yang kalian lakukan?"


Suara Mario, mengejutkan dua orang yang tengah berseteru itu.


Dengan cepat, Elif melepaskan tangan Wendy.


"Tuan Mario, kami tidak melakukan apapun. Benarkan, Ibram?"Wendy berpura-pura.


Mario menelisik, tentu ia tidak percaya dengan omong Wendy.


Namun ketika Ibram membenarkan perkataan Wendy, Mario jadi mempercayai.


"Apa ada yang Anda butuhkan, tuan Mario?"tanya Wendy, berharap bisa mengambil kembali hati Mario.


"Tidak, dengan mu,"sahut Mario dan tentu saja membuat Wendy geram.


Di tambah lagi ketika Mario beralih pada Ibram dan berkata.


"Ibram, tuan Er, ingin bicara denganmu, cepat datang ke ruangannya. Jangan sampai membuat beliau menunggu."


"Baik Tuan, saya akan segera ke sana."


Dengan langkah cepat, Ibram pergi menuju ruangan Erdogan.


Sementara Mario masih tetep di sana bersama Wendy.


"Wendy?"panggil Mario.


Dengan sigap Wendy menyahut.


"Iya tuan?"


"Bukankah saya menugaskan mu untuk menjaga pintu masuk?"


"Benar, tuan."


"Lalu, kenapa kau ada di sini?"


Wendy kalap, ia salah karena melalaikan tugasnya.


"Maafkan saya Tuan, tadi Ibram memanggil saya, jadi dengan terpaksa saya meninggalkan sementara tugas saya. Tapi Anda tidak perlu khawatir, saya akan segera kembali ke tempat."

__ADS_1


Wendy memang pandai berbohong dan menjadikan seseorang tumbal atas kesalahannya.


Mario hanya bisa menggeleng, ia sudah sangat tahu jika Wendy berbohong, lelaki itu selalu berbohong. Itu yang membuat Mario tidak lagi mengutus Wendy berada di sisi Erdogan.


✨✨✨✨


"Tuan, Anda memanggil saya?"tanya Ibram, yang masih berdiri di ambang pintu ruangan Erdogan.


"Masuklah!"sahutan dari dalam.


Dan Ibram dengan hati-hati melangkah masuk kedalam.


"Apa ada tugas untuk saya tuan?"


"Tentu. Kau lihat ini?"Erdogan menunjuk, buku-buku yang berantakan di rak penyimpan.


"Melihat, tuan. Lalu apa yang harus saya lakukan dengan buku-buku tersebut?"


"Kau rapihkan."


"Apa! rapihkan?"Ibram terkejut!


"Kenapa? kau tidak mau?"


Erdogan, terlihat sangat kesal saat ini.


"Mau tuan."


"Baik Tuan."


Dengan hati-hati, Ibram mengerjakan sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi tugasnya.


Di tengah-tengah ia sedang fokus menyusun semua buku, ponselnya berdering. Dan yang menghubunginya adalah Sherly.


Namun Ibram tidak tahu jika itu Sheryl, karena ia memang tidak menyimpan nomor ponsel gadis itu.


"Suara ponselmu berisik sekali, cepat angkat!"Erdogan yang terganggu.


"Baik Tuan."Tidak ingin membuat sang Tuan murka, Ibram segera mengusap tombol hijau di layar ponselnya.


"Apa Sheryl?"kejut, Ibram.


Mendengar nama Sheryl, Erdogan menajamkan telinganya.


(......)


"Maaf, Nona Sherly, saya tidak bisa, karena saya tengah melakukan tugas yang di berikan tuan Er."


(.......)

__ADS_1


"Tidak bisa Nona."


(.....)


"Tapi...!"


Tuuut Tuuut.


Sebelum Ibram menyelesaikan ucapannya, Yang di seberang sana sudah memutuskan panggilan terlebih dahulu.


"Ada apa?"tanya Erdogan.


"Ini Nona Sherly, tuan."


"Saya tau, karena kau sudah menyebutnya tadi. Yang saya tanyakan, untuk apa dia menghubungimu?"Erdogan terlihat gelisah.


"Nona Sherly, mengajak saya makan malam."


"Apa!"


Ibram terkejut, dengan reaksi berlebihan Erdogan.


"Astaga! kenapa aku bersikap berlebihan seperti ini, apa salahnya jika Ibram Pergi makan malam bersama Sheryl? itu tidak masalah bukan. Kenapa aku harus Kesal seperti ini." Gerutu Erdogan dalam hatinya.


"Tuan, Anda baik-baik saja?"tanya Ibram hati-hati.


"Tentu, apa kau akan menerima ajakannya?"


Ibram bingung.


"Saya, menyerahkan semuanya pada Anda, jika Anda mengijinkan, saya akan pergi bersama Nona Sherly."


"Bagaimana kalau saya tidak mengijinkannya?"Erdogan semakin terlihat kesal.


"Kalau begitu, saya tidak akan pergi."


"Bagus! kau memang hanya boleh patuh pada saya."Puas Erdogan, "Cepat, lanjutkan pekerjaanmu."Sambungannya.


Ibram menurut. Ia mengira, yang membuat Erdogan kesal, karena lelaki itu cemburu jika ia harus pergi bersama Sheryl.


"Mungkin tuan Er, cemburu padaku yang akan makan malam bersama Nona Sherly, padahal aku sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu. Bagaimana mungkin aku tertarik, sedangkan aku sendiri wanita. Ada-ada saja, tapi tidak salah juga tuan Er cemburu, yang ia tau aku ini lelaki." Batin Elif, sambil terkekeh di hatinya.


Bersambung..


✨✨✨✨✨


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2