Pengawal Untuk Tuan Er

Pengawal Untuk Tuan Er
Kedatangan Riko


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Permisi Tuan, Tuan Riko ada di depan, beliau ingin bertemu dengan Tuan Er,"kata Seorang pengawal pada Mario, yang tengah memeriksa berkas-berkas pekerjaannya.


"Apa kau sudah bertanya apa keperluannya datang?"


"Sudah Tuan, Tuan Riko datang untuk membawakan bubur yang di buatkan khusus oleh Nona Erina untuk tuan Er."


Mario bangun dari duduknya.


"Kau panggil Ibram, biar aku yang akan menemui Tuan Riko."


"Baik Tuan."


Mario berjalan menuju gerbang utama. Ya, beginilah cara mereka menyambut tamu yang datang, tidak perduli ia keluarga atau bukan, mereka tidak di ijinkan masuk melewati gerbang utama sebelum Mario memeriksa dengan mata kepalanya sendiri.


"Wah-wah, kau ini keterlaluan sekali Mario, apa seperti ini cara kau menyambut adik dari bos mu sendiri!"kata Riko yang masih berdiri di depan gerbang seperti Abang kurir yang menunggu pembayaran paket COD.


"Apa yang membawa Anda datang kesini selain membawakan bubur untuk Tuan Er?"tanya Mario, yang tidak memperdulikan keluhan Riko.


"Apa kau tidak menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu?"


"Tuan Er sedang istirahat, beliau tidak bisa menerima kunjungan dari siapapun."


"Sial!"umpat Riko dalam hatinya.


"Tapi, aku membawa amanat dari kak Erina, untuk melihat keadaan Erdogan jika ia baik-baik saja, Er sempat menghubungi kak Erina dan mengatakan jika ia sakit, jadi Kak Erina memintaku untuk melihat keadaan Erdogan dengan mata kepalaku sendiri jika Erdogan baik-baik saja."Jelas Riko.


"Anda tidak perlu khawatir Tuan, Tuan Er di jaga dengan sangat baik dan di obati oleh Dokter profesional yang telah melewati beberapa tes dan kelayakan, jadi tuan Er akan baik-baik saja."


"Tapi aku harus tetap melihatnya!"kesan Riko sambil mengepalkan kedua tangannya, ia serasa ingin meninju wajah Mario yang begitu angkuh di matanya.


Riko tidak menyerah, sebenarnya ia tidak perduli dengan keadaan Erdogan yang sakit atau tidak, yang ia pedulikan adalah, Erdogan harus benar-benar memakan bubur yang ia bawa.


"Jika kau tidak membiarkan aku masuk, dan memastikan Erdogan memakan bubur ini, aku akan menghubungi kak Erina dan mengatakan jika kau menghalangi tugasku,"ancam Riko.


Mario terkekeh.


"Anda seperti anak TK saja tuan, tentu ancaman seperti itu tidak akan berpengaruh pada orang dewasa seperti saya."


Riko semakin dibuat kesal dengan kelakuan Mario, jika ia tidak sedang berpura-pura menjadi Putra Erson yang baik dan sopan, sudah pasti ia akan menghajar Mario habis-habisan.


"Baiklah! Kau pikir aku bermain-main dengan ini."Riko mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan siap untuk menghubungi Erina.


Dengan ekspresi datar, Mario mendengarkan suara Erina di sebrang sana yang meminta Mario untuk mengijinkan Riko bertemu Erdogan.


"Kau dengar kan!"Kata Riko dengan puas.

__ADS_1


Mario meneliti Riko, Seolah mencari sesuatu yang bisa Mario jadikan alasan untuk mempercayai lelaki itu.


"Anda memanggil saya Tuan."


Ibram datang di waktu yang tepat.


Mario membalikkan badannya dan berkata.


"Ajak dia untuk bertemu Tuan Er, dan pastikan jika ia tidak melakukan apapun pada Tuan Er, dan kau tahukan dia harus berada di radius berapa." Mario memberi perintah, sekaligus peringatan pada Ibram.


"Baik Tuan,"Ibram mengangguk, menerima perintah dari orang kepercayaan Erdogan itu.


"Kurang ajar!"tapi Riko malah mengumpat, tapi hanya bisa ia lakukan di dalam hatinya saja.


"Apa maksudmu Mario, jangan berlebih seperti itu, aku hanya ingin mengantarkan ini, tidak akan melakukan apapun pada Erdogan."Sahut Riko, seraya mengacungkan apa yang tengah ia bawa.


Ibram menatap lekat wajah Riko, tentu ia ingat betul dengan lelaki yang kini ada di hadapannya.


"Mari Tuan, ikut saya."Kata Ibram yang bersikap seperti biasa, ia harus mengikuti Mario yang berpura-pura tidak mengetahui apa yang sudah pernah Riko lakukan pada Erdogan.


Riko memasang wajah kesal tidak bersahabat.


"Apa Anda hanya akan berdiam diri di sana Tuan? Jika ia, saya ingin menutup gerbangnya."Kata Mario, sudah akan berbalik ingin melakukan apa yang barusan ia katakan.


Riko tidak merespon, tapi ia segera melangkah mengikuti Ibram.


✨✨


"Tuan Er, Tuan Riko datang membawakan bubur yang di masak khusus oleh Nona Erina untuk Anda."


Ujar Ibram, setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali.


Lampu hijau yang terpasang di atas pintu kamar Erdogan menyala, dan itu artinya Ibram di persilahkan masuk.


CKLEK.


Pintu terbuka lebar, dan menampakkan Erdogan tengah duduk di sofa yang memiliki sandaran tinggi, ia sudah seperti seorang raja yang tengah duduk di singgasananya.


Ibram menunduk.


Tapi tidak dengan Riko, karena lelaki yang harus berperan sebagai Protagonis di depan Erdogan itu, segera menghambur ingin memeluk kakak tirinya.


Grep!


Dengan gesit, Ibram menahannya.


"Anda tidak boleh melewati radius kurang dari 2 meter, dari tuan Er."

__ADS_1


"Apa-apa ini, kau sudah seperti Mario saja."


Riko melepaskan diri dari Ibram, namun Ibram semakin kuat menahannya.


"Jika Anda tidak mau mengikuti aturan, saya bisa mengantarkan Anda keluar dari kamar tuan Er."


"Baiklah!"


Dengan gerakan kesal, dan kaki ia hentakan, Riko mundur beberapa langkah, "Kau lihat ini, ini bahkan lebih dari 5 meter."


Ibram tersenyum.


"Terima kasih atas kerja samanya Tuan."


"Lihat saja nanti, aku akan memberi pelajaran juga padamu,"batin Riko dan kata-kata itu ia tunjukkan tentu untuk Ibram.


"Ibram, ambil bubur yang di Figuran itu, dan suruh dia enyah dari sini," Suara Erdogan memberi perintah, dan Ibram siap untuk itu.


"Eh, tidak bisa seperti ini."Riko mengangkat tangannya yang menenteng rantang tinggi-tinggi, sehingga Ibram yang memiliki tinggi badan jauh lebih rendah dari Riko, kesulitan untuk menggapainya, "Kenapa kau tega mengusir adikmu ini?"


"Aku bosan melihat wajah palsu mu, dan jangan pernah mengatakan jika kau adalah adikku, aku tidak mempunyai adik. Ingat itu baik-baik."Sahut Erdogan.


"Kau kejam sekali!"


Riko mengalah, dan memberikan Rantang berisi bubur pada Ibram.


"Silahkan, Anda boleh keluar dari sini Tuan,"ujar Ibram setelah menerima apa yang harus ia terima.


"Aku ingin melihat Kakakku itu memakan buburnya, agar aku bisa memberikan laporan yang nyata pada Kak Erina,"kilah Riko.


Ibram memicingkan matanya, ia tentu tau ada niat busuk yang di rencanakan Riko dari kedatangannya ini.


"Anda tidak perlu melelahkan mata Anda untuk menyaksikan tuan Er makan, tuan Riko. Saya akan melakukan panggilan Video pada Nona Erina, sehingga beliau bisa melihat secara langsung tanpa perantara dari bola mata Anda."


Gawat! Bisa-bisanya Pengawal Erdogan berpikir seperti ini, tidak! Aku tidak boleh kalah darinya.


Itulah yang ada di pikiran Riko.


Bersambung...


✨✨✨✨


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2