
Setelah ayahnya berangkat lagi ke luar kota, ibunya semakin bertindak aneh.
Dia tiba-tiba marah-marah dan menyuruh Sintia serta Rangga memasak di dapur.
"Ibu tidak masak hari ini. Kalian masaklah...."
"Tapi Bu....kami sudah terlambat ke kampus,"
"Jika begitu, kalian nanti bisa beli saja makanan nya, ibu sedang lelah,"
Ibunya lalu naik ke lantai dua dan tidak turun-turun lagi.
Rangga dan Sintia saling berpandangan.
"Kau lihat? Tidak ada masalah dan keanehan ketika ada ayah dirumah. Tapi setelah ayah pergi, ibu mulai berubah,"
"Kau benar. Ayo kita sarapan diluar saja. Kita bisa bicara di luar,"
Sintia dan Rangga lalu naik motor berboncengan ke kampus.
Ibunya melihat dari lantai dua kamarnya dan tertawa menyeringai ketika melihat mereka pergi meninggalkan halaman rumahnya.
.
Dirumah sakit.
Ayahnya Toni sudah sadar namun belum bisa bangun. Kondisinya masih belum membaik secara total. Dia masih berbaring dan Toni setiap hari menunggunya.
"Kau harus hati-hati dengan wanita itu...." ucap ayahnya tiba-tiba pada Toni.
"Memangnya siapa?" Toni bingung wanita yang mana yang di maksud oleh ayahnya.
Ayahnya tidak meneruskan ucapannya.
Di pintu, berdiri Rangga dan Sintia.
"Masuklah....!"
Toni mempersilahkan kedua temannya untuk masuk kedalam.
"Bagaimana keadaan mu Om?"
"Lebih baik dari kemarin. Sekarang ayah sudah sadar dan bisa berbicara...." sahut Toni mewakili ayahnya.
Ayahnya mengedipkan matanya dan mengangguk setuju dengan ucapan Toni.
"Bagaimana kabarmu? Maksudku...rumah itu...."
Sintia dan Rangga menggelengkan kepalanya dengan lesu.
"Tidak disini...." jawab Rangga.
"Oke...,"
"Benar yang Rangga katakan. Jangan pikirkan kami. Kau jagalah ayahmu saja....," ucap Sintia.
.
Malam ini suasana rumah sakit lain dari biasanya. Rupanya tadi ketika Rangga dan Sintia datang , ada makhluk yang mengikutinya.
Makhluk itu hanya berhenti sampai di pintu gerbang. Dia menyeringai dan menunggu disana.
Pertarungan yang dimulai oleh ayahnya Toni belum usai sampai salah satu dari mereka tiada. Pertarungan yang dilakukan untuk mengusir roh di rumah kosong itu berbuntut panjang.
__ADS_1
Malam ini, karena ayahnya sudah lebih baik, Toni disuruh pulang agar beristirahat dengan benar oleh ayahnya.
Ayahnya seakan tahu jika ada makhluk yang mengintai dirinya. Dia seakan merasakan kehadirannya. Dan dia menyuruh Toni pulang karena tidak ingin anaknya celaka.
Tiba-tiba matanya terjaga ketika jam 12.00 malam. Dia merasakan makhluk itu sedang ada dipintu kamarnya.
Dia datang....
Namun karena dia belum sembuh total, maka dia hanya membuka matanya tanpa bangun dari tempat tidurnya.
Tiba-tiba pintu terbuka perlahan-lahan.
Kreeekkkkk!
Wanita mirip dengan ibunya Rangga dan Sintia berdiri disana.
Dia wanita itu....
Gumam Ayahnya Toni lirih. Dia berusaha mengambil telepon rumah sakit untuk menelpon suster.
Namun tiba-tiba bayangan wanita itu sudah ada didekatnya.
Dia mengambil selimut dan menutup hidungnya hingga ayahnya Toni kesulitan bernafas.
"Aaaaaaakkkkk!"
Ayahnya Toni berusaha menjerit. Suaranya tidak keluar.
"Eeeeehhhkkk!"
Nafas terakhir tersengal-sengal.
Matanya melotot dan mulutnya ternganga. Dia mati karena di cekik oleh hantu itu.
Mereka menuntut balas!
Hantu itu menghilang ketika seorang suster masuk dan melihat kondisi pasiennya yang melotot namun ternyata sudah meninggal.
Suster langsung keluar dan menghubungi Toni.
"Pak Toni, cepatlah kemari. Ayahmu meninggal...."
"Apa. Baiklah. Saya akan segera kesana!"
Toni masih tidak percaya jika ayahnya meninggal. Bagaimana mungkin?
Saat dia meninggalkan nya di sana, keadaan nya sudah membaik.
Toni sampai di pintu dan melihat ayahnya metalnya melotot dahulunya terbuka.
"Pasien sudah meninggal," ucap seorang suster pada dokter yang akan melihat keadaannya.
"Ayah......!"
Toni menangis ketika sebagian suster melepaskan selang infus dari tubuhnya.
Di pemakaman.
Rangga dan Sintia juga datang kesana. Mereka tidak menyangka jika pertemuan kemarin adalah yang terakhir kalinya.
Terlihat Toni masih terduduk menghadap gundukan tanah merah itu. Dia menabur bunga diatas makam ayahnya.
Rangga dan Sintia lalu mengulurkan tangannya pada Toni.
__ADS_1
Toni berdiri dan menatap sekali lagi makam ayahnya.
"Mari kita pulang...." ajak Rangga memeluk Toni dan menepuk pundak temannya itu dengan penuh rasa penyesalan.
Yang di pikirkan Rangga adalah dia merasa bersalah karena mengajak Toni dan ayahnya untuk bertarung mengusir para hantu di rumahnya.
Yang dipikirkan Toni, dia akan membalas perbuatan para arwah yang sudah membuat ayahnya tiada.
Padahal ayahnya ingin memperingatkannya agar tidak ikut campur dengan mahkluk di rumah kosong itu.
Namun kematian ayahnya membuat Toni sangat marah pada arwah di rumah kosong itu
"Ini bukan kematian biasa,"
Ucap Toni ketika sampai dirumahnya. Rangga dan Sintia juga ada disana menemaninya.
Ada Nisa dan Rudi juga disana. Mereka semua ingin membuat Toni merasa lebih baik dengan menginap dirumah temannya dan menghiburnya.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Nisa berbisik pada Rudi.
"Arwah itu....!"
"Aku menjadi takut...." bisiknya.
.
Keesokan harinya, Sintia dan Rangga pulang. Mereka melihat ibunya sedang ada dilantai dua melihat mereka berdua dengan tatapan aneh.
"Ibu ada diatas....," ucap Sintia lirih pada Rangga.
"Aku tahu..."
"Sebaiknya kita tidak tinggal disini lagi. Kita tinggal di rumah Toni saja..." ucap Sintia mulai takut dan cemas.
"Jangan takut. Kita akan sama-sama menghadapinya,"
"Tapi dia ibu kita. Bagaimana kita menghadapinya. Dan kenapa ibu berubah....?"
"Aku juga tidak tahu. Ayo masuk!"
Ketika mereka masuk, ibunya sudah ada di tangga. Dia tersenyum melihat Rangga dan Sintia.
"Kalian sudah pulang?"
"Iya....,"
"Kalian dari pemakaman bukan?"
Apa? Darimana ibu tahu?
Rangga dan Sintia saling berpandangan.
"Rangga bagaimana ibu bisa tahu?"
Sintia memegang erat tangan Rangga. Kakinya mulai gemetar.
"Ibu sudah memasak. Hari ini ibu masak daging. Makanlah!"
"Ayo makan!"
Rangga dan Sintia lalu berjalan ke meja makan.
Dan saat membuka tudung saji, mereka terkejut melihat isinya.
__ADS_1
Jika mereka tidak datang, Toni akan sendirian malam ini.