Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 9 Sikapnya aneh


__ADS_3

Mereka berdua terkejut ketika melihat ayahnya sudah masuk kedalam rumah itu.


Mereka berdiri di pagar rumah dan saling berpandangan.


"Ayo kita masuk kedalam....!"


"Iya....."


Dan mereka berdua terkejut saat melihat apa yang terjadi.


"Bagaimana bisa?!" Rangga menatap apa yang sedang dilakukan ayahnya dan ibunya.


"Ya. Bagaimana ini mungkin!?" Sintia juga terkejut melihat ayah dan ibunya didalam.


"Apakah kita bermimpi?" Rangga bergumam.


"Apakah itu hayalan kita!?" Sintia juga.


"Nafasku masih terengah-engah karena berlari. Aku hampir mati!" Rangga menggeleng kan kepalanya.


"Kau benar Rangga! Ini tidak mungkin. Siapa wanita yang mirip ibu tadi?"


"Hai....itu Rangga dan Sintia. Kenapa kalian dari luar? Apa yang kalian lakukan diluar malam-malam begini?"


"Itu.....," Rangga dan Sintia menatap wajah ibunya yang sedang mengelap meja karena kopinya tumpah.


"Benar kata ayahmu. Apa yang kalian lakukan diluar malam-malam begini?" ucap Ibunya seakan tidak terjadi apapun dengannya.


"......." Rangga dan Sintia melongo saling bertatapan.


"Oh ya. Kalian tadi menelpon ayah. Ayah tidak mendengarnya begitu jelas. Tapi ayah bisa menangkap suara panik kalian. Karena itu ayah pulang,"


"Jadi kalian yang menelpon ayahmu?!" Ibunya menoleh pada Sintia dan Rangga yang masih berdiri terpaku dipintu.


"Iya. Kami menelpon ayah...."


"Untuk apa?" Ibunya bertanya dengan bingung.


"Kami ke atas dulu....."


Sintia berlari ke atas di susul oleh Rangga.


"Rangga, kamarmu!"


Pintunya masih berdiri seperti semula. Tidak ada yang rusak. Padahal tadi ibunya jelas-jelas memukulnya dengan kapak. Dan kedua engsel itu jatuh lalu, pintu itu ambruk.


"Ini......"


Rangga dan Sintia saling berpandangan dan memegang pintu itu. Mereka mencari bekas pukulan kapak. Tapi tidak menemukan nya.


"Bagaimana kita ceritakan apa yang terjadi dengan ayah? Tidak ada buktinya," ucap Sintia.


"Kau benar. Jika tidak ada bukti, apa yang kita alami tadi hanya di sebut mimpi," imbuh Rangga.


"Aku tak percaya ini! Aku tidak percaya makhluk itu! Tapi ini benar-benar terjadi. Lalu bekasnya....dimana pintu yang rusak itu?"

__ADS_1


Rangga lalu membuka pintu itu dan masuk kedalam.


"Lihat lemarinya....."


Sintia menunjuk pada lemari yang tadi dia geser.


"Sama! Tanpa bekas pahatan!" Rangga nampak putus asa.


"Kasihan ayah... jauh-jauh datang dan kita tidak bisa membuktikan apapun...."


"Benar. Jika ayah percaya pada kita maka kita bisa pergi dari rumah ini. Ayah akan mencari rumah yang baru untuk kita...."


"Kau benar...."


Mereka berdua terduduk dengan lesu dan letih di pinggir ranjang milik Rangga.


Sreeekkkk!


Mereka berdua kaget dan menoleh ke arah suara itu.


"Ibu......!"


Rangga dan Sintia menatap matanya dengan penuh kewaspadaan.


"Ini minuman untuk kalian. Kalian pasti lelah bukan?"


"Iya..... terimakasih....!"


Untuk pertama kalinya Rangga dan Sintia merasa asing pada ibunya sendiri.


"Aku sangat haus...." ucap Sintia.


"Kau duluan...."


"Apa maksudmu....?!"


"Aku takut meminumnya..."


"Huh..baiklah!"


Rangga mengangkat gelas berisi minuman dan langsung menenggak nya.


"Hehe....tidak terjadi apa-apa kan?"


Celotehnya dan menggoyangkannya kepalanya.


.


Hari ini, ayahnya bangun lebih awal dan dia meraba tempat tidurnya.


"Ratih....."


Istrinya tidak ada di sampingnya.


"Kau dimana?"

__ADS_1


Pak Karya melihat jam di tangannya. Jam 3.30 pagi.


Pak Karya lalu bangkit dan turun ke bawah lalu menuju ke dapur.


"Ratih......" Panggilnya.


Rangga dan Sintia mendengar suara ayahnya yang memanggil ibunya.


Rangga membuka pintu bersamaan dengan Sintia. Mereka langsung turun ke bawah untuk melihat apa yang terjadi.


"Ayah.....kau sudah bangun?"


"Aku mencari ibumu. Kalian melihatnya? Aku pikir ibumu memasak, tapi ternyata di dapur tidak ada,"


Sintia menatap Rangga dan mengerutkan keningnya.


"Rangga. Ayo kita cari ibu....."


Sintia dan Rangga akan keluar tapi tiba-tiba terdengar suara pintu gerbang yang terbuka.


"Kalian sedang apa?"


Tiba-tiba ibunya muncul di pintu dan membuat Rangga serta Sintia kaget.


"Ibu....kau darimana? Diluar masih gelap...."


Sintia menatap ibunya dengan bingung. Diluar sangat gelap. Benar-benar sangat gelap.


Tidak ada lampu jalanan, karena kanan kiri ladang. Hanya lampu rumah mereka yang menyala dan sedikit memberikan penerangan bagi orang yang lewat.


"Aku.....aku...akan kepasar..."


"Dimana sayuran yang kau beli?"


Sintia menatap kedua tangan ibunya yang kosong.


"Ehm, karena gelap, aku kembali,"


"Ibu....di kulkas masih ada sayuran. Kenapa harus kepasar saat masih gelap seperti ini. Sangat berbahaya jika bertemu dengan perampok dijalan...."


Sintia memperingatkan ibunya.


"Iya..."


Ibunya lalu berjalan masuk melewati Sintia dan Rangga.


"Rangga, apakah kau merasa ada yang aneh dengan ibu?"


"Ya. Aku merasakan nya...."


"Tutup pintunya.....!"


Mereka lalu masuk kedalam. Dan ibunya tidak kedapur, melainkan langsung ke kamarnya.


Sintia semakin cemas dengan sikap aneh ibunya.

__ADS_1


__ADS_2