Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 7 Kerasukan


__ADS_3

Di kampus, Rangga dan Toni juga Sintia, Nisa dan Rudi mulai membuat siasat untuk mengusir hantu itu.


"Apakah mereka menolak pergi dari rumahku?" tanya Sintia pada Toni.


"Ya. Mereka tidak mau pergi. Mereka dan teman-temannya sudah seperti membuat kerajaan hantu di rumah kosong itu,"


"Lalu kami harus bagaimana? Ayah sudah membeli rumah itu. Dan kami tidak mungkin berdampingan dengan mereka. Kita akan saling terganggu satu sama lainnya. Mereka terus membuat aku tidak bisa tidur dengan nyaman," ucap Sintia.


Nampak Nisa dan Rudi prihatin dengan apa yang di alami Sintia teman barunya itu.


"Iya Toni. Kau harus melakukan sesuatu. Mereka tidak mungkin membeli rumah baru itu. Dan ayahnya tidak percaya hal gaib semacam itu. Dan hantu itu juga hanya menganggu mereka berdua saja sasarannya,"


Nisa bicara dengan trenyuh akan apa yang di alami sahabat nya.


"Usir mereka secepatnya. Aku tidak bisa tenang di rumah sendirian siang atau malam. Dan saat aku akan tidur, aku juga khawatir mereka memindahkan aku seperti yang pernah terjadi. Bagaimana aku bisa ada diluar rumah? Itu tidak masuk akan bukan?" Sintia benar-benar berharap Toni dan ayahnya bisa melakukannya.


"Ya. Yang mereka lakukan sudah kelewatan. Itu bisa mengancam jiwa Sintia!"


"Baiklah. Nanti aku akan bicara dengan ayahku. Kami berdua akan mengusir hantu itu,"


.


Malam ini sang ibu sudah masuk kamar dan beristirahat.


Toni dan ayahnya datang saat jam 11 malam. Sintia dan Rangga membukakan pintu untuk mereka.


"Kita lakukan dikamar Sintia," ucap Rangga.


Awalnya aku tidak percaya. Tapi aku mengalami kejadian aneh. Sekarang aku pun harus percaya pada makhluk halus itu. Mereka ada dirumah ini.


Batin Rangga ketika naik tangga bersama Toni dan ayahnya.


Ayahnya lalu mulai duduk dan mempersiapkan kemenyan dan juga sebuah boneka jalangkung.


Mereka akan memanggil pemimpin hantu itu. Mereka harus bernegosiasi, jika tidak maka tidak akan mendapatkan kesepakatan.


Terlihat ayahnya Toni mulai memejamkan matanya dan membaca mantra.


Boneka itu mulai bergetar seakan ruh sudah masuk kedalamnya.


"Siapa kalian?" suara itu membuat Sintia dan Rangga saling berpegangan tangan karena ketakutan.


"Temanku membeli rumah ini. Dan mereka kini tinggal disini,"


"Aku pemimpin para hantu dirumah ini. Dan mereka sudah membuat kami tidak tenang!" Arwah itu terlihat marah.


Mereka berdua terus berbicara dan seperti nya arwah itu tetap pada pendiriannya. Mereka tidak mau pergi dari rumah itu.


Akhirnya karena tidak bisa diselesaikan dengan bicara, mereka saling beradu kekuatan.


Dan.....


Duaarrrrr!

__ADS_1


Boneka itu meledak. Keluar api dari boneka itu dan membakar tirai.


"Kebakaran!" teriak Sintia.


"Padamkan apinya!"


Ayahnya Toni terpental dan keluar darah dari mulutnya.


"Ayaaahhhh!"


Ayahnya tidak sadarkan diri.


"Kita harus membawa ayah kerumah sakit!"


Toni terlihat sangat panik. Dan syukur lah disaat yang sama api itu padam karena di siram air oleh Rangga dengan cepat.


Mereka bertiga lalu membawa ayahnya kerumah sakit.


"Ambulans datang!" Sintia membuka pintu gerbang.


Hal itu membuat Bu Ratih terbangun.


"Ada apa? Kenapa ada ambulan?"


Bu Ratih lalu turun dan melihat anaknya masuk kedalam mobil itu.


"Rangga! Sintia!"


Bu Ratih menghela nafas dalam dan menutup gerbang rumahnya.


Bu Ratih lalu naik ke atas dan melihat tirai yang terbakar.


Dia juga melihat kamar yang berantakan, diapun membereskan kamar itu dan setelah itu kembali tidur lagi.


Dirumah sakit.


Dokter merawat ayahnya Toni.


Toni, Rangga dan Sintia menunggu diluar.


"Aku sangat cemas. Ayah...dia mengalami luka yang serius...."


"Aku berharap semoga ayahmu baik-baik saja,"


Toni diam saja dan hanya memikirkan ayahnya.


.


Rangga dan Sintia pulang karena mengkhawatirkan ibunya. Dan Toni sendirian dirumah sakit menunggu ayahnya yang masih belum sadar juga.


"Bu......!" teriak Rangga dan Sintia dari pintu gerbang.


Sepi sekali....

__ADS_1


"Tidak di kunci....!"ucap Sintia.


"Mungkin ibu masih tidur....."


Mereka berdua lalu masuk dan duduk diruang tamu.


"Rangga.... bagaimana jika terjadi apa-apa dengan ayahnya Toni. Apa yang harus kita lakukan?" Sintia terlihat cemas setelah melihat keadaan ayahnya Toni yang terluka parah.


"Itu resiko dari pekerjaan yang mereka lakukan?"


"Tapi...."


"Sudahlah. Ayo kita tidur....."


Tiba-tiba, ibunya sudah berdiri di tangga dengan memegang kapak.


Ibunya menatap mereka berdua dengan mata berkilat.


"Bu.....mau kemana? Ibu belum tidur?"


Tanya Sintia ketika melihat ibunya berjalan ke arah mereka.


Ibunya tidak menyahut dan rambutnya tergerai acak-acakan.


Tanpa berbicara, Ibunya terus berjalan mendekati Sintia dan mengayunkan kapak itu padanya.


"Sintia! Awas!"


Teriak Rangga dan menarik adiknya menjauh dari hadapan ibunya.


"Dia bukan ibu kita. Lihat matanya!" Teriak Rangga mengagetkan Sintia.


"Ibu.....apa yang terjadi denganmu. Aku anakmu....Sintia...." Sintia tidak percaya pada apa yang di ucapkan Rangga.


"Sintia! Jangan mendekat!"


Ibunya terlihat menggelengkan kepalanya perlahan tanpa ekspresi.


Wajahnya datar dan pucat. Sintia mendekati ibunya dan ingin mengambil kapak itu dari tangan ibunya.


Ibunya mengayunkan kapak dengan sekuat tenaga ke arah Sintia!


"Sintia awas!"


Lagi-lagi Rangga menarik tubuh Sintia menjauh dari ibunya yang berdiri dengan kapak di tangan nya.


"Ibu....aku Sintia. Anakmu....!"


"Percuma Sintia! Ada roh didalamnya...."


"Ayo lari ke kamar!"


Rangga menarik Sintia ke kamarnya.

__ADS_1


Dan ibunya dengan mata berkilat dan ekspresi datar mengikuti mereka dari belakang.


Dia berjalan dengan kapak yang siap untuk menebas kepala orang.


__ADS_2