Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 12 Berunding


__ADS_3

Pak Karya baru saja pulang dari luar kota. Istrinya Bu Ratih menyambut kedatangannya dengan menyiapkan makanan kesukaan suaminya.


Hari ini Rangga dan Sintia merasa jika roh yang mengganggu ibunya sudah pergi dari tubuhnya. Buktinya, ibunya mulai terlihat normal dan memasak masakan kesukaan ayahnya.


"Kenapa kalian menatap ibu seperti itu?" tanya ibunya ketika kedua anaknya menatapnya dengan aneh.


"Tidak papa Bu. Kami hanya kangen dengan ibu...."


Sintia tidak bisa menahan kerinduan nya pada ibunya yang selama ini telah dirasuki arwah dari rumah itu.


Ibunya kaget ketika Sintia memeluknya seakan mereka terpisah selama ini.


Sintia lalu memeluk ibunya dan tidak merasa takut lagi. Hari ini ibunya bersikap normal seperti sebelumnya. Tatapannya juga lembut dan meneduhkan.


Pak Karya tersenyum dan senang karena tidak ada keluhan lagi dari anak-anaknya soal rumah itu.


"Bagaimana? Kalian mulai betah tinggal disini?" tanya ayahnya menatap kedua anaknya.


"Ada yang ingin kami bicarakan,"


Tapi Rangga tidak bisa mengatakannya jika ada ibunya disana.


Rangga lalu menyuruh Sintia untuk mengajak ibunya pergi jalan-jalan keluar sehingga tidak mendengarkan cerita yang akan Rangga sampaikan.


"Bu...temani aku kepasar. Ada temanku berulang tahun. Aku ingin membeli sesuatu untuknya," ucap Sintia berbohong.


"Baiklah...."


Setelah Sintia dan Ibunya keluar, Rangga mulai menceritakan apa saja yang dia dan Sintia alami ketika ayahnya pergi ke luar kota.


"Ibu berubah dan seperti kerasukan. Ibu membawa kapak dan akan membunuh kami. Pintu itu dirusak, namun anehnya saat ayah datang, ibu menjadi normal kembali,"


"Sebenarnya cerita kalian ini tidak masuk akal. Tapi baiklah. Ayah akan mencari tahu kebenarannya,"


"Percayalah pada kami. Kami tidak mau ada korban lagi. Ayahnya Toni meninggal karena melawan arwah dirumah ini. Dan jika kita masih tinggal disini. Kita bisa celaka karena mereka akan membunuh kita juga,"


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, dan ternyata itu para warga. Ada sepuluh warga yang datang untuk menemui pak Karya.

__ADS_1


tok tok tok!


"Silahkan masuk bapak-bapak!"


Pak Karya mempersilahkan para warga yang datang dengan ramah. Mereka semua di persilahkan duduk dan salah satu dari tamunya mulai berbicara alasan mereka datang kemari.


"Begini pak Karya. Saya mewakili para warga di kampung sini ingin mengatakan sesuatu,"


"Ohh iya. silahkan...."


"Jadi begini pak. Akhir-akhir ini di kampung kita ada gangguan dari arwah. Dan mereka terus mengganggu para warga ketika malam hari. Sebelumnya ketika rumah ini masih kosong, Tidak ada masalah seperti itu. Tapi sejak bapak menghuni rumah kosong ini, para arwah menjadi gentayangan dan mengganggu para warga," ucap salah seorang pemimpin dari mereka.


Pak Karya terkejut namun selanjutnya tersenyum.


"Baik. Saya terima keluhannya. Tapi saya tidak mengerti dengan yang bapak maksud kan. Apa hubungannya para arwah dengan pindahnya kami kerumah ini?"


"Tentu saja ada pak,"


"Jadi maksud bapak bagaimana?"


"Apa? Bapak ini bercanda. Saya sudah beli rumah ini. Sekarang kalau maunya bapak-bapak semua agar rumah ini dikosongkan. Lah terus saya mau tinggal dimana?"


"Kalau begitu, bapak harus memindahkan semua arwah disini ketempat lain. Itu perlu pak, agar mereka tidak gentayangan dan mengganggu para warga,"


Pak Karya nampak diam dan berfikir sejenak. Dalam hati sebenarnya tidak yakin dengan keberadaan para arwah itu. Namun karena desakan para warga maka dia membuat keputusan.


"Baiklah bapak-bapak, sebenarnya saya sendiri tidak yakin dengan semua itu, tapi karena kalian ingin agar saya memanggil orang pintar. Baiklah, akan saya lakukan...."


"Terimakasih pak, atas pengertiannya. Kalau begitu kami permisi," Para warga itu lalu pamit dan kembali kerumahnya masing-masing.


Nampak Rangga setuju dengan apa yang para warga usulkan pada ayahnya.


"Rangga.... bagaimana menurutmu nak?"


"Saya setuju pak dengan usul para warga itu. Jika mereka gentayangan dan mengganggu para warga, tentu akan meresahkan,"


"Japan kita akan mencari orang pintar untuk mengusir para arwah?"

__ADS_1


"Besok pak...."


.


Sudah jam 18.00 tapi Sintia dan ibunya tidak kunjung pulang. Hal itu membuat Rangga sangat cemas.


Dia mengkhawatirkan keselamatan Sintia karena ibunya kadang mudah kerasukan roh jahat.


"Yah....apa sebaiknya kita menyusul Sintia dan ibu? Mereka sudah pergi sejak tadi tapi belum pulang,"


"Kenapa kamu terlihat cemas begitu Rangga. Sintia pergi bersama ibumu. Kau tidak perlu cemas,"


"Justru karena dia pergi dengan Ibu makanya saya cemas,"


"Jangan cemas Rangga. Mereka akan segera datang...."


Rangga mondar-mandir dan saat ini satu jam sudah berlalu. Sekarang pukul 19.00 dan ibunya serta Sintia belum juga terlihat.


"Aku akan menyusul mereka. Hatiku mengatakan jika Sintia sedang terkena masalah,"


"Ayah akan menunggu dirumah. Jika mereka kembali ayah akan mengabarimu...."


"Baiklah...."


Rangga lalu mengambil handphone nya dan berangkat menyusul Sintia. Rangga menyusuri jalanan yang semakin gelap karena matahari sudah terbenam.


Di pedesaan jika sudah lewat Maghrib maka sudah sangat sepi. Jalanan juga gelap dan jumlah lampu yang menerangi ya hanya sedikit.


Sebenarnya Rangga merasa takut, namun dia mengumpulkan keberaniannya demi menyelamatkan Sintia.


Kini Rangga sudah sampai di pasar. Namun pasar itu sudah gelap. Hanya pertokoan di pinggir jalan yang masih buka.


Gerbang di luar pasar sudah di tutup. Artinya sudah tidak ada satu tokopun yang buka didalamnya.


"Tadi aku sudah lewat jalan itu. Sekarang aku harus lewat hutan. Mungkin mereka melewati jalan di hutan itu. Ck, sebenarnya aku belum pernah lewat sana. Tapi bagaimana jika Sintia tersesat disana?"


Disana pasti sangat gelap. Tidak akan ada warga yang mau lewat jalan itu. Kecuali jalan disini sedang di tutup.

__ADS_1


__ADS_2