Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 15 Polisi ke rumah kosong


__ADS_3

Para Arwah masih berpesta dan mengundang semua kawanannya untuk memenuhi rumah kosong itu. Suara tabuh-tabuhan gendang bahkan kadang terdengar hingga ke rumah warga.


Tapi mereka sudah tidak terkejut atau heran. Mereka tahu suara itu berasal dari rumah kosong itu. Hanya saja saat ini beberapa warga tidak berani melewati rumah kosong itu karena aksi para arwah yang sebagian brutal.


Mereka khawatir akan di celakai seperti yang terjadi dengan Bu Ratih.


Dua Polisi dan dua orang pintar datang ke rumah kosong itu. Dalam sekejap suara tabuh-tabuhan itu berhenti. Mereka seakan menyadari jika ada yang akan mengusik keberadaan nya.


"Mereka memenuhi seluruh rumah ini. Dari atap hingga ke ruang bawah tanah," ucap salah seorang pintar ketika akan masuk kedalam rumah itu.


"Mereka menatap kita dan menyadari kedatangan kita. Tetaplah hati-hati,"


"Kita tidak punya masalah dengan mereka. Ini menyangkut kasus anaknya pak Karya. Saksi mengatakan hal yang tidak masuk akal. Karena itu aku harus membuktikannya,"


Ujar seorang polisi dan mempersiapkan pistolnya.


Mereka berempat akan masuk kedalam rumah itu, namun tiba-tiba sebuah kursi melayang ke arah mereka.


Kedatangan mereka tidak di sukai oleh para arwah. Apalagi saat ini mereka tengah berpesta dan kedatangan manusia di anggap mengganggu.


"Aku melihat mereka menatap kita dengan amarah. Mereka akan menyerang kita,"


Dan benar saja, tiba-tiba sebuah lampu gantung jatuh tepat diatas kepala salah seorang anggota polisi dan masuk keruang tamu.


Crassshhh!


Pyaaaaaarrrr!

__ADS_1


Kepalanya berdarah. Untunglah dia cepat menghindar meskipun terlambat.


Teman-temannya menolongnya dan menyingkirkan serpihan lampu gantung itu.


"Kau berdarah! Ayo ke mobil," Temannya yang sesama anggota polisi memapahnya keluar dan mereka akan menunggu dua orang pintar itu dari mobil.


Namun ternyata pintu mobilnya tidak bisa dibuka. Dan tiba-tiba saja ada bola api yang terbang ke arah mereka.


Dan setelah dekat, terlihat gigi menyeringai dengan wajah yang menyeramkan.


"Ayo kita pergi dari sini!"


Salah satu polisi itu berteriak pada dua orang pintar yang sedang berada didalam.


Tidak lama kemudian, dua orang pintar itu keluar dengan beberapa luka di wajahnya.


"Mereka menyerang jamin Jumlahnya sangat banyak. Sulit melawan mereka,"


"Kalau begitu, ati masuk ke mobil. Kita kembali ke kantor!"


Dia polisi dan dua paranormal itu kembali ke kantor. Kini mereka percaya setelah membuktikan sendiri jika rumah yang ditempati Pak Karya itu penuh dengan makhluk halus.


"Rumah apa kuburan!?"


Celetuk salah seorang dari mereka.


"Aku awalnya tidak percaya tapi kesaksian warga itu benar adanya,"

__ADS_1


.


Keesokan harinya, Rangga di bebaskan dari kantor polisi. Dan ayahnya pak Karya mengajaknya untuk melihat keadaan ibunya.


Rangga memeluk ayahnya dan meminta maaf karena menyebabkan ibunya celaka.


"Itu salahku! Aku harusnya tidak menabrak ibu. Aku panik. Melihat dia akan menikam Sintia dengan pisau. Aku lalu menabraknya,"


Rangga mengusap airmata penyesalan nya. Dia benar-benar tidak bermaksud mencelakai ibunya. Sesaat dia lupa jika arwah itu menggunakan raga ibunya untuk menyakiti Sintia. Saat itu dia tidak berfikir dengan jernih.


"Sudah nak, jangan disesali. Sekarang ayah percaya jika arwah itu ada. Polisi itu mengatakan mereka sedang berkumpul dirumah kita. Mereka memang ada disana,"


"Lalu...kita akan pulang kemana?" tanya Rangga.


"Kita akan menginap di hotel untuk sementara. Dan ayah besok akan menemui teman ayah itu dan meminta rumah yang lainnya,"


"Baiklah....."


Ibunya masih terbaring tidak sadarkan diri. Dokter sudah mengobatinya namun dia mengalami koma.


Dan Sintia setiap hari menunggunya dengan sedih melihat keadaannya.


Rangga memeluk Sintia. Merasakan kesedihan yang sama seperti yang dirasakan adiknya. Mereka terlambat untuk bertindak dan sekarang ibunya menjadi seperti ini.


"Ini salah ayah. Sintia sudah memperingatkan tapi ayah tidak percaya padanya,"


"Ayah...jangan berkata begitu. Ini bukan salahmu. Kau memang tidak melihat dan merasakan keberadaan para arwah itu. Aku ditakdirkan untuk bisa melihat dan merasakan kehadiran mereka,"

__ADS_1


"Kita masih bisa memperbaiki semua ini,"


__ADS_2