
"Kami tidak lapar...." ucap Sintia begitu juga Rangga.
"Ayo Rangga, kita ke atas..."
Rangga dan Sintia tidak berselera makan ketika melihat hidangan yang disajikan ibunya.
Hidangan itu membuat mereka berdua ingin muntah karena mual.
Kuahnya berbau darah dan dagingnya seperti daging manusia.
Huek! huek! huek!
Rangga muntah di wastafel. Sintia juga sama.
Mereka berdua lalu merebahkan diri diatas kasur milik Rangga.
Mereka menatap langit-langit kamar.
"Sebaiknya kita tidak kesini lagi Rangga!"
"Ini sudah malam. Kita akan kemana?"
"Kita harus bicara dengan ayah. Ayah harus tahu apa yang terjadi,"
"Bagaimana mengatakannya? Dia berubah ketika ayah pulang. Dia menjadi seperti ini ketika ayah pergi,"
"Kita harus menemui orang pintar!"
"Maksudmu? Agar berakhir seperti ayahnya Toni?"
"Rangga kita bisa mencari guru yang lebih hebat darinya. Kita membutuhkan bantuan....!"
"Baiklah. Besok kita mencarinya..."
.
Keesokan paginya, Rangga dan Sintia pagi-pagi sekali sudah bersiap. Ibunya belum bangun. Dan mereka mengendap-endap keluar agar tidak membangunkannya.
Mereka berjalan perlahan-lahan tanpa suara.
"Pelan-pelan Rangga...."
"Aku tahu...."
Mereka menuruni tangga.
"Apakah ibu sudah bangun?"
"Sepertinya belum..." jawab Sintia.
Mereka melewati ruang tamu yang gelap.
Kreeekkk.
Mereka membuka pintu perlahan-lahan. Setelah keluar, mereka menutupnya perlahan-lahan kembali.
Sintia cepat naik ke motor dan berboncengan dengan Rangga meninggalkan rumah itu untuk mencari bantuan.
Tiba-tiba saat melewati jembatan, mereka melihat dari kejauhan ibunya berjalan dari pasar ke arah mereka.
"Itu ibu. Dia dari pasar. Ayo putar balik! Sebelum ibu melihat kita!"
Rangga lalu memutar balik motornya dan melewati jalan lain.
Ibunya memicingkan matanya saat melihat motor itu putar balik.
__ADS_1
"Sintia! Apakah dia mengikuti kita?" Tanya Rangga sambil menyetir.
"Sepertinya tidak!"
"Jam berapa sekarang?"
"Jam 03.30....!"
"Kenapa ibu berada diluar tengah malam begini?"
"Aku juga tidak tahu. aku pikir ibu masih tidur dikamarnya,"
"Ada yang tidak beres!"
"Kita kerumah Nisa dulu...." usul Sintia.
Mereka lalu berhenti dirumah Nisa.
Pintu rumah Bisa terbuka di jam segini dan itu membuat Rangga dan Sintia terkejut.
"Pintunya terbuka. Ini masih sangat pagi,"
"Ya. Kau benar. Ayo kita masuk!"
Disana mereka melihat Nisa pingsan diruang tamu dan semua barang terlihat berantakan.
"Apa yang terjadi?" Rangga lalu mengangkat Nisa dan membaringkannya di sofa.
"Ambilkan sedikit air!"
Sintia segera ke dapur untuk mengambil air.
Rangga memercikkan sedikit air ke wajah Nisa.
Perlahan-lahan Nisa membuka matanya
"Nisa. Ini kami...Rangga dan Sintia!"
Nisa lalu memeluk Sintia.
"Aku takut. Hantu itu ingin membunuhku...."
Sintia dan Rangga saling bertatapan.
"Apa....?!"
Nisa lalu menceritakan jika hantu itu menyerupai wajah ibu mereka.
"Sebaiknya kita pergi ke orang pintar. Ini sudah tidak bisa dibiarkan!"
"Kau benar. Jika itu bukan ibu kita, lalu dimana ibu?"
Sintia mulai menangis karena mencemaskan ibunya.
.
Rangga, Sintia, Rudi dan Nisa menemui seorang wanita yang sudah berusia seratus tahun.
Wanita itu masih bisa berjalan meskipun dengan menggunakan tongkat. Menurut beberapa warga, Ni Sumbi bisa melihat dan bicara juga mengusir arwah.
"Ni....maksud kedatangan kami karena kami ....."
"Aku sudah tahu cu....."
"Jadi Ni Sumbi sudah tahu?"
__ADS_1
"Aku tahu maksud kedatangan kalian. Kalian di ganggu oleh penghuni rumah kosong itu bukan?"
"Benar Ni..."
Baiklah. Aku akan bersemedi dulu.
Ni Sumbi lalu memejamkan matanya dan mulutnya mengucapkan mantra.
Tidak lama kemudian dia membuka matanya dan menatap para tamunya.
"Mereka sangat banyak jumlahnya. Sulit mengusir mereka semua. Aku sendiri rasanya tidak mampu melakukan hal itu," ucap Ni Sumbi pada para tamunya.
"Lalu apa yang harus kami lakukan Ni?"
"Rumah itu sudah terlalu lama kosong. Banyak sekali makhluk yang berkumpul disana. Dari yang meninggal karena kecelakaan, bunuh diri dan ada yang karena melahirkan. Mereka semua sangatlah kuat. Melawan mereka semua malah bisa tiada,"
"Jadi Ni Sumbi tidak bisa membantu kami?" tanya Sintia.
Ni Sumbi menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kami permisi Ni. Nanti kami akan datang lagi...."
Rangga dan teman-temannya pulang dengan tangan kosong. Padahal mereka sudah melakukan perjalanan yang jauh untuk bertemu dengan Ni Sumbi. Namun jika orang sehebat Ni Sumbi tidak mampu mengusir arwah di rumah itu, lalu siapa yang bisa membantu mereka.
"Apa yang harus kita lakukan Rangga?"
"Kita harus menemui ayah. Kita akan menjelaskan padanya sebelum salah satu dari kita tiada,"
"Tapi ayah sedang di luar kota,"
"Besok ayah pulang. Barusan mengirim pesan,"
.
Sementara itu, dikampung para warga mulai resah. Mereka bergosip jika sejak rumah kosong itu di huni, para hantu justru berkeliaran di rumah para warga.
Kemarin pak Bani melihat pocong ketika akan berangkat ke sawah jam 3.30 pagi. Pak Bani terpaksa pergi kesawah saat dini hari karena saat jam 7 pagi dia harus bekerja menjadi kuli bangunan.
Jika tidak ke sawah dini hari maka sawahnya tidak terurus.
Lalu Bu Roslan, dia di kejar hantu kuntilanak ketika pulang dari pasar.
Dia biasa ke pasar jam 12.00 malam dan pulang jam 3 pagi. Dia berjualan sayur saat malam hari pada para pedagang dan pulang sebelum subuh untuk mengurus anaknya yang akan berangkat sekolah.
Namun saat melewati rumah kosong itu, dia di kejar oleh kuntilanak hingga dia pingsan dan saat mendengarkan suara adzan subuh, diapun di bangunkan oleh orang yang lewat.
Tidak hanya mereka berdua saja, sekarang Joni juga tidak berani ke ladang untuk mengambil bambu yang sudah di tebang, untuk di jual dini hari, karena dia di temui pocong dan juga gendruwo yang menggangunya.
Kini setelah sholat isya selesai para warga berkumpul dirumah pak Bayan.
"Ini tidak bisa di biarkan pak. Sejak orang kota itu menempati rumah kosong, hantu disana mulai mengganggu para warga,"
"Ya benar, aku yakin para arwah yang tinggal disana marah lalu bergentayangan ke mana-mana. Jika terus di biarkan maka kita yang akan kena dampaknya. Kami yang sering pergi saat malam hari untuk mencari nafkah, menjadi terganggu,"
"Kita harus mendatangi pemilik rumah itu,"
"Ya. kita harus membicarakan masalah ini pada mereka. Aku dengar besok pak Karya dayang dari luar kota. Kita akan bicara dengannya,"
"Aku setuju denganmu,"
Mereka sepakat untuk menemui pak Karya besok siang.
Mereka akan mengeluhkan tentang apa yang terjadi belakangan ini.
Dan semua ini ada sangkut pautnya dengan di huninya kembali rumah yang sudah bertahun-tahun kosong itu.
__ADS_1
Mereka menganggap para hantu dan arwah marah karena di usik rumahnya, lalu mulai mengganggu semua warga yang tinggal disana.