Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 20 Tumbal


__ADS_3

Setelah kematian Bu Ratih ada pesta selama tujuh hari berturut-turut di dalam rumah kosong itu. Pesta berlangsung dari jam 11 malam hingga jam 3 pagi. Tidak ada warga yang berani lewat karena jika dia punya indra ke enam, maka dia akan melihat di sepanjang jalan berdiri para arwah yang ikut datang untuk merayakan sebuah kemenangan.


Rumah itu menghadap ke kuburan yang letaknya diatas tebing. Dan di kuburan juga nampak suara gendang bertabuh-tabuhan.


Namun, setelah jam tiga pagi terdengar suara tangisan dari kuburan. Bu Jono yang pagi-pagi akan pergi kepasar mendengar suara itu.


"Pak....coba dengarkan. Seperti ada suara orang menangis...." Pak Jono yang mengemudi langsung menghentikan motornya tepat di depan pintu kuburan.


"Kita mau apa pak kesini?"


"Kita akan melihat siapa yang menangis itu Bu, siapa tahu dia membutuhkan pertolongan kita"


"Tapi pak, mana mungkin ada seorang gadis disini?"


"Buktinya tadi ada suara orang menangis Bu......"


Pak Jono dan Bu Jono turun dari motor. Mereka lalu mencari arah suara tangisan tadi.


"Sepertinya suara tadi berasal dari sini pak...." ucap Bu Jono karena merasa cemas dan takut. Masuk kedalam kuburan di jam segini masih bagus jika tidak bertemu dengan kuntilanak atau pocong.


Tapi keberanian muncul karena mereka berdua. Jika sendiri maka lebih baik tidak mencari suara tangisan tadi.


"Pak....suaranya dari dalam bawah tanah...."


"Apa Bu ...?"


"Coba dengarkan pak...."

__ADS_1


"Benar juga Bu. Itu kan....."


"Kuburan milik Bu Ratih...."


"Astaga pak....berarti yang menangis itu bukan manusia...."


"Ayo pak, kita segera pergi dari sini...."


Bu Jono menatap kuburan yang masih merah itu dan baru menyadari asal suara tangis itu.


Bu Jono menarik tangan pak Jono dan menggenggamnya erat-erat.


Mereka naik kembali ke motor itu dan saat akan di nyalakan malah mesinnya mati.


"Aduh pak, gimana ini?" Bu Jono yang sudah membonceng panik dan menatap ke arah kuburan tadi. Firasat nya mendadak menjadi buruk seakan ada yang menahannya agar tetap disini.


Kali ini ditambah dengan suara minta tolong.


"Tolong.....!"


"Tolong.....!"


Bu Jono dan pak Jono saling berpandangan.


"Kita harus pergi dari sini secepatnya!"


Lalu setelah berusaha berulang kali menyalakan motor itu, akhirnya mesinnya mau hidup juga.

__ADS_1


"Kita kepasar pak!"


Mereka langsung kepasar dengan membawa dagangannya.


Dan begitu sampai dipasar hanya dalam waktu sepuluh menit dagangan pak Jono dan Bu Jono langsung laris dan tidak tersisa satupun.


Sudah menjadi tradisi di desa itu jika mereka akan menjual hasil panennya di pagi hari sebelum matahari terbit. Berkisar antara jam 3 pagi sampai jam 5 pagi.


Jika mereka pulang jam 7 berarti daganganya sedang sepi. Dan biasanya jIka sudah mendekati jam 7 mereka menjualnya dengan harga yang murah. Yang penting daganganya laku dan bisa untuk kebutuhan sehari-hari.


"Alhamdulillah ya pak. Laris manis!"


"Iya Bu. Jangan-jangan karena tadi pagi itu....".


"Bapak ini ada-ada saja!"


"Benar Bu, kata orang kalau akan ke apsar kita bertemu dengan hantu, itu tandanya dagangan kita akan laris...."


"Hahahaha...kita kan ngga ketemu hantu pak. Tadi itu kan cuma suara...."


"Ohh iya Bu. itu suara siapa ya? Masa rohnya Bu Ratih menangis didalam kuburnya. Itu kan tidak mungkin...."


"Entahlah pak, Ibu juga bingung. Sebaiknya apakah kita ceritakan hal ini ke nak Rangga atau tidak ya pak.....?"


"Nanti kita kasih tahu saja Bu. Siapa tahu memang rohnya Bu Ratih tersiksa dan ingin ada orang yang mendengar tangisannya...."


Pak Jono dan Bu Jono pulang kerumah dengan hati senang. Sementara Rangga dan Sintia hingga saat ini menginap dirumahnya.

__ADS_1


Mereka tidak mungkin kembali kerumah kosong itu hanya berdua saja. Warga juga mencegah mereka berdua kembali kesana, karena selama para arwah masih bersarang disana, rumah itu tidak aman bagi manusia.


__ADS_2