Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 13 Kecelakaan


__ADS_3

Sintia sedang berlari dari kejaran ibunya yang telah dirasuki roh jahat. Dia tidak ingat siapa dirinya. Untunglah Sintia dengan cepat sadar jika ibunya menyimpan pisau ditangannya.


"Lewat sini saja Sintia....!" kata ibunya ketika mereka sampai di persimpangan jalan.


"Kenapa Bu....?"


"Sudah! Ngga usah banyak tanya! Ayo jalan....."


Sintia mulai curiga jika itu bukan suara ibunya.


Sintia sesaat mengentikan langkahnya dan matanya melirik ke kanan dan ke kiri.


Astaga, disini sangat gelap. Tidak ada lampu sama sekali. Hanya terang dari cahaya bulan. Aku harus bagaimana?


"Ayo jalan! Kamu jalan didepan saja!" perintah ibunya menatap penuh intimidasi.


Sintia jalan didepan dan ibunya dibelakang.


Hanya ada jalan setapak dihadapannya yang terbentang.


Mereka lalu melewati jalan setapak. Dan saat itu Sintia berhenti dan menoleh pada ibunya.


Matanya menatap salah satu tangan sang ibu.


Diapun sangat terkejut.


Ketika itu salah satu tangan ibunya sedang menggenggam pisau yang di arahkan ke punggungnya Sintia.


"Bu...untuk apa pisau itu?" tanya Sintia dengan bibir bergetar dan kakinya terasa sangat kaku untuk melangkah.


"Ayo jalan! Jangan menoleh ke belakang!"

__ADS_1


Ibunya sepertinya mengayunkan pisau ke punggung Sintia. Dan Sintia segera menghindar ketika melihat bayangan tangan ibunya dari bantuan cahaya bulan.


"Tidaaaakkkk!


Sintia dengan cepat berlari menyusuri jalanan setapak. Dibelakangnya, ibunya berlari mengejarnya dengan pisau yang siap di hunuskan.


"Sintia! Berhenti!"


"Tidak! Kau bukan ibuku! Kau iblis!"


"Hahahaha......hahahaha!" Ibunya malah tertawa ketika di bilang iblis oleh Sintia.


Aku harus lari kemana? Aku harus pergi ke jalanan besar. Mungkin akan bertemu seseorang! Jika aku berlari di hutan maka aku akan mati dan aku masih ingin hidup!


Dengan terengah-engah Sintia terus memacu larinya dengan kecepatan paling maksimal. Ibunya masih berlari dan tertinggal di belakang.


"Lari lagi! Aku harus lari!"


Ibu...apakah dia sudah tidak mengejarku? batin Sintia.


Namun tiba-tiba ibunya muncul diantara semak-semak dengan sorot mata merah tajam berkilat.


"Mau lari kemana kau anak nakal!?"


Ibunya memegang pisau dan terarah pada Sintia.


"Jangan!" Sintia akan berlari namun, di seberangnya adalah sawah. Dan untuk ke jalan raya dia harus melewati sawah itu dan menyeberangi genangan air.


"Aku harus kesana! Atau ibu akan membunuhku!" Sintia masuk kedalam genangan air didalam persawahan. Kakinya kini basah oleh lumpur bercampur air.


Dan saat berhasil ke jalan raya, ibunya juga sampai disana dengan cepat. Kini sudah berdiri di belakangnya tepat.

__ADS_1


"Ha...... hhhhhhh!" Sintia terpana.


Crassshhhh!


Duaarrrrr!


Bruuukkkk!


Saat pisau itu akan menusuk punggung Sintia, dia menangkisnya dan pergelangan tangannya berdarah karena sabetan pisau itu.


Dan tiba-tiba sebuah motor menabrak ibunya hingga dia tersungkur dan lidah terlepas dari genggamannya.


"Ibuuuuu!" Sintia kaget dan menangis melihat ibunya bersimbah darah dijalan raya.


Para pengendara motor dan mobil segera minggir dan sebagian berhenti untuk melihat apa yang terjadi.


Pengendara sepeda motor itu membuka helmnya dan terkejut, karena dia sudah menabrak ibunya sendiri.


"Ibu.....!" Rangga terkejut.


"Rangga? Kau....?" Sintia juga terkejut.


Polisi datang dan segera melihat apa yang terjadi. Dari keterangan saksi maka akhirnya Rangga di bawa oleh mereka ke kantor polisi. Sedangkan Sintia menjaga ibunya di dalam ambulan.


Mereka akan menuju rumah sakit untuk mengobati ibunya yang kehilangan darah banyak.


Sintia sangat sedih melihat ibunya berlumuran darah dan terluka.


"Ibu......"


"Kenapa jadi seperti ini?"

__ADS_1


Sintia terisak sendirian. Dia juga sedih karena Rangga dibawa ke kantor polisi.


__ADS_2