Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 16 Dimana raga ibu


__ADS_3

Sintia menunggu ibunya dirumah sakit dan tidak mau gantian menjaga ibunya. Sebenarnya malam ini ayahnya ingin mengganti kan dirinya. Namun Sintia tetap bersikeras untuk menunggu ibunya hingga dia sadar.


"Bu....aku sangat merindukanmu. Sadarlah Bu...."


Ibunya masih tidak bergeming. Sintia terus mengelus-elus punggung tangan ibunya dan airmatanya tak berhenti menetes karena merindukan saat-saat indah bersama ibunya.


Kini ibunya berbaring dan tidak bangun sudah berhari-hari. Sedang berjuang antara hidup dan mati. Dan semua ini karena ulah para arwah di rumah kosong itu.


"Bu.....aku sedih keluarga kita menjadi seperti ini. Rangga dan ayah sekarang tidur di hotel. Mereka tidak kembali kerumah itu. Aku rindu keluarga kita ceria dan bahagia seperti dulu lagi. Ketika kita belum pindah ke desa. Kita akan selalu tertawa dan saling bercanda. Tidak ada rasa takut, kesalah-pahaman dan rasa tidak aman,"


Sintia tertunduk disamping ibunya berbaring koma. Tiba-tiba dia merasa ingin ke kamar kecil.


Sintia lalu pergi ke kamar kecil dan saat dia sudah masuk dan berada didalam. Tiba-tiba lampu di kamar mandi itu mati.


"Kenapa ini? Kok lampunya tiba-tiba mati? Sudahlah! Aku akan menggunakan kamar mandi yang lain!"


Ceklek!


Ceklek!


Sintia akan membuka pintu kamar mandi itu namun ternyata tidak bisa di buka seperti sengaja di kunci oleh seseorang dari luar.


"Suster! Tolong buka pintunya!"


"Saya terkunci didalam....!"


Sintia berteriak. Dia merasa cemas entah apa sebabnya. Sintia merasakan sesuatu seperti hal buruk akan terjadi.


Entah apa yang akan terjadi, dia hanya merasa gelisah didalam kamar mandi itu sambil terus berusaha untuk keluar.

__ADS_1


Seorang suster masuk dan melihat jika pasien tidak ada di atas ranjang itu.


Diapun terkejut dan saat memikirkan apa yang dia lihat, dia mendengar suara dari kamar mandi.


"Siapa didalam?"


"Suster! Tolong saya! Saya terkunci didalam....!" jawab si tua setelah dia cukup lama berusaha membuka pintu itu.


Ceklek!


Pintu terbuka. Belum sempat Sintia akan menjelaskan apa yang terjadi, dia melihat ibunya tidak ada di atas ranjang itu.


"Ibu....suster! Dimana ibu?"


"Itu yang ingin saya tanyakan. Pasien tidak ada dikamar ini, dan kau bukankah bersamanya?" Suster juga bingung.


"Lalu sekarang dimana ibumu?"


"Ohh, mungkin dokter memindahkan nya...." Sintia lalu keluar dan di ikuti oleh suster yang jaga.


Kebetulan ruang perawatan Bu Ratih ada di paling pojok. Dan disebelahnya ada sebuah pohon yang besar dan sudah berusia puluhan tahun.


"Seorang penjaga tadi melihat sesuatu terbang dari arah kamar itu," kata suster itu ketika bertemu dengan Sintia yang baru saja mencari ibunya.


"Apa?"


Sintia terbelalak.


"Aku tidak mengerti bagaimana ibumu bisa keluar dari rumah sakit ini. Dan hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya disini," ucap suster lalu akan pergi menemui beberapa dokter yang terakhir memeriksa Bu Ratih.

__ADS_1


Tidak satupun dokter yang memindahkan pasien.


Sintia sangat cemas dan menelpon ayahnya. Ayahnya baru saja berbaring bersama Rangga. Dan tiba-tiba handphone nya bergetar.


Sintia....


Pak Karya mengangkat teleponnya dan mendengar suara isak tangis dari Sintia.


"Ayah...ibu tidak ada di kamar perawatan. Ibu hilang...." ucap Sintia dengan sangat sedih.


"Apa!?" Pak Karya sangat terkejut. Dan segera membangunkan Rangga.


"Rangga! Bangun nak! Ayo kita cari ibumu. Ibumu tidak ada diruang perawatan. Mungkin arwah itu mengganggu nya kembali," Pak Karya menjelaskan setelah menutup teleponnya.


"Apa!? Ibu hilang? Bagaimana mungkin? Ibu sedang koma...."


"Itulah nak. Pasti arwah itu mengganggu ibumu,"


"Ayah...kita harus segera bertindak. Ini tidak boleh di biarkan terlalu lama. Sebelum besok pagi, kita harus sudah menemukan ibu....firasatku mengatakan ibu bersama para arwah itu...."


"Kalau begitu, ayo kita kesana!"


Pak Karya dan Rangga lalu akan mencari ibunya ke rumah kosong itu.


Namun sebelum kesana mereka menemui para warga dan meminta bantuan mereka.


Pak Karya pergi menemui pak Bayan.


"Pak kami tidak kuat jika hanya berdua saja melawan para roh itu. Bagaimana jika warga bersama kami. Agar mereka mengembalikan istriku...." Pak Karya terlihat sangat sedih.

__ADS_1


__ADS_2