
Sintia dan Rangga berdiri dibalik pintu yang mereka kunci rapat-rapat.
"Apa yang harus kita lakukan?" Sintia menatap Rangga dengan bingung.
"Telepon ayah!"
"Baiklah...."
Sintia segera menelpon ayahnya.
"Ayah...segeralah pulang. Ada masalah dirumah ini,"
"Apa? Baiklah...!" sahut ayahnya.
Sintia menyimpan handphonenya dan terdengar suara langkah kaki ibunya semakin mendekat.
"Bagaimana ini?" Sintia sedih, cemas dan gemetar.
"Kita akan tetap disini sampai ayah datang,"
"Rangga. Apa yang terjadi dengan ibu kita?" Sintia mencemaskan ibunya. Dan sedih melihat kondisinya.
"Ada roh didalam tubuhnya yang mengendalikanya," ucap Rangga.
Dia sendiri juga takut. Dia takut melukai ibunya jika dia melawan roh pengganggu itu.
"Dia semakin dekat rangga....!"
Tok....tok....tok....
Sreeeettt!
Suara kapak ya g diseret.
Sreeeettt!
Tok...tok.....tok.....
Langkah kakinya semakin dekat.
Ibunya berdiri dan melihat ke kanan serta ke kiri.
Dia berjalan ke kamar Sintia. Setelah dia menemukan nya di kamarnya. Dia lalu berjalan ke kamar Rangga.
Masih dengan mata tajam penuh hasrat membunuh tanpa ekspresi.
Tok....tok....tok....
"Rangga....ibu diluar kamar kita...."
"Sssttttt...diamlah...."
Sang ibu dengan kapak di tangan nya berdiri di pintu kamar Rangga.
Klek! klek!
Bu Ratih mencoba membuka pintunya tapi tidak bisa.
Dia lalu mengayunkan kapaknya ke arah pintu.
Duaaakkk!
duaaakk!
Pintu itu bergetar tapi tidak terbuka.
__ADS_1
"Rangga....ibu disini....!" Sintia menangis ketakutan.
Awalnya hanya hantu yang membuatnya takut. Tapi jika ibunya yang akan menyakiti nya, hatinya benar-benar sedih dan sangat takut.
"Ambil kursi itu. Itu akan membantu menahan pintunya agar tidak terbuka....!"
Sintia lalu menarik kursi dari kayu dan menaruhnya di pintu.
"Kita harus menjaganya agar pintunya tidak terbuka..." ucap Rangga.
Mereka berdua bersiaga dan mendorong kursi agar menahan pintu yang terus di gempur dari luar dengan kapak.
Semakin lama, pintu itu semakin bergoyang seakan sedikit lagi pasti bisa di buka oleh ibunya.
Deg.
Sintia semakin cemas ketika melihat satu engsel pintu yang tercabut dari tembok.
"Rangga....pintunya....."
"Ayo kita dorong lemari itu. Jika berdua pasti kuat!"
Rangga dan Sintia berjalan kearah lemari yang terbuat dari kayu.
Mereka mengerahkan semua tenaganya untuk mendorong lemari itu.
"Ayo.....!"
"Lebih kuat lagi.....!"
Ucap Rangga.
"Pintunya.....!"
Pintu itu hampir saja berhasil di buka oleh ibunya yang sedang kerasukan dengan merusaknya.
"Pelan-pelan.....nah. Kekanan sedikit!"
"Sudah!"
Duaaakkk!
Kapak itu kini semakin cepat diayunkan karena ibunya marah.
"Rangga....aku takut....!"
Lemari itu sudah berhasil di kapan. Bagian belakangnya telah rusak.
Gubraaakkk!
Ibunya seakan berubah menjadi begitu kuat hingga bisa merubuhkan lemari itu karena pintunya sudah terlepas dari engselnya.
"Ibu.....!"
"Rangga.....itu ibu....!"
Ibunya berdiri dipintu yang sudah rubuh. Dia menoleh ke arah Tangga dan Sintia dengan tatapan ingin membunuh.
"Kita tidak menyakitinya. Itu ibu kita...." ucap Sintia ketika Rangga akan mengambil pemukul di sebelahnya.
"Aku tahu. Aku tidak akan menyakiti nya...."
Duaaakkk!
Ibunya memukul ke arah Sintia. Sintia lalu mundur ke belakang.
__ADS_1
Sekarang giliran Rangga. Ibunya mengayunkan kapak ke arahnya.
Karena di belakangnya ada tembok, maka diapun terpaksa mengayunkan tongkat ke arah ibunya.
Crassshhh!
Tongkat beradu dengan kapak itu.
"Aaaaa......!" Sintia berteriak karena dia pikir Rangga akan terluka.
Ibunya berusaha mematahkan tingkat itu.
Duaaakkk!
Saat tingkat itu ditarik ke belakang ibunya terjatuh karena limbung.
Hal itu dimanfaatkan oleh Sintia dan Rangga untuk keluar dari kamarnya.
"Ayo kita cepat keluar. Sebelum ibu bangun dan mengejar kita...."
Rangga dan Sintia berlari menuruni tangga.
Tapi tiba-tiba baju Sintia tersangkut paku.
"Rangga! Bajuku.....!" Ibunya sudah berdiri dan menatap pada Sintia dengan aura membunuh.
"Cepatlah! Kenapa susah sekali!"
Rangga dengan tergesa-gesa dan panik membantu melepaskan baju Sintia.
"Sobek saja tidak papa!"
ucap Sintia ketika menoleh dan melihat ibunya berjalan pelan ke arahnya dengan kapak yang di ayun kan.
Kreeekkkk!
Baju itu di sobek oleh Rangga.
"Ayo cepat lari!" Rangga menarik Sintia karena ibunya semakin dekat pada mereka.
Mereka berdua berlari menuruni tangga.
"Kita akan sembunyi dimana?"
"Kita harus keluar dari rumah ini! Disini tidak aman. Kita bisa mati!"
Rangga membuka pintu rumahnya dan lalu keluar sambil menggandeng tangan Sintia.
"Kita akan kemana Rangga?"
"Kemana saja! Yang penting selamat dari ibu dulu. Kita tidak mungkin melawannya. Dia ibu kita. Tapi jika kita tidak melawannya. Kita bisa tiada!"
"Kau benar Rangga....kenapa jadi seperti ini?"
"Ayah..... bagaimana dengan ayah!"
Mereka berdua saling berpandangan dan menoleh ke belakang.
"Iya. Kau benar. Ayah berada dalam bahaya jika masuk ke dalam rumah itu!"
"Kita kesana lagi!"
Setelah berlari sejauh setengah kilometer mereka akhirnya memutuskan untuk kembali lagi karena teringat akan ayahnya yang sedang dalam perjalanan pulang.
Dan saat melihat mobil ayahnya terparkir diluar, mereka ketakutan.
__ADS_1
"Ayah......!"