
Pak Jono dan Bu Jono lalu menceritakan kejadian tadi pagi setelah Sintia pergi kerumah sakit.
Sintia yang paling terpukul dengan meninggalnya Bu Ratih dan jika pak Jono dan Bu Jono menceritakan soal tangisan dari kuburan itu maka akan semakin membuat Sintia terpuruk.
Mereka lalu menunggu hingga Sintia pergi cari akan cerita pada Rangga. Rangga adalah seorang pria dan dia dianggap lebih tegar untuk mendengarkan kejadian aneh itu.
"Rangga....tadi pagi kami tidak sengaja lewat di kuburan. Dan kami mendengar suara tangisan dari sana. Kami pikir ada gadis yang membutuhkan pertolongan, tapi ternyata setelah kami cari arah suara itu, datangnya dari dalam kuburan Bu Ratih.
Rangga terdiam dan matanya menatap tajam pak Jono.
"Baner nak. Kami benar-benar mendengar suara itu dari kuburan ibumu..."
"Artinya apa pak?" Rangga tidak mengerti dan bingung jika itu memang benar adanya.
"Kita harus berkomunikasi dengan rohnya ibumu," jawab Pak Jono.
"Tapi apakah bisa?"
"Bisa nak. Tapi bukan kita yang melakukannya. Kita harus mencari orang pintar yang biasa memanggil roh,"
"Ohh, saya punya teman tapi saya tidak yakin dia mau melakukan nya?"
"Memangnya kenapa nak?"
__ADS_1
Tangga teringat jika temannya Toni bisa memanggil roh. Namun ayahnya meninggal karena arwah dirumah kosong itu. Rangga segan untuk meminta bantuan padanya sekali lagi.
"Tapi sudahlah...kita akan mencari orang lain saja..."pungkasnya.
"Iya nak....kita harus tahu kenapa ada tangisan seperti itu...."
.
Toni yang sudah melakukan semedi dan mempelajari lagi ilmu dari buku peninggalan ayahnya tiba-tiba menelpon Rangga.
Toni.....
Rangga yang sedang bingung untuk mencari orang pintar terkejut mendapatkan telepon dari temannya.
"Bisa kita ketemu bro?!"
"Oke....!"
Mereka lalu membuat janji untuk bertemu di rumah sakit. Mereka bicara di taman sebelum melihat ayahnya Rangga yang masih koma.
"Kita harus menyelamatkan ayahmu bro! Ibumu sudah meninggal, dan itu membuatku terkejut. Ayahku juga sudah menjadi korban keganasan hantu dirumah kosong itu. Dan aku yakin, ayahmu akan selamat jika kita menghancurkan mereka semua...."
"Apa!?" Rangga terkejut dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Caranya....?"
Toni lalu berbisik-bisik di telinga Rangga.
"Kita tidak tahu kapan para arwah itu akan meninggalkan rumah itu. Selama mereka ada disana. Kita tidak akan bisa melakukannya. Karena mereka pasti akan menyelamatkan rumahnya," ucap Rangga setelah mendengar usul dari Toni untuk membakar rumah itu.
"Kau bilang ibumu menangis didalam kuburnya bukan?"
"Aku tidak tahu dengan pasti. Pak Jono dan Bu Jono mendengarnya langsung."
"Tidak salah lagi. Kita bisa meminta bantuan dari arwah ibumu. Kita akan memanggilnya dan berkomunikasi dengannya. Setelah itu kita akan mencari akar dari semua masalah ini. Kau tahu bro...yang kita lakukan akan menyelamatkan korban selanjutnya. Jika kita tidak melakukannya, maka akan selalu ada korban berikutnya..."
"Baiklah. aku setuju denganmu. Kapan kita akan melakukannya?"
"Nanti aku kabari, sebelum itu aku akan mempersiapkan semuanya. Ayahku meninggalkan buku yang sangat berharga yang belum sempat dia pelajari. Dan kini aku sudah mempelajarinya. Aku juga akan membalas apa yang sudah mereka lakukan pada ayahku...."
"Ya. Kita berdua sudah kehilangan orang yang kita cintai karena kebrutalan para arwah itu," lanjut Rangga.
Mereka berdua lalu saling menggenggam dan mengangguk dengan penuh keyakinan akan menang melawan mereka.
"Kita pasti menang!"
"Ya semoga...."
__ADS_1
"Para warga pasti akan bersedia membantu kita. Dengan bantuan mereka, maka kita pasti akan lebih kuat...."