Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 23 Penghancuran


__ADS_3

Toni duduk bersemedi di teras rumah kosong itu. Dia melihat tidak ada satupun hantu yang tertinggal. Dia lalu mengeluarkan beberapa mantra untuk memanggil roh Bu Ratih sebelum penghancuran rumah itu.


Toni memegang sebuah boneka mirip jalangkung. Tidak lama kemudian, boneka itu bergerak-gerak tanda toh yang dipanggil sudah masuk kedalam tubuhnya.


Toni berbicara dan ada suara dari jalangkung itu. Suara itu terisak dan itu adalah suara Bu Ratih.


"Nak....maafkan ibu....."


Rangga duduk disamping Toni yang memanggil arwah.


"Bu....." Rangga menangis terisak.


"Jaga adikmu Sintia nak...."


"Iya Bu....."


Toni lalu menanyakan sesuatu pada Bu Ratih.


"Siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Toni.


"Dia...dia yang ada di bawah jembatan. Ada manusia yang menginginkan aku sebagai tumbal. Bebaskan aku dari menjadi pengikut mereka," ucap arwah Bu Ratih samar-samar.


"Apakah kau keberatan jika kami menghancurkan rumah yang kau beli?"


"Jika untuk kebaikan anak-anak ku, maka hancurkan lah! Aku akan membantumu...."


"Baiklah....jika kau mengijinkannya maka proses penghancuran akan segera kami mulai...."


"Hancurkan saja. Jika tidak ada rumah ini, maka tidak akan ada keluarga yang kehilangan saudaranya,"


Tiba-tiba suara Bu Ratih menghilang.


Toni mengambil boneka itu dan menyerahkannya pada Rangga.


"Tidak bisa terlalu lama memanggilnya....kita akan segera mulai saja penghancuran nya...."


"Baiklah...."

__ADS_1


Toni bangun lalu menyuruh para warga untuk menyiramkan minyak ke sekeliling rumah hantu itu.


"Apakah kau yakin, tidak ada barangmu yang tertinggal disana? Jika ada ambillah!"


"Sudah aku keluarkan semua. Kau bisa mulai menghancurkannya!"


"Pak Jono, sekarang tuangkan semua air suci ini ke sekeliling warga!" perintah Toni.


"Ya. Baiklah...." Pak Jono lalu berjalan menjauhi para warga dan mulai menyiramkan semua air itu ke sekeliling rumah warga.


Para warga bersama Rangga dan Toni kini akan membakar rumah berhantu itu.


Byuuuurrrr!


Mereka menyiramkan minyak tanah.


"Sekarang!" Toni memberi aba-aba.


Wussshhhh!


Dengan cepat api melahap rumah berhantu itu.


Beberapa warga menjaga agar api itu tidak padam sebelum rumah itu benar-benar hancur semua.


Tiba-tiba ada suara tangis bayi dari dalam rumah itu.


Oek! oek! oek!


"Toni! Ada bayi didalam!"


"Tidak mungkin! Aku tadi sudah memeriksanya. Tidak ada tuh yang tertinggal!"


"Tapi itu suara bayi menangis! Masuklah! Kau harus memindahkannya ke dalam botol lalu memindahkan arwahnya!"


"Ini api yang mengandung mantra! Tidak mungkin bisa masuk kedalam. Selain itu bayi itu tidak mungkin ada didalam. Ini pasti jebakan!"


Ucap Toni ketika api itu sudah melahap hampir separo rumahnya.

__ADS_1


"Ayo cepat hancurkan!" Tangga berbicara sendiri.


Beberapa warga sudah membawa pasir untuk menutup sumur di kolong jembatan itu. Sumurnya tidak terlalu besar. Namun dulu di gunakan untuk membunuh nenek itu ketika dia remaja. Dan sekarang dia sudah menjadi tua dan berumur ratusan tahun.


Namun ada salah satu warga melihat apa yang di lakukan biara warga. Dia adalah pak Danar.


Melihat rumah milik ni anker di hancurkan warga dia segera pulang kerumahnya dan melakukan pemujaan untuk memanggil ni anker yang sedang berpesta di sungai rawa-rawa bersama para arwah yang lainnya.


Sekarang jam 2 dini hari. Masih ada waktu satu jam sebelum para arwah itu selesai dengan pestanya. Dan rumah itu tinggal sedikit lagi habis terbakar. Para warga terus menyiramkan minyak agar cepat hancur.


"Siapa yang berani memanggilku ketika aku sedang berpesta!?" Ni anker nampak marah karena ada yang memanggilnya.


"Aku ni. Danar!"


"Danar? Kau tahu? Jika aku sedang disana tidak ada yang boleh mengganggu nya?"


"Saya tahu ni. Tapi ini sangat penting. Para warga membakar dan menutup sumur di bawah jembatan," ucap Danar.


"Apa!?" Ni Anker sangat terkejut.


"Kurang ajar! Aku akan segera datang bersama mereka! Aku harus menyelamatkan rumahku!"


Ni anker tiba-tiba menghilang dari semedi Danar.


"Pasti ni anker akan segera datang. Jika rumah itu di hancurkan maka bagaimana dengan pesugihan yang aku lakukan? Semua ini gara-gara warga dari kita itu! Aku harus membantu ni anker!"


Danar lalu pergi rumah yang sedang di hancurkan itu dengan membawa selang air.


"Heh! Apa yang kau lakukan?"


Para warga terkejut ketika Danar menyiramkan air ke arah rumah itu.


"Kalian kenapa membakar rumah ini? Kalau tahu akibatnya? Para arwah akan marah dan mereka akan menghabisi kita semua!"


"Tidak! Kami harus melakukannya. Mereka sudah melampaui batas. Mereka mengganggu ketenangan para warga,"


"Tetap tidak bisa dibiarkan. Aku harus memadamkan apinya!"

__ADS_1


"Danar! Berhenti!" teriak pak Bayan kesal menatap Danar. Namun Danar tidak peduli dan tetap menyiramkan air ke arah rumah yang belum terbakar semuanya.


__ADS_2