
Pak Karya segera datang setalah Sintia menelponnya dari rumah sakit dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Baiklah. Ayah akan langsung ke rumah sakit,"
Pak Karya langsung menuju administrasi. Setelah itu menemui Sintia.
"Nak....apa yang terjadi?" Pak Karya memeluk Sintia yang terpukul akan kejadian yang menimpa keluarganya.
"Ibu ada didalam. Dokter sedang merawatnya...." Sintia terbata dan memeluk ayahnya.
"Rangga ada di kantor polisi. Polisi membawanya. Dia menabrak ibu...."
"Sabar nak.....Nanti jika ibumu sudah di obati maka ayah akan menemui kakakmu di kantor polisi,"
Pak Karya mengelus rambut putrinya dan hatinya benar-benar hancur. Ingin rasanya dia tidak percaya pada gangguan mahkluk yang dikatakan para warga.
Tapi putrinya terus mengatakan hal yang sama. Jika ibunya kerasukan dan akan membunuhnya. Kebetulan Rangga yang sedang mengendarai motor melihat ketika ibunya akan menusuk Sintia di jalan raya. Dan saat itulah dia tanpa sengaja menabraknya dan membuat ibunya terluka.
.
Suasana dirumah kosong.
Lampu dirumah kosong itu tiba-tiba padam. Dia orang warga yang baru pulang kerja malam terkejut. Mereka pak Nori dan Hasan. Mereka berboncengan naik motor.
"Suara gaduh apa itu didalam ya Mas?" Tanya pak Nori pada Hasan.
"Seperti orang pesta. Tapi kok lampunya mati semua? Apa Pak Karya sengaja mematikan semua lampunya?"
"Lihat diatas?"
Mereka berdua terkejut ketika melihat barisan pocong, badan tanpa kepala, sundel bolong, beberapa anak kecil, dan juga ada nenek-nenek memakai tongkat dengan wajah menyeramkan.
"Hiiiiiii ayo pak. Kita cepat pergi dari tempat ini!"
Dia pria yang tinggal di kampung segera mempercepat laju kendaraannya. Mereka pikir keluarga pak Karya sedang berpesta. Ternyata yang berpesta adalah para hantu itu. Entah kemana pak Karya sekeluarga? Batin mereka.
__ADS_1
.
Keesokan harinya warga kampung melihat di berita surat kabar jika Rangga menabrak ibunya dan dia kini di tahan di kepolisian.
Beberapa warga lalu mengunjungi Bu Ratih dirumah sakit. Dan mereka perwakilan untuk melihat keadaannya.
Ketika diruang tunggu bertemu dengan Sintia. Dan yang masuk hanya istrinya pak Bayan.
"Kami turut prihatin dengan apa yang terjadi nak," ucap Bu Bayan.
"Terimakasih Bu...mari silakan masuk...."
Sintia mengantar Bu Bayan untuk melihat ke adaan ibunya.
"Ibu masih belum sadar. Lukanya cukup parah...."
"Ohh, Bagaimana semua ini bisa terjadi Sintia?" Sintia lalu menjelaskan bagaimana ibunya kemasukan roh dan ingin membunuhnya. Dan ketika Rangga melihatnya dia langsung reflek menabrak ibunya untuk menyelamatkan dirinya,"
"Pantas saja rumah kalian semalam gelap. Pak Nori dan Pak Hasan lewat ketika dini hari. Ada pesta di rumah itu. Dan mereka melihat para arwah mengadakan pesta dan mematikan semua lampunya. Kami pikir kalian ada dirumah, ternyata kalian sedang tertimpa musibah...."
"Ini yang kami takutkan Nak. Karena itulah warga memperingatkan ayahmu. Sebaiknya kalian pindah. Arwah disana sudah terlalu banyak, sulit ada orang yang bisa melawan mereka,"
"Ayah sekarang percaya jika mereka ada. Awalnya ayah tidak percaya dan menganggap itu halusinasi,"
"Dimana ayahmu?" tanya Bu Bayan.
"Di kantor polisi. Kasihan Rangga. Dia tidak bersalah. Tapi semoga polisi bisa mengerti alasannya,"
"Nanti kami akan bersaksi jika di butuhkan nak. Demi kebebasan Rangga kakakmu..."
"Terimakasih Bu...."
Bu Bayan lalu pamit setelah ngobrol bersama Sintia dan bertemu dengannya.
Sampai di kampung, Bu Bayan menceritakan pada para warga tentang apa yang menimpa Bu Ratih. Mereka semua prihatin mendengarnya.
__ADS_1
Dan ada yang nyeletuk.
"Kita bakar rumah itu....."
"Sssttty jangan! Nanti malah para roh itu mengamuk," ucap salah seorang warga.
"Tapi rumah itu sumber masalah kita. Jika rumah itu tetap ada. Maka penghuninya akan semakin banyak. Setiap ada kecelakaan atau orang meninggal secara tidak wajar akan tinggal disana dan mengganggu para warga yang lewat,"
"Tapi rumah itu milik pak Karya. Jika kita membakarnya lalu mereka akan tinggal dimana?"
"Iya benar juga. Kita tidak boleh langsung membakarnya. Kita harus ijin pada yang punya rumah terlebih dahulu,"
"Benar. Kita memang terganggu sejak rumah itu di huni para roh. Tapi sekarang rumah itu ada pemiliknya. Mereka sudah membelinya. Kita harus musyawarah dulu dengan pemilik rumahnya,"
"Sebaiknya hubungi makelarnya. Jika rumah pembawa petaka itu di hancurkan maka Pak Karya harus mendapat ganti rumah yang baru untuk tempat tinggalnya dan keluarganya,"
"Ya, betul-betul!"
.
Di kantor polisi. Pak Karya akhirnya mempercayai keberadaan arwah itu dan menjadi saksi agar Rangga bisa terbebas dari hukuman.
Dan seorang warga datang dengan sukarela memberikan saksinya karena dia juga kebetulan melihat saat peristiwa itu terjadi. Dan keesokan paginya dia baru tahu jika yang mengalami kecelakaan itu adalah tetangganya.
"Saya melihat ibu itu tidak sadar akan menusuk punggung putrinya yang bernama Sintia. Tangga yang ingin menyelamatkan Sintia terpaksa menabraknya dan bukan karena di sengaja. Dia melakukan semua itu demi menyelamatkan adiknya. Ibunya dalam pengaruh makhluk gaib. Jika bapak tidak percaya, bapak bisa datang ke rumahnya. Kemarin ada pesta yang dilakukan para arwah karena rumah itu kosong kembali,"
"Ini diluar akal sehat yang bisa kami pahami. Tapi baiklah. Untuk membuktikan jika yang anda katakan benar, maka besok malam saya akan kesana bersama orang yang bisa melihat arwah. Kita harus membuktikan semua itu,"
"Baik pak...."
"Kalau begitu saksi boleh pulang. Rangga masih tetap disini. Sampai kami membuktikan keberanan ucapan saksi,"
Rangga mengangguk pada ayahnya dan setuju dengan apa yang dikatakan inspektur itu.
Pak Karya lalu kembali ke rumah sakit untuk menemani Sintia.
__ADS_1
Rumah itu kosong, dan para Arwah sedang berpesta dengan para teman-teman nya.