
Para warga bersama pak Karya dan Rangga berbondong-bondong pergi ke rumah kosong untuk mencari Bu Ratih. Pak Karya yakin jika istrinya di bawa oleh para makhluk gaib itu.
Mereka menyusuri jalanan yang remang-remang dan tidak terlalu lebar. Ada turunan yang sangat tajam sebelum akhirnya melewati jembatan. Rumah itu terletak sebelum jembatan yang juga terkenal angker.
Bahkan saking angkernya ada salah seorang warga yang pernah dikejar keranda terbang hingga ke tanjakan. Dan keranda itu terbang tepat di belakangnya. Terlalu banyak saksi yang sudah pernah di ganggu oleh penunggu jembatan dan penunggu rumah kosong.
Teror demi teror yang dilakukan para arwah penasaran biru benar-benar meresahkan warga. Bahkan konon belum lama ini salah seorang warga ada yang melakukan pemujaan di bawah jembatan itu.
Disana ada mata air yang sangat jernih dan disekelilingnya ditutup oleh semen karena sudah dibeli sama seorang warga. Dan sejak membeli tanah itu dia pun menjadi kaya mendadak.
Ada kabar burung yang mengatakan jika dia memuja iblis pesugihan dengan nama kandang bubrah.
Entahlah, suatu saat akan terbukti jika setiap tahun dia membangun dan membongkar rumahnya maka berarti dia membuat kesepakatan dengan iblis dan di sebut kandang bubrah. Jika rumah itu dirapikan dan menjadi bagus maka si pembuat perjanjian akan mati.
Para warga berjalan sambil bercerita seputar makhluk gaib dan pesugihan yang belum lama terdengar merebak di kampung itu.
"Lihat itu?"
Terlihat beberapa makhluk putih tanpa terlihat jelas wajahnya ada di jendela kamar Sintia.
"Bagaimana kita bisa masuk kesana? Jika kita tidak hati-hati kita bisa celaka," ucap seorang warga.
"Jika bersama-sama kita akan kuat. Mana obornya," Pak Karya berjalan paling depan di susul di belakangnya Rangga.
Begitu membuka gerbang, terdengar suara cekikikan para wanita dengan muka menyeramkan.
Brraaakkkkk!
Tiba-tiba pintu yang tadi terbuka sekarang tertutup dengan sangat keras.
"Pintunya tertutup Kang!" Teriak seorang warga.
"Coba di buka!"
"Tidak bisa kang!"
Pak Karya membuka pintu yang terkunci itu namun tidak bisa.
"Kalau kita dobrak saja gimana kang?" tanya seorang warga pada Pak Karya. Karena rumah ini miliknya, maka harus ijin dulu sebelum mendobraknya.
"Dobrak saja!"
__ADS_1
"Ayo kita rame-rame dobrak!"
Satu dua tiga!
Brraaakkkkk!
Akhirnya pintu itu terbuka dan ruangan itu sangat gelap.
"Kok tiba-tiba sangat gelap. Ada kabut lagi,"
Seorang warga yang berdiri paling depan lalu melangkah mundur.
Duaarrrrr!
Tiba-tiba sebuah kursi terbang menghantam mereka yang berdiri di barisan paling depan.
"Aduh!" Karena gelap dan penuh kabur serta dalam kondisi tidak siap akan serangan mendadak.
Beberapa warga rubuh dan sempoyongan.
"Hati-hati pak. Ini sangat berbahaya. Sepertinya mereka sedang melakukan upacara tumbal!" Ucap pak Bayan.
"Rangga kau melihat ibumu?"
"Aku belum melihatnya. Tapi lihat disana. Diatas meja itu,"
Semua orang menoleh diatas meja yang biasa digunakan untuk makan. Nampak seseorang seperti sedang berbaring dan tidak bergerak.
Dan di kanan kirinya tidak ada siapapun. Makhluk gaib itu tidak nampak namun bisa dirasakan jika mereka ada disekeliling meja dan berbaris dengan rapat.
Grrrrrrrrr!
Terdengar suara gendruwo. Dan tiba-tiba, beberapa warga di barisan paling belakang di lempar keluar dari rumah kosong itu oleh mahluk tidak terlihat.
Daaakkkk!
Gedebuk!
"Rangga! cepat kesana dan lihat itu ibumu atau bukan?!"
Teriak ayahnya sambil berjaga-jaga.
__ADS_1
"Baiklah!" Rangga lalu berjalan masuk ke ruang tengah dan dia melihat jika wajah itu mirip dengan ibunya.
Namun saat dia akan berjalan mendekatinya, kakinya di tahan oleh tangan arwah yang berjalan dengan merangkak.
"Ayah....! tolong aku!"
Rangga tidak bisa menggerakkan kakinya. Ayahnya lalu mengambil sapu lidi dan siap untuk di pukul pada makhluk itu.
Crassshhhh!
Mahkluk itu menghilang entah kemana.
"Kau tidak papa Rangga?" tanya ayahnya.
Tiba-tiba dari atas sebuah tali menggantung dan mengikat leher Pak Rangga.
"Rangga! Tolong....."
Suara pak Karya tersekat di kerongkongan karena terikat oleh tali yang tiba-tiba datang dari atas plafon.
"Rangga! Tali ini!"
Pak Rangga berusaha melepaskan tali dari lehernya. Dan saat Rangga akan menolongnya, sebuah hantu tanpa kepala mendorongnya hingga dia tersungkur di lantai.
"Rangga!" Mata Pak Karya hampir saja mendelik dan nafasnya tersengal-sengal di tenggorokan.
Rangga lalu melempar sebuah yang dia lihat ada di atas piring buah.
Cringggh!
Pisau itu membuat tali yang mengikat leher pada pak Karya putus. Kini pak Karya bisa bernafas dengan lega.
Dan saat dia akan mendekati Rangga, tiba seseorang mirip ibunya datang dengan menyeret kapak.
Klotak!
Sreeekkkk!
"Ayah! awas!"
Teriak Rangga!
__ADS_1