Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 26 Tabur bunga


__ADS_3

Rangga dan ayahnya saat ini ada di kuburan Bu Ratih. Pak Karya awalnya bingung ketika pulang, bukannya langsung ke desa malah di ajak ke makam.


"Ayah....maafkan kami. Kami tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya dirumah sakit. Dan sekarang akan kami katakan apa yang telah terjadi ketika kau koma. Ibu telah meninggal dunia..."


Rangga terbata ketika mengatakan nya. Namun dia tidak akan menutupinya lagi. Kenyataan pahit harus di hadapi. Dan sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskannya.


"Apa!?" Tentu saja pak Karya Shock. Sangat terpukul saat mendengar istrinya sudah tiada.


Sintia berdiri disamping ayahnya lalu menggenggam tangan kekar itu yang sedikit mulai keriput.


"Ini makam ibu...."


Sintia menunduk seakan memberitahu dengan bahasa isyarat pada ayahnya. Pak Karya langsung terduduk di tanah basah itu.


"Ratihhhh...." Gumamnya lirih. Hatinya terasa sangat sakit dan kesedihan seperti menyeruak dan seakan pisau belati mengiris ulu hatinya.


Pak Karya dengan hati yang pilu mendoakan arwah istrinya agar tenang di alam sana.


"Ibu sudah tenang disana. Mari kita pulang..."


Rangga, Sintia dan Pak Karya berjalan beriringan meninggalkan kuburan itu. Mereka lalu menuju rumah yang sudah di beli dengan uang pesangon dan kini sudah berubah menjadi rata dengan tanah.


Para warga sedang membersihkan sisa-sisa puing itu untuk di angkat di atas truk besar dan di buang jauh dari desa.


Pak Karya tertegun berdiri dan Rangga menggenggam erat tangan ayahnya.


"Rumah kita sudah tidak disini lagi. Kita akan pindah ke rumah yang lain," ucap Rangga menatap wajah ayahnya yang terlihat sedih.


"Tidak papa. Ini adalah yang terbaik. Tidak usah disesali,"


Pak Karya tersenyum dengan menipis kan kedua bibirnya.


"Ayo kita kembali ke rumah Pak Jono. Sementara ini kita tinggal dirumah pak Jono..." ucap Rangga.


"Ayo...."

__ADS_1


.


Sementara itu, tiba-tiba ada kebakaran besar di rumah pak Danar. Entah dari mana api itu berasal, tiba-tiba kamar yang biasa di gunakan untuk memanggil ni anker sudah terbakar separuh nya.


Pak Danar yang saat itu baru saja pulang terkejut melihat api begitu besar di atap rumahnya.


"Kebakaran! Kebakaran!" Dia berteriak tapi tidak ada warga yang mendengarnya. Semua warga sedang bergotong royong membersihkan puing-puing di bekas rumah kosong itu.


"Dimana para warga? Kenapa tidak ada satupun yang kelihatan di rumah mereka?"


"Aku harus memadamkan apinya!


Karena tidak ada warga yang membantu, akhirnya pak Danar berlari mengambil air dan memadamkan api sendirian.


Namun upayanya tidaklah sebanding dengan api yang begitu besar melalap apa saja didekatnya.


Hampir semua bagian rumah itu terbakar dan api semakin bertambah besar.


Bahkan api itu sudah sampai ke dapur dan membuat ledakan yang membakar semua mobil yang terparkir di halamannya.


Pak Danar lemas tak berdaya. Api sudah tidak terkendali. Dia hanya bisa terdiam saat menyaksikan rumah dan mobilnya yang membuatnya di sebut orang kaya, kini ludes semua di lalap si jago merah.


.


Para warga kembali di sore hari dan mereka juga terkejut ketika seorang warga menyusul mereka dan menceritakan musibah yang membuat semua harta dan rumah pak Danar menjadi abu.


"Jadi, rumah pak Danar kebakaran?"


"Iya. Dan semua mobil serta harta bendanya tidak tersisa sedikitpun...."


Semua warga terdiam. Mereka lalu berbondong-bondong pergi kerumah pak Danar. Pak Danar meratapi semua harta bendanya yang hancur tak tersisa.


"Sabar pak...."


"Sabar! Sabar! Semua ini karena ulah kalian. Kalian membakar rumah kosong itu. Dan membuat Ni Anker marah! Ini semua gara-gara kalian semua!" Pak Danar melotot pada para warga.

__ADS_1


Warga terkejut dan bingung dengan apa yang baru saja dikatakan pad Danar.


"Maksud pak Danar apa? Kok ada hubungannya dengan rumah kosong. Maksudnya apa pak?"


Merasa keceplosan jika dia adalah salah satu murid Ni Anker, maka dia segera mengusir para warga dalam kemarahanya.


"Sudah! Pergi kalian semua!"


"Tapi pak...rumah bapak terbakar. Mari kita ke rumah pak Bayan...."


"Sudahlah! Cepat kalian semua pergi!"


"Ayo kita pergi....!" Para warga heran dengan sikapnya itu yang marah-marah tidak jelas.


.


Beberapa hari kemudian gosip beredar luas jika ternyata pak Danar menjadi kaya mendadak karena pesugihan dari Ni anker yang rumahnya di bawah jembatan di dekat rumah kosong.


"Hartaku......"


"Kekayaan ku...ludes semua!"


Pak Danar menjadi stress dan mendirikan gubuk dari kayu di atas rumah kosong itu.


Para warga akan mengusirnya namun mereka tidak tega. Keadaan sudah seperti orang tidak waras. Tidak berganti baju dan tidak mau bertemu dengan keluarganya.


Dia juga tidak mau pulang ke rumahnya. Dia sekarang mendirikan gubuk kecil di atas puing rumah kosong itu.


Dan Sintia serta keluarganya sudah pindah ke rumah yang baru.


Tamat


Teruntuk Readers semua🥰😁


Terimakasih sebanyak-banyaknya atas dukungan kalian😘🥰

__ADS_1


Maaf, jika ada salah dalam kata dan penulisan 🙏😁


__ADS_2