
"Apa yang terjadi denganmu?" Ibunya langsung memeluk Sintia.
Semua warga bersyukur karena akhirnya berhasil menemukan Sintia.
"Mari pulang nak...."
Karena gemetar dan dalam kondisi tertekan, Sintia bahkan tidak bisa berdiri dengan tegak.
Kakinya terus gemetaran membayangkan apa yang baru saja terjadi dengannya.
Mereka lalu membawa Sintia kerumah salah seorang warga terlebih dahulu.
Beberapa warga masih berkumpul sekedar untuk duduk-duduk dan bercerita.
Mereka kembali teringat akan awal mula rumah itu menjadi sarang hantu.
Pak Karya masih saja tidak percaya dan menganggap itu hanya takhayul saja. Dan perihal Sintia, dia berfikir jika dia tidur lalu berhalusinasi dan berjalan keluar rumah.
"Saya sudah dua kali melihat kepala tanpa badan di depan rumah itu," ujar seorang warga yang biasa pergi ke pasar tengah malam.
"Aku juga melihat wanita tanpa wajah dengan baju putih membonceng motorku," imbuh seorang lagi.
Pak Karya menatap para warga yang antusias menceritakan beberapa kejadian yang mereka alami.
"Pak, apakah ada kejadian aneh setelah bapak tinggal di sana?"
"Tidak ada,"
"Syukurlah jika begitu....." Beberapa warga saling tatap dan kaget.
"Pak ayo pulang, sudah malam...." ucap Bu Ratih.
Pak Karya dan Bu Ratih lalu pamit pada para warga yang rupanya masih enggan untuk pulang.
"Rangga! Kamu dimana?" teriak Bu Ratih ketika baru masuk kerumah dan tidak melihat Rangga.
"Ah....itu ibu datang...!"
Rangga mengucek matanya karena ternyata dia ketiduran di kamar mandi.
"Bu....."
"Rangga kamu dimana? Ini Sintia sudah pulang!"
Ibunya tetap berteriak dan Rangga tidak kunjung datang.
"Bu....aku dikamar mandi!"
Sintia mendengar suara kakaknya dari dalam kamar mandi.
"Rangga di kamar mandi Bu...."
"Bu....keluarkan aku dari sini!" Teriak Rangga berusaha membuka pintu kamar mandi namun tidak bisa.
"Apa katanya?"
Bu Ratih lalu mendekati kamar mandi di dekat ruang tamu.
"Bu....pintunya terkunci dari luar....!" Rangga berusaha memberitahu ibunya.
"Pintunya di kunci? Siapa yang menguncinya?!"
Klek!
Ibunya lalu membuka kuncinya dan melihat Rangga basah kuyup.
"Apa yang kamu lakukan didalam? Lekas ganti bajumu?"
"Ada yang mengunci pintunya dari luar," ucap Rangga.
"Siapa? Hantu!?" Ibunya nampak kesal. Tadi Sintia dan sekarang Rangga.
"Kalian berdua, ayo makan dulu. Setelah itu baru tidur...."
"Kami tidak lapar Bu...." jawab mereka berdua bersamaan dan saling pandang.
Rangga dan Sintia lalu naik ke kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
Dibawah, Bu Ratih membereskan meja makan dan suaminya malah tertidur di sofa karena kelelahan.
krucuk! krucuk! krucuk!
Suara air mengalir di kamar mandi.
"Siapa!?"
"Sintia! Rangga!"
Tidak ada sahutan.
Bu Ratih lalu membuka pintu kamar mandi dan tidak ada siapapun disana.
"Ahh....mungkin karena lelah aku juga berhalusinasi...."
.
Satu Minggu kemudian,
Rangga pergi ke kampus dan bertemu dengan Toni. Toni dan ayahnya adalah pemburu hantu.
Mereka sering di undang untuk mengusir para hantu. Ayahnya dan Toni punya semacam Indra ke enam. Mereka bisa melihat hantu sekaligus memindahkannya.
"Hai...kita sudah sering ngobrol di dunia maya kan?"
"Woiiii Toni...." Rangga memanggil dengan suara khasnya.
"Hai bro....kuliah disini?"
"Baru pindah. Ohh ya....gue denger Lo bisa ngusir roh kan? Kebetulan, dirumah gue ada roh yang suka usil. Gue sebenernya ngga percaya begituan, tapi...adik gue, dia butuh lo..."
"Dimana rumah Lo...."
"Ini alamatnya. Datang nanti malam ya. Gue penasaran juga..."
"Ok. Sampai ketemu nanti malam...."
Pulang kuliah, Rangga menunggu Sintia, namun dia tidak kunjung datang dan membuatnya kesal.
"Kemana nih anak!"
"Nisa. Nanti malam, main ya kerumah ku. Ada yang ingin aku tunjukkan padamu,"
"Apa!?"
"Ini....."
Gambar hantu yang pernah di lihat oleh Sintia.
"Itu cuma mitos. Tidak benar!"
"Makanya, lo datang ya. Kakak gue awalnya juga ngga percaya. Tapi setelah dia melihatnya sendiri, sekarang dia percaya jika ada hantu di rumah gue,"
"Wah, kebetulan nih! Nanti gue ajak si Rudi. Dia paling demen sama yang namanya hantu,"
"Kenapa?"
"Biasa. Dia suka pasang itu tuh!"
"Ohh...dasar!"
Sintia melambai pada Nisa, teman barunya.
"Ngapain sih Lo. Lama amat! Ayo buruan!"
Rangga sudah duduk di motornya dan ketika Sintia sudah naik di belakangnya, diapun langsung pulang dan akan bilang pada ibunya jika teman-teman nya akan datang.
Malam hari, Toni datang dan merasakan hawa negatif di sekitar rumah Rangga.
"Mereka sepertinya tidak sedikit. Aku bisa merasakan kehadiran mereka di sekitar sini...." gumam Toni ketika memarkir mobilnya.
Tidak lama kemudian, Nisa juga datang bersama Rudi.
"Hai....!" sapa Toni ketika melihat Nisa. Sudah lama dia naksir padanya tapi dia tidak berani mendekati nya.
Dan tidak disangka jika mereka akan bertemu di rumah Rangga.
__ADS_1
"Toni..."
"Nisa!"
Toni menjabat tangan Nisa dengan sangat kuat.
"Kenalkan...Rudi...kami satu kelas dengan Sintia...."
"Ohh....aku teman Rangga... ayo masuk!"
"Silahkan masuk!" Bu Ratih mempersilahkan teman-teman anaknya untuk masuk. Suaminya sedang pergi ke luar kota untuk pekerjaan barunya.
Selama Pak Karya ke luar kota, beberapa hal aneh sering terjadi dirumah itu. Dari kran yang menyala sendiri, televisi yang tiba-tiba mati atau hidup. Lampu yang kadang mati dan kadang hidup.
Bahkan kadang pintu bisa terbuka dan tertutup dengan sendirinya.
Untuk saat ini, mereka tidak terlalu waspada karena hanya sebatas keanehan yang tidak berbahaya. Namun, Sintia tetap merasa takut karena hanya dia yang sering melihat penampakan menyeramkan di rumah itu.
"Kita mulai sekarang?" tanya Rangga pada Toni.
"Kita mulai dari kamar Sintia!"
"Oke baiklah...."
Mereka berlima ke kamar Sintia. Toni meminta agar lampu dikamarnya di matikan saja.
"Matikan lampunya. Dan tutup pintunya," ucap Toni.
Mereka duduk bersila dan Toni paling depan. Dia memejamkan matanya dan mulutnya mengucapkan berbagai mantra.
"Ada satu di pojok kanan....." ucap Toni dan Nisa merasakan jika bulu kuduknya mulai berdiri.
Dia tidak percaya hantu, tapi dia merasa kan jika angin bertiup di dekat telinganya.
"Nisa....duduklah disana...."
Bisa lalu duduk di pojok kamar Sintia.
"Apa yang kau rasakan?"
"Sesuatu yang membuat jantungku berdebar lebih kencang...."
"Jadi... sekarang kau percaya jika mereka ada?"
"Entahlah...."
"Kembali duduk di belakang ku....aku harus membersihkan kamar ini...." kata Toni.
Toni mulai membaca mantra dan tiba-tiba sebuah balok dilemparkan ke arahnya entah dari mana.
Crassshhhh!
Toni sempat menghindar tapi kepalanya tetap berdarah.
"Awas!" Rangga berteriak.
"Tidak papa. Mereka keras kepala rupanya!"
"Mereka mau pergi?" tanya Rangga.
"Tidak!"
"Lalu...."
"Kita harus bertarung. Mereka tidak mau pergi dan mengatakan jika mereka sudah lama tinggal disini,"
"Nyalakan lampunya...."
"Kau berdarah....." Sintia segera mengambil kotak obat dan mengobati luka di kening Toni.
"Kami membutuhkan bantuan mu. Kau adalah sasaran pertama mereka...."
"Kenapa?" Sintia terkejut.
"Karena mereka menyukai mu. Kau bisa melihat mereka dan ini pertama kalinya bagiku untuk mengusir arwah namun jumlah mereka sangatlah banyak...."
"Jadi kau tidak bisa melakukannya?" Rangga dan Sintia berpandangan.
__ADS_1
"Aku akan berusaha...."