Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 19 Shock


__ADS_3

Rangga dan Sintia akhirnya sampai dirumah Pak Jono. Mayat Bu Ratih sudah di bawa kesana untuk di bersihkan dan di sholatkan.


Rangga dan Sintia bingung melihat para warga membuat tenda dan semua warga sekampung tumpah di sana dalam kesibukan.


Ini pertama kalinya Rangga dan Sintia melihat para warga bergotong royong dan berkumpul di satu rumah seakan ada pesta disana.


Ada yang sedang mendirikan tenda. Ada yang memasak di dapur.


Seorang ibu berbisik ke telinga mereka.


"Ibu kalian sudah meninggal nak,"


"Innalilahi wa innailaihi rojiun!"


Rangga dan Sintia saling bertatapan. Wajah mereka membeku dan shock.


Sintia memeluk Rangga dalam tangis yang pecah tak terbendung lagi.


Dadanya terasa sesak. Dunianya terasa sempit. Hatinya hancur dan sedih.


"Rangga....ibu kita....hiks...hiks!"


"Sabar Sintia...." Rangga dalam hati sebenarnya juga sedih dan hancur, berusaha untuk tabah demi adiknya.


Tiba-tiba Sintia pingsan saking shocknya.


"Sintia....."! Dengan cepat Rangga menangkapnya. Tubuhnya yang tinggi kecil semampai terlihat sangat kurus saat ini.


Sejak ibunya sering kerasukan, dia menjadi tertekan dan tidak nafsu makan. Dia juga merindukan kehangatan ibunya sebelum mereka pindah ke desa dan mengalami hal-hal aneh seperti ini.


Beberapa saat kemudian, Rangga dan Bu Bayan memercikkan air ke wajahnya. Semua orang sedih melihat keadaanya. Para wanita tak berhenti mengusap airmatanya karena musibah yang menimpa keluarga Pak Karya begitu tragis.


"Ibu......." mulutnya menyebut nama ibunya dengan lemah.


"Lihatlah ibumu untuk yang terakhir kalinya. Dia akan segera di makamkan...." bisik Bu Bayan lirih ke telinganya.


Sintia mengangguk dengan lemah. Rangga menuntunnya ke samping ibunya yang telah di mandikan dan berbaring akan segera di makamkan.


"Ibu........"


Sintia berdiri lalu berbisik ke telinga ibunya di bantu oleh Bu Bayan dan meminta maaf serta mendoakannya. Setelah itu ibunya di angkat dan akan segera di makamkan.


.


Sore hari


Pulang dari acara pemakaman Sintia nampak sendirian di teras rumah pak Jono.


"Kau belum makan sejak tadi, makanlah sedikit," Rangga duduk disampingnya.

__ADS_1


Sintia menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana aku bisa makan Rangga. Aku masih tidak percaya jika ibu sudah tiada. Itupun dengan cara yang seperti itu. Aku sangat sedih...."


"Makanlah sedikit. Kau bisa sakit jika tidak mau makan,"


"Aku tidak berselera Rangga. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan pikirkan esok hari. Ibu telah tiada. Ayah koma. Hanya kita berdua. Apa yang harus kita lakukan Rangga?"


"Sintia. Kita tidak sendirian. Ada warga bersama kita. Mereka orang-orang yang baik. Kita pasti akan membalas semua arwah itu. Tapi sekarang kau makan dulu ya?"


Sintia masih menggeleng dan enggan untuk makan. Tidak peduli berulang kali terdengar suara gemericik dari dalam perutnya yang kosong sejak tadi pagi.


"Jika kau tidak makan, maka aku juga tidak akan makan!" ujar Rangga.


Sintia akhirnya mengangguk dan tidak ingin melihat Rangga sedih. Karena jika dia tidak mau makan, Rangga juga tidak mau makan.


Pak Jono dan Bu Jono, juga Bu Bayan dan Pak Bayan melihat dari dalam rumah sambil membereskan beberapa sisa makanan.


Mereka tidak berhenti mengusap airmata yang terus menetes melihat dua kakak beradik itu makan dengan airmata yang tetap jatuh di pipinya karena kehilangan orang yang mereka cintai.


"Kasihan mereka ya...pak?"


"Ibu Bu....."


Sintia hanya makan sedikit.


"Sudah Rangga...." ucap Sintia ketika Rangga akan menyuapinya.


"Tidak...." Sintia menoleh ke semak-semak.


Tiba-tiba matahari nampak seperti akan tenggelam. Mendung menyelimuti seluruh desa. Suasana cerah seketika berubah menjadi gelap seakan malam akan tiba.


"Seperti mau hujan ya pak...." bisik Bu Jono.


"Ibu.......!" Sintia tiba-tiba berjalan ke arah semak-semak itu.


"Sintia! Kau mau kemana?" Sintia tidak mempedulikan Rangga dan terus berjalan ke arah semak-semak itu.


Rangga mengejarnya ketika Sintia berlari seakan memeluk seseorang.


"Ibu ......." Sintia memeluk udara. Rangga dan Pak Jono serta Bu Jono yang ikut mengejar Sintia terpana.


"Sintia....." Rangga berdiri di belakangnya.


Rangga bingung namun dia segera sadar jika Sintia bisa melihat hal gaib yang tidak bisa di lihat olehnya.


"Ibu....aku sangat merindukanmu...." Sintia tidak peduli pada orang lain yang heran dengan tingkahnya.


Dia terus berbicara sendiri.

__ADS_1


"Ibu....bawa aku bersamamu...."


Sintia merasa jika pelukan ibunya semakin mengendur.


Seakan Sintia melihat ibunya terbang semakin tinggi. Terlihat dari salah satu tangan Sintia yang berusaha menggapai tangan ibunya.


"Ibu.....jangan pergi....!"


"Sintia!" Rangga berteriak ketika Sintia tiba-tiba pingsan.


Untunglah Rangga berhasil menangkap tubuhnya hingga tidak jatuh ke tanah.


"Sintia....bangun!" Rangga mengusap rambut adiknya.


Pak Jono dan Bu Jono mendekati nya.


"Ayo nak Rangga. Bawa Sintia masuk kedalam. Udaranya semakin dingin...."


Mereka lalu masuk kedalam. Dan saat itu sepasang mata nampak mengawasi dari semak-semak.


Dia adalah Pak Danar. Dia tersenyum menyeringai dan berbalik.


Pak Danar pulang kerumahnya dan masuk ke kamar rahasia. Sejak beberapa bulan terakhir ini dia menjadi kaya raya. Dan entah sejak kapan dia melakukan ritual pemujaan roh didalam kamarnya.


Karena sejak ada kamar rahasia itu, uang terus saja menumpuk dilemari di kamar rahasia itu.


"Ni anker....datanglah....."


Wussshhhhh


Angin tiba-tiba berhembus didalam kamar seakan menandakan kedatangan seseorang.


"Terimakasih....kau sudah memberikan tumbal untukku! Lain kali....aku dan anak buahku tidak akan membantumu,"


"Baik ni....apakah sampai satu tahun ini saya tidak perlu memberikan tumbal lagi?"


"Tidak. Kau akan memberikannya hingga tahun depan,"


"Baik ni...."


Ternyata pak Danar menggunakan Bu Ratih sebagai tumbal pertamanya. Pak Danar yang mendadak di mintai tumbal oleh Ni Anker awalnya kebingungan mau nyari siapa dan kemana.


Jika mengorbankan orang satu kampung maka dia takut akan bernasib sama seperti tetangga sebelah. Dia dibakar hidup-hidup setelah setiap tiga bulan sekali mengorbankan tetangganya sebagai tumbal pesugihan.


Setiap tetangganya lewat didekat rumahnya, maka esok harinya akan menjadi incarannya, diberikan makanan dan uang lalu mati secara mendadak.


Lama-kelamaan para warga mulai curiga. Karena setiap ada yang meninggal, satu Minggu kemudian, dia membeli satu unit mobil mewah. Hingga saat ini di halaman rumahnya telah terparkir 9 mobil mewah. Dan kini mobil itu tidak ada yang memakainya setelah beberapa saat lalu pemiliknya mati karena kemarahan warga.


Pak Danar dan rumah kosong itu tentu mempunyai hubungan. Pemujaan pada iblis pemberi pesugihan ada di bawah jembatan. Jembatan itu ada didekat rumah kosong itu. Dan rumah kosong itu sebagian besar berisi anak buah iblis yang menghuni bawah jabatan selama ratusan tahun.

__ADS_1


Dan naasnya pemilik sebelumnya juga meninggal secara mendadak. Namun karena mereka pendatang dari luar kota, maka tidak ada yang curiga kenapa dia meninggal hingga lahirnya rumah itu terbengkalai dan menjadi sarang hantu.


Kini hal tidak wajar kembali terjadi dengan meninggalnya Bu Ratih.


__ADS_2