Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 24 Pertarungan sengit


__ADS_3

Tiba-tiba dari arah jalan berbondong-bondong para hantu berjalan untuk menyelamatkan rumah mereka. Dan para warga yang sudah di usapkan air suci bisa melihat para hantu.


Biasanya mereka tidak bisa melihat mereka. Namun kali ini mereka bisa melihatnya.


"Bawa bambu yang di ujungnya sudah di berikan air suci!"


"Jika mereka melawan, maka sabetan pada tubuhnya!" ucap Toni.


"Ya.....kami sudah siap berperang melawan para arwah itu!"


Ni Anker berada di barisan paling depan. Di belakangnya ada berbagai macam wujud anak buahnya. Mereka memiliki wajah yang menyeramkan, namun para warga sudah tidak takut lagi karena sudah mempersiapkan semuanya.


Danar di tangkap karena di anggap melawan warga dalam pengaturan rumah itu. Sekarang dia di amankan di rumah pak Jono. Para warga terpaksa mengurungnya karena dia sudah membantu para arwah dan menghalangi penghancuran rumah kosong itu.


"Danar sudah aman pak! Dia ada dirumah pak Jono!" ucap salah seorang warga pada Pak Bayan.


"Apa yang di pikirkan pak Danar? Kenapa dia membela para hantu itu?"


"Sepertinya ini ada sangkut pautnya dengan kekayaan yang dia miliki pak. Kami curiga dia memuja salah satu arwah itu. Pasti dia memuja ni Anker!"


"Ya...kau benar!"


"Jangan-jangan Danar yang sudah mengabari Ni Anker dan mereka datangi belum pesta selesai!"


"Itu juga masuk akal!"


"Lihat, mereka semakin dekat?" kata Toni memperlihatkan perjalanan mereka pada sebuah kaca ajaib yang dia miliki dari peninggalan leluhur.


"Cepat hancurkan rumah itu dan jangan berhenti. Kami akan menghadang mereka!" ucap Toni dan Rangga.


Toni bersemedi lalu melakukan pembicaraan secara pribadi dengan Ni Anker sebelum pertumpahan darah terjadi.

__ADS_1


"Hai Ni Anker! Aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini. Kau juga jangan ganggu para warga lagi! Aku sudah mempersiapkan rumah untukmu dan anak buahmu. Di tengah hutan larangan ada rumah. Kau dan anak buahmu bisa pindah kesana!" Toni berbicara dalam semedinya sebelum pasukan arwah itu semakin dekat.


"Aku tidak akan menuruti mu...hehehehe!" Ni Anker tertawa terbahak dan menyuruh anak buahnya untuk segera menghancurkan para warga yang sudah membakar rumahnya.


"Baiklah jika begitu!" kata Toni lalu membuka matanya dan berdiri.


Dia menghadap pada para warga yang sudah berbaris dengan senjata ditangannya.


"Aku sudah bicara pada pemimpin mereka. Mereka tidak mau mundur dan kita akan melawan sampai titik darah penghabisan!"


"Siap!"


Para warga tidak gentar dan takut lagi. Mereka ingin agar kehidupan warga desa aman kembali dan tidak ada teror lagi.


"Itu mereka!" Rangga berteriak dan maju paling depan.


Mereka juga sudah mulai maju untuk menyerang.


"Tetap bakar sampai habis!" Teriak Toni pada sebagian warga yang bertugas menjaga agar api di rumah itu tidak padam.


"Rangga! Awas!" Tiba-tiba sebuah pohon di tumbangkan oleh gendruwo yang mengarah pada Rangga.


Toni segera menarik Tangga dan naas. Dia yang terkena pohon itu.


"Toni!" Rangga berbalik dan berteriak.


Rangga lalu menarik Toni yang kakinya tertindih pohon yang di tumbangkan itu.


Sebagian arwah ada yang melarikan diri saat melihat jika bambu itu sudah di mantrai.


Toni yang tidak bisa berjalan lalu bersemedi memanggil keris saktinya peninggalan dari leluhurnya yang belum pernah dia gunakan.

__ADS_1


"Guru....aku butuh bantuanmu...."


"Aku membutuhkan keris saktimu..."


Peti yang tadi dibawa Toni terbuka sendiri. Lalu keluarlah keris itu dan terbang ke udara. Keris itu melayang di hadapannya.


Toni mengucapkan mantra dan akan mengarahkan keris itu pada Ni Anker.


Dia harus menumbangkan pemimpin mereka, agar pasukannya mundur dan tidak banyak korban jiwa dari para warga desa.


Slingghhh!


Swossss!


Keris itu terbang ke arah Ni Anker yang sedang terbang di atas rumah dan mendatangkan air dari sungai untuk memesankan apinya.


Crassshhhh!


Ni anker tidak bisa menghindari keris itu. Diapun jatuh kedalam kobaran api.


"Aaaaaa panaaaasss!"


Terdengar teriakan dari dalam rumah yang sedang terbakar.


Toni lalu mengucapkan mantra dan ni anker semakin berteriak.


Api ini adalah api yang sudah di mantrai. Jadi hantu yang masuk akan terbakar didalamnya.


Para anak buah Ni anker yang mendengar teriakan pemimpin nya satu persatu melarikan diri. Mereka menjauhi tempat itu dan tidak ada satupun yang tersisa.


Jam tiga dini hari.

__ADS_1


Api itu benar-benar sudah membakar habis rumah yang kini tinggal puing-puing nya.


"Besok kita akan meratakannya dengan tanah. Semua puingnya harus di buang tanpa tersisa. Lalu kita akan menanami tanaman palawija disini. Dan tidak akan lagi ada hantu yang bersarang di pekarangan ini!" ucap Rangga sambil menahan dadanya yang terkena hantaman sebuah ranting.


__ADS_2