Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 22 Sintia keberatan


__ADS_3

Rangga lalu menemui Sintia dan menceritakan niatnya untuk memanggil roh ibunya.


"Jangan Rangga, ibu sudah tenang disana. Kenapa kita harus mengusiknya lagi," Sintia terbelalak dan tertunduk dengan sedih.


"Sintia, hanya itu yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan ayah dan juga korban berikutnya," Rangga berusaha membujuk Sintia.


Rangga tahu, tidak mudah bagi Sintia untuk melakukan hal ini. Namun jika ini dilakukan maka akan menyelamatkan banyak jiwa.


"Mereka semakin brutal. Jika kita membiarkan mereka semakin kuat. Maka bertambahnya kekuatan mereka, akan semakin sulit untuk di kalahkan...."


Sintia mengangkat sedikit dagunya. Dia menatap ke jendela dan menatapnya dengan kosong.


"Sintia... pikirkanlah baik-baik, yang kita lakukan ini akan dibantu oleh para warga,"


"Aku takut Rangga. Setelah ibu tiada. Ayah koma. Hanya kau satu-satunya keluargaku. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu....hiks!"


Sintia mulai menangis. Dia benar-benar takut kehilangan Rangga. Dia tahu betul kekuatan para makhluk gaib itu. Mengalahkanya tentu tidaklah mudah.


Rangga memahami ketakutan yang dirasakan adiknya. Rangga lalu mendekatinya dan memeluknya.


"Tidak akan terjadi apa-apa denganku. Kau jangan cemas,"


"Berjanjilah kau akan baik-baik saja," Sintia menggenggam tangan Rangga dan jantungnya berdegup kencang.


Sintia sangat cemas dan khawatir akan keselamatan Rangga.


"Kau tetap disini dan jaga ayah. Jika ada apa-apa segera telepon aku. Aku dan Toni serta warga desa akan mempersiapkan semuanya,"


"Iya....jaga dirimu...." Sintia menatap Rangga agak lama. Lalu memeluknya sekali lagi.


Rangga tersenyum tipis dan mengangguk lalu memegang kedua pundak Sintia.


"Kau juga jaga dirimu,"

__ADS_1


Rangga pulang karena ayahnya masih tetap koma. Keadaanya sama persis seperti ibunya.


.


Semua warga desa sudah berkumpul dirumah Pak Bayan. Mereka bermusyawarah soal mengusir para arwah yang sudah meresahkan warga.


"Kita mulai dari mana pak?"


"Tunggu Rangga dan temannya datang, temannya itu katanya bisa mengusir para arwah penasaran itu,"


Dari kejauhan terlihat sebuah mobil hitam mendekat. Tidak lama kemudian Rangga dan Toni turun. Mereka membawa sebuah kotak kecil mirip peti warisan dari leluhur Toni yang diberikan ayahnya.


Rangga dan Toni mendekati warga desa ya g sudah duduk di serambi yang ada bale-bale nya.


"Maaf pak, kami terlambat. Tadi ada kendala sedikit di jalan," ucap Rangga sopan.


"Tidak papa nak. Kita juga baru pada datang. Mari kita mulai saja,"


"Dimana nak?"


"Ada di bawah jembatan!"


"Maksudnya...."


"Dibawah jembatan ternyata ada sumur tua yang sudah berumur seratus tahun. Didalamnya ada seorang nenek penunggu yang saat ini justru sering di minta oleh beberapa orang untuk pesugihan. Selain itu, karena ada rumah kosong di dekat sungai, maka mereka membuat semacam kerajaan hantu. Jika di biarkan maka akan semakin kuat dan meresahkan warga. Beberapa orang memanfaatkan mereka untuk pesugihan, dan mereka meminta tumbal sebagai imbalannya,"


"Apa?"


"Benar yang dikatakan Rangga. Ayah sudah memberitahu saya. Saya terpaksa memanggil roh ayah karena ini benar-benar harus di basmi,"


"Jika begitu, mari kita kesana!"


"Tunggu dulu pak. Kita akan melakukannya ketika mereka semua pergi?"

__ADS_1


"Memang mereka pergi kemana?"


"Mereka menghadiri perayaan di sungai rawa-rawa. Mereka akan ke sana dan meninggalkan rumah kosong serta jembatan itu,"


"Lalu apa yang harus kita lakukan?


"Selama mereka pergi, kita akan membakar rumah itu dan juga menutup sumur di bawah jembatan,"


"Baiklah....."


"Pak...harus selesai dalam tiga jam. Dan setelah itu mereka akan marah dan mengamuk,"


"Saya sudah mempersiapkan air suci ini untuk di siramkan sepanjang pinggir desa. Mereka tidak akan bisa masuk ke desa dan mengganggu para warga selama kita membuat kesepakatan dengan mereka,"


"Apa kesepakatan itu?"


"Saya akan memindahkan mereka semua ke sebuah hutan terlarang. Disana ada sebuah rumah kosong. Dan rumah itu jauh dari warga. Sehingga keberadaan mereka tidak akan mengganggu warga lagi," ucap Toni.


"Baiklah, saya setuju dengan idemu. Pak Jono yang akan menuangkan air suci mengelilingi desa agar selama pembakaran rumah berlangsung, tidak ada hantu yang masuk dan mengganggu warga desa,"


"Ya. Saya akan menuangkan air sucinya...." jawab Pak Jono.


"Tapi....apakah Rangga dan Sintia tidak keberatan dengan penghancuran rumah itu?"


"Tidak pak. Saya sudah memberitahu pihak yang tadinya menjual rumah itu dengan harga murah, dia sudah mempersiapkan pengganti nya. Rumahnya memang lebih kecil tapi kami tidak keberatan,"


"Baiklah jika semua sudah siap. Jika tidak ada pihak yang dirugikan dengan penghancuran rumah itu, maka tidak akan ada masalah setelahnya,"


"Tenang saja pak, kalau soal itu,"


Para warga berbondong-bondong pergi ke rumah kosong dan ke pinggir jembatan. Mereka membawa obor dan kata Toni penghancuran berlangsung dari jam 12 hingga jam 3 pagi. Karena setelah itu para hantu akan kembali.


Jika rumahnya sudah hancur, maka mereka tidak akan tinggal lagi disini dan mengganggu para warga.

__ADS_1


__ADS_2