Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab18 Roh keluar dari raga


__ADS_3

Pak Karya tersungkur dilantai dengan bersimbah darah.


Dia tidak sempat mengelak ketika kapak itu menghantam tubuhnya.


"Ayaaahh!"


Rangga segera berlari menolong ayahnya yang hampir ambruk. Beberapa warga yang juga bertarung dengan para arwah akhirnya berhenti dan menghampiri Pak Karya.


Mereka segera membawa pak Karya keluar dari rumah itu.


"Kita selamatkan pak Karya dulu! Sebelum dia kehabisan darah!"


Rangga dan beberapa warga keluar dari ruang itu dan di iringi tertawa cekikikan para arwah karena mereka telah menang.


Tangga membawa ayahnya ke rumah sakit. Dan saat sampai disana, Sintia terkejut melihat ayahnya terluka.


"Ayah....apa yang terjadi dengan ayah!"


"Para arwah itu pelakunya!" jawab Rangga dan langsung memanggil dokter.


"Dokter! Tolong selamatkan ayah saya. Dia mengeluarkan banyak darah!"


Rangga terlihat sangat panik. Ada luka terbuka akibat jantan kapak itu. Dan darah tidak berhenti mengalir sejak tadi. Bahkan pak Karya tidak sadar hingga kini.


"Kalian tunggu disini,"


Rangga dan Sintia menunggu di luar ruangan. Dokter sedang melakukan tindakan untuk menyelamatkan pak Karya.


Rangga menatap Sintia dengan perasaan bercampur aduk!


Mereka lalu saling berpelukan tanpa berkata-kata lagi.


"Ibu...kau tidak menemukan nya?"


"Ibu ada disana. Tapi ketika kami akan menyelamatkan nya, ayah malah terluka. Para arwah itu sangat banyak dan kami tidak bisa menghadapinya,"


"Aku sedih Rangga. Ayah terluka dan ibu ada disana. Entah apa yang dilakukan para arwah itu padanya,"


"Aku juga sangat sedih. Sama seperti dirimu?"

__ADS_1


Rangga duduk dan tertunduk kelantai. Pak Bayan mengelus bahunya.


"Sabar nak. Semoga saja ibunya baik-baik saja. Dan ayahmu juga kembali pulih,"


"Terimakasih pak...."


Pak Bayan tidak tega meninggalkan Rangga dan Sintia hanya berdua saja dalam keadaan kalut. Mereka datang dari kota dan masih asing disini. Jika ada hal apa-apa maka harus ada keluarga atau tetangga yang membantunya.


setelah berjam-jam akhirnya dokter keluar dan menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana dokter?"


"Pak Karya koma,"


"Ya Tuhan.....!" Rangga dan Sintia menjadi lemas dan tak bertenaga bahkan untuk berdiri.


"Ayah....ibu....!"


Sintia masuk ke dalam dan dia melihat ayahnya sedang tertidur dengan lelap seakan dia tidak sakit. Tapi dia koma. Artinya tidak bisa di ajak berbicara dan ayahnya akan diam begitu terus hingga dia sadar dari komanya.


"Ayah....."


.


Sementara di rumah kosong, para arwah sedang mengitari Bu Ratih. Dan perlahan-lahan sebuah asap putih keluar dari raga Bu Ratih.


Asab itu lalu di hirup oleh salah satu pemimpin mereka agar bertambah kuat.


Bu Ratih sudah di jadikan tumbal dan kini tidak bisa kembali hidup lagi. Dia benar-benar sudah meninggal dunia.


Keesokan paginya para warga berbondong-bondong lagi untuk masuk kedalam rumah kosong itu.


Jika siang hari para arwah tidak berani menampakkan diri. Entah kemana perginya mereka. Yang jelas mereka hanya akan terlihat saat malam hari saja. Dan mereka menjadi kuat saat malam hari.


"Ayo kita masuk!"


Para warga melihat keadaan ruang tamu yang sangat berantakan bekas pertarungan semalam.


Dan saat mereka menoleh di ruang tengah, mereka melihat sebujur orang terbaring dengan ditutup kain mori putih dari kepala hingga kaki.

__ADS_1


"Ayo kita lihat!"


Mereka mendekatinya dan terkejut saat penutup kain itu dibuka.


"Astaga! Bu Ratih!"


"Apa masih hidup pak!"


Pak Jono nampak menggelengkan kepalanya.


"Sudah tidak bernafas. Sepertinya baru meninggal tadi malam...."


"Ya Tuhan.....!"


Mereka lalu menghubungi Rangga dan Sintia yang saat ini berada dirumah sakit untuk menunggu i ayah mereka yang sedang koma.


"Kami menemukan ibumu...."


"Apakah ibu baik-baik saja!?" Tanya Rangga dan Sintia melalui telepon.


"Kamu kemari saja nak. Kalian berdua. Cepatlah. Datang kerumah Pak Joni,"


"Iya pak. Kami akan segera datang...."


Tangga dan Sintia saling berpandangan.


"Apakah kita akan meninggalkan ayah sendirian disini?"


"Kita bisa minta tolong pada suster yang jaga. Tapi kita harus kesana. Pak Joni tadi mengatakan kita berdua harus datang ke rumahnya," ucap Rangga.


"Baiklah jika begitu...."


Sintia nampak bicara dan mengatakan sesuatu pada seorang suster. Lalu dia berjalan ke arah Rangga yang sudah menunggunya.


"Ayo Rangga!"


Mereka berdua berboncengan naik motor ke desa. Mereka tidak sabar untuk melihat keadaan ibunya.


Para warga sengaja tidak memberitahu jika ibunya sudah tiada. Mereka ingin agar anaknya datang dengan selamat dan tanpa rasa cemas. Baru setelah mereka sampai maka akan di beritahu yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2