Penghuni Rumah Kosong

Penghuni Rumah Kosong
Bab 25 Kemenangan


__ADS_3

Rangga dan Toni serta para warga desa yang terluka di bawa oleh pak Bayan ke rumah sakit. Pak Bayan yang bertugas untuk menjaga api agar tetap menyala tidak terluka. Yang terluka adalah mereka yang bertarung dengan para arwah.


Sintia terkejut saat melihat Rangga berdarah di bagian dada. Diapun menghambur memeluknya.


"Rangga...." Sintia terlihat panik. Dia lalu menoleh pada Toni, dia juga terluka di bagian kakinya.


"Kalian semua terluka?"


"Tidak papa. Jangan panik. Ini hanya luka kecil. Kabar bahagia nya adalah, kami menang dan para arwah itu kalah,"


"Jadi....kalian berhasil mengusir para arwah itu?"


Sintia tidak bisa menahan tangis bahagia nya.


Tiba-tiba suster keluar dan memanggil Sintia.


"Mbak Sintia, Pak Karya sudah sadar..."


"Apa?!" Sintia dan Rangga saling bertatapan.


"Aku akan kedalam. Kau dan Toni cepat obati luka kalian..."


Sintia segera masuk kedalam kamar dan dia melihat ayahnya sudah membuka matanya.


"Sintia...." samar-samar pak Karya melihat wajah putrinya yang berdiri di pintu menatapnya.


Sintia segera mendekati ayahnya dan memeluknya.


"Ayah......!"


"Sintia...."


Dokter masuk kedalam dan tersenyum pada Sintia.


"Ini sebuah keajaiban. Pasien sadar dan keadaan nya sangat baik. Besok kalian bisa pulang, Katena Pak Karya sudah pulih dengan cepat...."

__ADS_1


"Terimakasih dokter...."


Sintia menggenggam tangan ayahnya.


Deg.


Sintia segera teringat jika ayahnya belum tahu soal ibunya yang sudah tiada. Dan rumah mereka yang kini sudah dibakar untuk mengusir para makhluk gaib itu.


"Ayah....ibu...."


"Ohh ya...dimana ibumu? Aku tidak melihatnya? Tapi saat aku tidur aku seperti bermimpi bertemu dengannya. Apakah ibumu ada dirumah?"


Sintia menggelengkan kepalanya.


"Ibu sedang istirahat...." Sintia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya saat ini. Dia takut karena shock ayahnya akan terkena serangan jantung.


"Ohh...aku senang melihat kau baik-baik saja. Dimana Rangga?"


"Rangga...dia akan datang nanti sore," ucap Sintia.


Sintia terpaksa berbohong dan menunggu hingga dokter mengobati luka di dada Rangga.


Sore hari, Sintia menemui Rangga yang sudah di obatu oleh dokter.


"Ayah ingin bertemu denganmu. Apakah kau bisa berjalan kesana?"


"Dadaku yang terluka. Bukan kakiku. Tentu saja aku bisa jalan,"


Sintia tersenyum kecil.


"Kalau begitu, temui ayah. Dia sangat ingin melihatmu..."


"Baiklah. Ayo kita kesana!"


"Toni! Aku menemui ayah dulu. Kau tunggu lah disini!"

__ADS_1


"Sintia....kau bisa temani aku selagi Rangga menemui ayahmu..."


Deg.


Entah kenapa hati Sintia tiba-tiba merasa berdebar. Ini tidak seperti biasanya. Apalagi saat matanya bertemu dengan mata Toni tanpa sengaja.


"Ya. Kau bisa disini. Aku akan menemui ayah...."


Rangga lalu keluar dan kini hanya ada Sintia dan Toni.


Toni menatap Sintia dan menyadari jika adik Rangga ini terlihat cantik dan memikat hatinya.


Kesepian karena ayahnya telah tiada membuat dia merasakan kosong didalam hatinya. Dan kini tiba-tiba dia merasakan hangat saat menatap mata Sintia. Hatinya yang kosong menjadi berbunga-bunga.


"Sintia...."


"Ehm...ya...."


"Bisa bantu aku...."


"Apa....."


"Aku ingin makan....tanganku sakit. Apakah kau bisa menyuapiku?"


"Apa!?" Sintia berkata dengan nada sedikit tinggi karena kaget.


"Jika tidak mau..."


"Tidak, tidak, tidak, aku akan menyuapimu. Kau sudah banyak membantu kami. Aku berterima kasih padamu. Kau terluka juga demi kami...."


"Ahh itu...." Pipi Toni entah kenapa jadi merah jambu. Dia merasakan desiran tak biasa ketika mencium harum wangi tubuh Sintia.


Sintia juga berdebar karena di ruangan ingin hanya berdua saja dengan Toni.


Dia juga berdebar ketika mencium aroma tubuh Toni.

__ADS_1


Ahh, mereka teman dan menjadi dekat karena Masalah arwah gentayangan itu. Arwah itu sudah pergi, dan kini ada masalah di dalam hatinya.


Jatuh cinta!


__ADS_2