
"Benar! jangan ingat masa lalu lagi, kita pikirkan saja masa depan. paman berharap apapun kerjamu dan di mana kamu berada. hidupmu akan semakin membaik!" ucap Andres.
"Terima kasih, Paman!" balas ucapan Rebecca dengan senyum.
Tempat tinggal Andres.
Lucia baru pulang ke rumahnya dengan membawa banyak barang-barang belanjaannya.
"Lucia, apa yang kamu beli? kenapa begitu banyak barang yang kamu bawa?" tanya Yuly.
"Semua ini adalah pakaian kita, dan juga kosmetikku," jawab Lucia yang mengambilkan sehelai baju baru dan memberikan kepada ibunya.
"Baju ini untuk mama, cobalah untuk memakainya!"
"Lucia, kalau bisa kamu harus hemat dan jangan boros! uang tidak mudah dicari. dalam sebulan kamu sudah shopping berapa kali," ujar Yuly.
"Ma, aku adalah manager, kalau tidak berpenampilan cantik harus diletakkan di mana wajahku, lagi pula gajiku sangat tinggi jadi tidak masalah," jawab Lucia.
"Mama tahu kalau gajimu tinggi, tapi...hemat dalam pengeluaran uang tidak ada salahnya," kata Yuly.
"Sudahlah, Ma! jangan banyak ikut campur urusanku. walau aku tidak bisa menjadi dokter. setidaknya aku bisa menjadi manager yang hebat. dalam sebulan saja aku sanggup membeli mobil. dan bulan depan aku berencana ingin membeli mobil. saat itu kita bisa jalan-jalan," kata Lucia dengan bangga.
"Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu untuk membeli mobil? harga mobil tidak murah."
"Ma, karena aku adalah manager, selain mendapat gaji aku juga mendapat bonus. semua ini karena kepintaranku oleh karena itu aku bisa mendapat banyak bonus," jawab Lucia.
"Mama tidak menyangka putri mama sangat pintar," puji Yuly dengan gembira.
Nada panggilan masuk ke handphone milik Lucia.
"Hallo," sahut Lucia yang menjawab panggilan itu.
"Lucia, ada beberapa bos besar yang sedang menunggumu di sini, kau harus datang sekarang juga!" perintah seorang wanita yang di seberang sana.
"Baiklah, aku segera datang!" jawab Lucia yang memutuskan panggilannya.
"Ma, aku harus segera pergi, bos sedang menungguku. kami harus rapat!" pamit Lucia yang langsung melangkah pergi.
"Kamu belum makan, apa tidak bisa tunggu selesai makan baru pergi?" ucap Yuly.
"Tidak ku sangka Lucia begitu pintar, aku sangat bangga dengan putriku ini," gumam Yuly.
Lucia yang keburu menjumpai beberapa orang pria di sebuah hotel.
Setelah tiba di depan pintu kamar. ia mengetuk pintu tersebut.
Tuk...tuk...
Klek.
Pintu dibuka oleh seorang pria paruh baya.
"Tuan, maaf aku terlambat!" ucap Lucia.
"Kami sedang menunggumu, cepat masuklah!" sambut pria itu yang melihat tubuh Lucia dari atas hingga ke bawah.
Lucia yang melangkah masuk ke dalam melihat lima orang pria yang ada di dalam sana. mata mereka berfokus pada dirinya dengan senyum jahat.
"Nama kamu Lucia?" tanya salah satu pria itu.
"Iya," jawab Lucia yang sedikit gemetar.
"Aku mendengar bosmu mengatakan kamu sanggup melayani lima orang dalam sehari, apakah benar?"
"Iya, benar!"
"Aku penasaran dengan tubuhmu, apakah kamu begitu hebat," ucap salah satu pria itu yang menyentuh bagian bawah Lucia.
Lucia yang merasakan sentuhan itu, ia hanya terdiam dan tidak melawan.
__ADS_1
"Seribu lima ratus dollar untuk satu orang!" pinta Lucia.
"Seribu lima ratus dollar? kami ingin merasakannya dulu, baru bisa tentukan harganya."
"Tanggalkan pakaianmu!" perintah salah satu pria itu.
Lucia melepaskan pakaiannya dengan bersabar. walau dirinya merasa sangat jijik dengan mereka akan tetapi demi uang ia rela melakukannya.
"Dasar menjijikan, kalau bukan karena uang aku sangat tidak sudi disentuh oleh kalian," batin Lucia.
Lucia yang sudah tanpa sehelai benang ia berbaring di atas kasur.
Salah satu pria itu mulai melakukan hubungan intim dengan Lucia, sementara Lucia hanya bisa pasrah dan menikmati setiap hentakan pria itu.
Empat pria lain sedang menunggu giliran dengan tidak sabar, suara desa.han keluar dari pria yang sedang bergerak maju mundur di atas tubuh wanita itu.
"Ahh!"
"Rasanya lumayan, dan masih sempit," kata pria itu yang melakukan gesekan dengan cepat dan tidak lama kemudian ia mencapai puncak kenikmatan.
Setelah ia puas, salah satu temannya melakukan penyatuan dengan Lucia. mereka bergantian menikmati tubuh wanita itu.
Setelah beberapa jam kemudian mereka menghentikan aksinya setelah puas. Lucia yang harus melayani lima pria sangat kewalahan dan terbaring dengan lemas.
"Seribu dollar untukmu, ini adalah harga yang pas untukmu," kata salah satu pria itu yang memberikan lembaran dollar.
"Perjanjian adalah seribu lima ratus dollar," kata Lucia yang tidak puas dengan nominalnya.
"Jangan meminta lebih, karena dirimu bukan barang baru lagi. untuk wanita yang baru mulai, seharga tiga ribu dollar sementara dirimu sudah lama. rasa nikmatnya sudah tidak seperti mereka yang masih baru," kata pria itu dengan menghina.
"Kalian...," ucap Lucia yang terhenti.
"Ambil uangnya dan pergi dari hadapan kami, sebentar lagi akan ada wanita lain yang datang. kami belum puas bersenang-senang!"
"Aku bisa memuaskan kalian lagi, aku masih sanggup!" kata Lucia.
"Tidak perlu! kami ingin mencoba yang lain. kali ini wanita yang datang adalah orang baru yang usia delapan belas tahun. kamu boleh pergi!"
"Kurang ajar, menganggapku adalah barang lama, kalian tidak mencermin diri sendiri yang adalah pria tua tidak tahu malu," batin Lucia.
Apartemen tempat tinggal Rebecca.
Rick sedang menunggu Rebecca di ruang tamu. tidak lama kemudian Rebecca keluar dari kamarnya dengan berpakaian gaun panjang lantai,
tak berlengan, dan dipadukan manik-manik di bagian dada.
Rick yang melihat penampilan gadis itu yang seksi dan cantik ia membulatkan mata besarnya.
"Apakah gaun ini tidak sesuai untukku?" tanya Rebecca.
"Cantik sekali, gaun berwarna pink dan disertai dengan modelnya yang unik sangat serasi denganmu," jawab Rick.
"Kamu sangat pintar nemilih, aku malah tidak mengerti soal ini."
"Aku yang mengajakmu, tentu saja aku harus bertanggung jawab mencarikan gaun untukmu. dan kamu cantik sekali. aku yakin malam ini kamu pasti akan menarik perhatian para tamu di acara itu," kata Rick dengan senyum.
"Ayo kita pergi! acara akan mulai sebentar lagi!" ajak Rick yang memegang tangan Rebecca.
Acara jamuan di malam itu dihadiri oleh sejumlah tamu dari kalangan atas. Samantha bersama Sasa sedang berbincang dengan tamu lainnya. sementara Daniel bersama dengan pebisnis lain yang sudah dia kenal cukup akrab. acara itu juga disediakan berbagai jenis makanan ringan dan minuman jus dan juga anggur merah.
Daniel di temani oleh asistennya, Roey. malam itu Daniel mengenakan kemeja putih dan jas hitam. serta mengenakan dasi kupu-kupu. penampilannya sangat dewasa dan tampan. serta menarik beberapa wanita dari kalangan bisnis yang sedang menghampirinya.
"Tuan Caprio, senang bertemu dengan Anda!" sapa seorang wanita cantik dan muda dengan ramah.
"Nona Kingsley, senang bertemu dengan Anda juga," balas Daniel dengan bersulang
"Apakah kita bisa duduk bersama dan berbincang-bincang?" tanya seorang wanita yang juga tamu di malam itu.
"Tentu saja bisa! dengan senang hati!" jawab Daniel dengan senyum.
__ADS_1
Sasa yang melihat pria idamannya dikerumuni beberapa wanita ia langsung mendekati Daniel karena cemburu.
"Daniel, temani aku minum bersama!" ajak Sasa yang mengandeng tangan Daniel.
"Kita bisa minum bersama-sama, Nona Ferlando," kata salah satu tamu wanita itu.
"Apakah kalian akan keberatan kalau hanya kami berdua?" tanya Sasa dengan senyum paksa.
"Tentu saja, tidak!" jawab mereka dengan senyum.
"Kalau begitu, permisi!" pamit Sasa yang meninggalkan mereka.
"Kenapa kamu bersikap dingin? mereka adalah bagian dari perusahaan Ferlando juga," tanya Daniel.
"Aku hanya tidak suka ketika ada wanita lain yang mendekatimu," jawab Sasa.
"Aku sangat beruntung sekali karena banyak wanita cantik yang mendekatiku," kata Daniel dengan senyum.
"Apakah kamu sangat gembira di saat mereka mendekatimu?"
"Aku adalah seorang pria, sangat wajar ketika ada wanita yang mendekatiku dan tidak mungkin aku harus menjauh," jawab Daniel.
"Jangan melakukan itu, aku akan marah dengan mereka!"
"Marah untuk apa?"
"Wanita manapun yang mendekatimu aku akan marah," jawab Sasa.
"Sasa, aku tidak suka diatur, mungkin kamu harus pertimbangkan dengan baik sebelum menjalin hubungan denganku!"
"Aku tidak akan berpikir panjang ataupun ragu, aku sangat pasti dengan perasaanku dan pilihan sendiri," jawab Sasa.
Tidak lama kemudian seorang wanita yang datang menghadiri acara itu. wanita itu yang tak lain adalah Lucia yang berpakaian dress pendek dan bagian atas yang terbuka. tujuannya adalah ingin mengenal lebih banyak pria kaya yang hadir di malam itu.
"Walau aku tidak mengenal pemilik perusahaan ini, tapi... tamu begitu banyak seharusnya tidak ada yang mengenalku dan tidak akan tahu aku datang tanpa diundang. aku hanya perlu mendekati salah satu pengusaha untuk menjadi pasangannya," batin Lucia.
"Tuan, permisi!" sapa Lucia yang menghampiri seorang pemuda yang sedang berdiri di dekat meja yang terdapat banyak makanan dan minuman di sana.
"Nona, ada apa?" tanya pria itu.
"Namaku Lucia, dan aku datang mewakili temanku. tapi, aku tidak mengenal siapapun di sini. apakah Anda sudi menemaniku minum agar aku tidak canggung?"
"Silakan ambil saja minumannya dan jangan sungkan, di sini bebas ingin makan atau minum," jawab pria itu.
"Terima kasih!" ucap Lucia.
"Siapa nama Anda?" tanya Lucia.
"Namaku adalah Henry Salvion," jawabnya.
"Pria ini lumayan tampan dan bodoh, aku bisa saja mendekatinya dan menguras uangnya," batin Lucia.
Setelah beberapa menit kemudian Rick datang bersama Rebecca. saat mereka baru melangkah masuk ke dalam jamuan. semua mata berfokus pada gadis itu yang berpenampilan sangat menarik.
Senyuman Rebecca membuat para tamu pria di sana terpesona. tidak terkecuali Daniel dan Henry. Daniel langsung memandang ke arah gadis itu yang dulunya adalah simpanannya.
Lucia yang melihat gadis itu ia membulatkan mata besarnya dan timbul rasa iri terhadap adiknya itu.
"Apakah kamu mengenalnya?" tanya Lucia yang melihat mata Henry hanya tertuju pada Rebecca.
"Tidak! mungkin saja dia adalah kekasih tuan Ferlando," jawabnya.
"Aku mengenalnya," kata Lucia.
"Mengenalnya?"
"Iya, dia dulu adalah simpanan seorang pria kaya yang sudah menikah," jawab Lucia.
"Apa mungkin gadis secantik dia menjadi simpanan?" tanya Henry.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak percaya? aku bisa membuktikan padamu. dia adalah adikku. putri dari pamanku. karena dia melakukan hal yang memalukan oleh karena itu aku malu mengakuinya," jawab Lucia.