Perasaan Lama (Simpanan Season 2)

Perasaan Lama (Simpanan Season 2)
Kekesalan Yuly


__ADS_3

"Kau masih berani berkata seperti itu, apakah kau tidak memiliki hati nurani sehingga berani menghina orang tuamu sendiri," ketus Yuly dengan kesal.


"Aku bukan tidak memiliki hati nurani, tapi yang aku katakan ada nyata. papa tidak sanggup memberiku kehidupan yang mewah. apa kamu tahu aku sangat iri saat melihat anak gadis lain yang bisa hidup mewah. sedangkan aku tidak memiliki apapun," bentak Lucia.


"Kau masih tidak tahu malu ingin membandingkan kehidupanmu dengan orang lain, apakah kau tidak melihat bagaimana dengan hidup mereka? walau mereka adalah putri orang kaya tapi mereka masih membantu usaha keluarga mereka dan bukan berfoya-foya. sedangkan dirimu apa yang telah kamu lakukan untuk orang tuamu," ketus Yuly.


"Aku sudah melakukan tanggung jawabku, aku membantu biaya rumah kita. apakah masih tidak cukup?"


"Berapa bantuan yang kau berikan selama ini? apakah bisa dibandingkan dengan pergorbanan papamu," bentak Yuly.


"Ma, aku dilahirkan menjadi miskin, jadi bukan salahku. yang membuatku menderita adalah papa," jawab Lucia.


Plak...


Tamparan yang dilakukan oleh Lucia karena sangking kesalnya.


"Dosa...ini adalah dosaku, karena selama ini aku membelamu mati-matian setiap papamu memarahimu. aku gagal sebagai orang tuamu. kau terlalu dimanjakan sehingga kini kau tidak sadar diri. ini salahku...aku tidak bisa mendidikmu dengan baik," ucap Yuly yang menangis karena menyesal.


"Kau sudah dewasa tapi pikiran mu selalu tidak pernah dewasa, pria yang membesarkanmu adalah papamu. dia adalah pria yang paling peduli padamu. tapi apa yang telah kau berikan padanya selain membuatnya kesal dan tekanan," bentak Yuly.

__ADS_1


"Bibi," suara panggilan Rebecca.


"Rebecca, kamu sudah datang, kamu ke mana saja? apakah kamu pergi menjumpainya?" tanya Yuly yang menghampiri Rebecca.


"Iya, aku emosi dan pergi menjumpainya," jawab Rebecca.


"Apakah dia menyakitimu?" tanya Yuly.


"TIdak ada, Bi," jawab Rebecca.


"Tidak tahu malu! kau masih berani muncul di sini," ketus Lucia pada Rebecca.


"Kalau bukan karena kamu, aku tidak mungkin harus menanggung malu seperti ini," kata Lucia.


"Tidak ada yang menyuruhmu melakukan pekerjaan itu, dan jangan menyalahkan aku!" balas Rebecca.


"Kau datang hanya untuk menyusahkan kami saja, aku membencimu. kalau bukan karena kamu dia tidak akan melakukan ini padaku," bentak Lucia yang mendorong Rebecca.


"Lucia, cukup! jangan keterlaluan!" bentak Yuly.

__ADS_1


"Apakah karena aku melakukan pekerjaan ini sehingga memalukanmu?" tanya Lucia dengan kesal.


"Ini bukan saatnya bertengkar, pergi dan jangan pernah datang lagi!" ketus Yuly.


"Maaf, tolong jangan menimbulkan keributan di sini," ucap seorang suster yang menghentikan pertengkaran Yuly dan Lucia.


"Maaf!" ucap Rebecca pada suster itu.


"Kelihatannya di hati kalian aku adalah wanita yang murahan, malam ini aku datang sebenarnya untuk membayar biaya rumah sakit papa," ujar Lucia yang mengeluarkan seikat uang dan meletakan ke telapak tangan ibunya.


"Uang ini, apakah hasil dari jual diri?" tanya Yuly.


"Apakah perlu berkata seperti itu?" tanya Lucia yang sakit hati.


"Bawa pergi uangmu dan aku tidak butuh, walau aku butuh biaya tapi aku lebih rela menjual peralatan rumah, dari pada mengunakan uang kotor ini. aku tidak ingin disalahkan oleh suamiku," bentak Yuly yang melempar uang itu ke wajah putrinya.


"Uang ini untuk pengobatan papa," kata Lucia.


"Tidak perlu! lebih baik kau berdoa saja, semoga papamu cepat sadar," ketus Yuly dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2