
Apartemen tempat tinggal Rebecca.
Klek..
"Mulai hari ini kamu akan tinggal di sini, jarak dari sini ke perusahaan juga tidak jauh," kata Rick yang membawakan koper Rebecca melangkah masuk ke dalam.
"Di sini sangat luas, pemandangan sini juga luar biasa, aku bisa menikmati pemandangan seluruh kota dari sini," ucap Rebecca yang berdiri di balkon.
"Kamu menyukainya?" tanya Rick dengan senyum.
"Iya, aku menyukai tempat ini, terima kasih!"
"Jangan berterima kasih padaku! karena orang itu yang memperkenalkan tempat ini," jawab Rick.
"Siapa dia? apakah temanmu?"
"Kami belum seakrab itu, tapi dia adalah orang yang hebat, di acara aku akan memperkenalkan kalian. mungkin saja kamu dan dia bisa berteman. dan satu lagi, dia adalah kekasih Sasa," jawah Rick.
"Sasa adalah keponakan bibi Samantha?" tanya Rebecca.
"Benar! mereka sangat serasi sekali, semalam pria itu juga menghadiahkan kalung mewah untuk Sasa. aku yakin mereka pasti bahagia," jawab Rick.
"Selama ini aku hanya mengenal bibi Samantha, belum pernah bertemu dengan Sasa. aku tidak sabar ingin mengenalnya," kata Rebecca.
"Kalian akan menjadi teman baik, ayo kita makan dulu. aku sudah pesan makanan di restoran!" ajak Rick.
"Baiklah!" jawab Rebecca.
Hotel.
Sasa yang mabuk semalaman, akhirnya ia bangun dan bangkit berubah menjadi posisi duduk.
"Kenapa aku ada di sini, semalam aku pasti banyak minum," ucap Sasa yang sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Kepalaku berat sekali," gumam Sasa.
Gadis itu kemudian mendapati dirinya hanya mengenakan bra dan tanpa balutan apapun di bagian bawahnya.
Ia berusaha mengingat semula kejadian semalam.
"Apa yang terjadi, kenapa aku tanpa pakaian? apakah aku melakukannya dengan orang yang aku tidak kenal?" gumam Sasa.
"Aku harus tenangkan diri dulu, siapa pria itu, tapi kenapa aku tidak merasakan apa-apa? kalau saja aku melakukannya pasti ada rasa sakit," ucap Sasa yang sambil menepuk kepalanya.
Flash back off.
"Daniel, aku ingin menyerahkan diriku padamu," kata Sasa yang melepaskan celana da.lamnya.
"Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Aku sadar dan tidak menyesal," jawab Sasa yang memeluk Daniel dan mencium bibirnya. Sasa memeluk Daniel dengan erat sehingga membuat tubuh Daniel saling bersentuhan dengannya.
Tubuh gadis itu kini hanya sisa bra yang menutupi gunung kembarnya. dalam keadaan mabuk dia mengajak pria itu melakukan hubungan intim.
Posisi Daniel berada di atas tubuh gadis itu karena dipeluk erat oleh Sasa yang tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
Daniel kemudian melepaskan dirinya dan bangkit dari tubuh gadis itu.
"Sasa, kita belum menikah dan belum saatnya kita melakukan hubungan ini," kata Daniel yang kemudian melangkah keluar dari kamar itu.
Flash back one.
"Sangat memalukan sekali, kenapa aku malah menawarkan diri?" ucap Sasa yang menutup wajahnya dengan bantal
"Bagaimana aku bisa berhadapan dengannya setelah ini? sangat malu!" ketus Sasa.
"Tidak ku sangka dia adalah pria yang hebat, aku mengodanya dan dia malah menolak. di dunia ini mana ada pria yang sanggup menolak godaan wanita," gumam Sasa.
Mansion Caprio.
Daniel yang berdiri dekat jendela sedang berbicara dengan seseorang melalui handphonenya.
"Dia sudah kembali dan sekarang makan di restoran bersama Rick Ferlando," kata seorang pria yang di seberang sana.
"Hm...baguslah, kau melakukan dengan baik, aku puas dengan kinerjamu," ucap Daniel dengan senyum yang kemudian memutuskan panggilannya.
"Hm...apakah kamu sudah siapkan pakaianku untuk acara itu?" tanya Daniel.
"Sudah, Tuan!" jawab Roey.
"Aku tidak sabar lagi menanti malam itu," jawab Daniel.
"Tuan, pesanan Anda sudah saya lakukan," kata Roey.
"Bagus!" jawab Daniel yang melangkah keluar dari ruang pribadinya.
"Tuan, apakah ingin ke perusahaan?" tanya Roey.
"Tidak! malam ini aku tidak pulang, sampaikan ke Meliza!" perintah Daniel.
"Baik, Tuan!" jawab Roey.
"Ada apa dengan tuan? kenapa dia sepertinya sangat bersemangat," gumam Roey.
Malam hari.
Apartemen Rebecca.
"Rebecca, tidurlah lebih awal, kamu sudah melakukan perjalanan selama beberapa jam," kata Rick yang mengantar gadis itu hingga depan pintu.
__ADS_1
"Terima kasih, sudah mentraktirku makan," ucap Rebecca.
"Sama-sama! sudah ku katakan jangan sungkan denganku! ada lagi, kalau ada yang kamu ingin tanyakan jumpai saja pemilik apartemen ini. dia tinggal di sebelahmu!"
"Ternyata dia tinggal di sini juga, apakah dia adalah wanita?"
"Iya, seorang wanita usia sekitar enam puluh tahun, kamu bisa jumpai dia kalau butuh bantuan!" jawab Rick.
"Iya, aku mengerti! terima kasih!" ucap Rebecca yang membuka kunci pintunya.
"Masuklah dan selamat malam!" ucap Rick dengan senyum.
"Selamat malam dan hati-hati saat menyetir!" balas Rebecca yang membuka pintunya.
"Iya, sampai jumpa besok malam, aku akan datang menjemputmu!" ucap Rick
"Aku akan menunggumu di sini!" jawab Rebecca.
Setelah beberapa saat kemudian Rick meninggalkan gedung apartemen. sementara Rebecca berdiri di balkon memandang kota yang dihiasi dengan lampu warna warni.
Rebecca lalu memandang ke balkon sebelah yang lampunya sedang menyala.
"Apakah pemilik apartemen ada di sana? besok saja aku menyapanya," gumam Rebecca.
"Akhirnya aku kembali, setelah pergi begitu lama. apakah ada yang berubah? bagaimana dengan paman? apakah dia sehat-sehat saja? paman, walau kamu menyembunyikan semuanya dariku, tapi aku selalu menyakinkan diriku bahwa paman melakukannya karena tidak ingin aku sedih dan terluka," ucap Rebecca.
"Pa, Ma, apa yang harus aku lakukan? aku tidak seharusnya menyalahkan paman, bagaimanapun dari sejak aku kecil dia paling baik dan sayang padaku. kali ini aku pulang...aku berharap bisa bertemu dengan paman," batin Rebecca.
Rebecca berdiri selama beberapa menit sambil menikmati pemandangan di malam itu. ia juga melihat gelang pemberian Rick yang telah dia pakai di tangan kanannya.
"Bibi Samantha sangat berharap aku bisa bersama dengan Rick, mana mungkin bisa. sedangkan aku tidak memiliki perasaan terhadapnya," batin Rebecca.
"Pa, Ma, besok adalah hari yang paling tidak bisa ku lupakan, aku merindukan papa dan mama, hingga saat ini hidupku masih saja tidak berubah dan selalu terpuruk. kali ini aku ingin berusaha bangkit dan mulai dari awal. hidupku selalu saja bermasalah aku berharap ke depannya tidak ada rintangan lagi," batin Rebecca.
Jam dinding menunjukan pukul 22.00.
Rebecca masih belum memejamkan matanya.
"Kenapa aku tidak bisa tidur, padahal aku sudah mengantuk," gumam Rebecca yang mengucek matanya.
"Bagaimanapun aku harus memejamkan mataku, besok pagi aku ingin ke makam papa dan mama," ucap Rebecca yang menarik selimut dan memejamkan matanya.
Keesokan harinya.
Jam dinding pukul 08.00.
Rebecca keluar dari apartemennya dan berjalan menuju ke toko bunga yang tidak jauh di sana.
Ia membeli dua buket bunga untuk berziarah makam orang tuanya.
__ADS_1