
Malam itu Lucia yang telah kebanyakan minum harus melayani beberapa pria sekaligus.
Keesokan harinya.
Lucia kembali ke tempat tinggalnya. saat ia melangkah masuk ke dalam ia melihat Andres dan Yuly sedang sarapan.
"Lucia, kamu sudah pulang, mari sarapan dulu!" seru Yuly yang menuangkan jus ke gelas bening.
"Hebat sekali kerjamu sehingga tidak pernah pulang ke rumah, apakah sebagai manager sesibuk itu," sindir Andres.
"Putrimu baru pulang, kau sudah bicara seperti ini," kata Yuly yang menegur suaminya.
"Pa, perusahaan selalu sibuk, aku adalah manager mana mungkin aku bisa tinggalkan kerjaku," jelas Lucia.
"Manager? hingga saat ini aku tidak tahu kamu sebagai manager apa? alamat perusahaanmu aku juga tidak tahu," ujar Andres.
"Untuk apa kau ingin tahu alamat perusahaannya, yang penting putri kita dapat kerja yang layak. ini sudah lebih dari cukup. kau juga tahu apa alasannya dia bisa gagal menjadi dokter. dan tidak mudahnya bisa menjadi manager tentu harus dikerjakan dengan baik. apa lagi yang kamu tidak puas," kata Yuly.
"Kau masih saja berani membahas masalah itu," bentak Andres yang menghentak meja makan.
Brak.
"Kalau bukan karena kau yang mulai, apakah ini akan terjadi," ketus Andres.
"Pa, Ma, jangan ungkit itu lagi!" kata Lucia.
"Lucia, nasibmu sangat malang sekali, kamu tidak mencapai cita-citamu, tapi tidak masalah. setidaknya kamu mendapat kerjaan yang tidak kalah bagus. sebagai manager setidaknya lebih hebat dari pada menjadi simpanan orang," kata Yuly yang merujuk pada Rebecca.
Andres yang emosi langsung melempar mangkok ke lantai sehingga pecah berkeping-keping.
Prang...
Yuly dan Lucia terkejut saat melihat pria tua itu mengamuk sehingga melempar mangkok. tidak biasanya dia melakukan kekasaran.
"Simpanan? apa kau sudah pikun atau buta? kenapa seorang anak gadis yang baik-baik harus menjadi simpanan orang? semua ini karena putrimu yang hampir mati di saat itu. dan sekarang kau masih menganggap itu adalah hinaan? kalau bukan karena putrimu apakah mungkin dia menjadi simpanan dan kemudian menerima penghinaan dari kalian berdua," bentak Andres dengan nada tinggi.
"Kalian...adalah manusia yang tidak tahu diri," bentak Andres dengan kesal dan melangkah keluar meninggalkan rumah.
Yuly langsung terduduk lemas karena gemetar dan baru pertama kali melihat suaminya marah besar.
"Ma," seru Lucia yang mendekati Yuly.
"Kenapa papa begitu emosi? tidak biasanya dia bersikap seperti ini," tanya Lucia.
"Sejak Rebecca pergi, dia lebih terdiam dan mudah emosi. tapi, baru kali ini mama melihat papamu marah besar," kata Yuly.
"Semua ini gara-gara dia, kenapa dia tidak mati saja dan harus kembali lagi," ujar Lucia.
"Kembali? apa maksudmu?" tanya Yuly.
"Aku melihatnya di acara ulang tahun perusahaan Ferlando, dia bersama dengan seorang pria kaya, aku yakin pria itu mungkin adalah pasangan barunya," jawab Lucia.
"Kapan dia kembali?"
"Tidak tahu!"
"Kemarin adalah hari kematian orang tuanya, pantasan dia kembali. apakah...dia dan papamu sudah bertemu," ujar Yuly.
"Apakah papa ada menyebut namanya?"
"Tidak! papamu tidak mengatakan apa-apa, mungkin saja papamu sudah bertemu dengan dia. setiap tahun papamu pasti pergi ziarah. mereka mungkin sudah bertemu."
"Kenapa papa diam saja?"
__ADS_1
"Selama ini papamu selalu saja memihak padanya," jawab Yuly.
Apartemen Rebecca.
Rebecca baru pulang dari pusat perbelanjaan, ia membawa sesuatu dan menuju ke tempat tinggal sebelahnya.
"Bibi, aku adalah Rebecca yang tinggal di sebelah, aku ada membeli sarapan untuk bibi!" panggil Rebecca sambil mengetuk pintu.
Tok...tok...
"Apakah bibi ada di dalam atau sudah keluar," gumam Rebecca.
"Bibi, sarapannya aku gantung di pintu ya, jangan lupa sarapan," kata Rebecca yang mengantung plastik itu digagang pintu.
"Mudah-mudahan bibi menyukainya," ujar Rebecca yang kemudian masuk ke dalam tempat tinggalnya.
Setelah Rebecca masuk ke dalam, pintu sebelahnya dibuka oleh seseorang dari dalam dan mengambil makanan itu.
Setelah satu jam kemudian Rebecca yang selesai sarapan dan mandi, ia pun ingin berangkat kerja.
Dan di saat yang sama seseorang mengetuk pintunya.
Tok...tok...
"Siapa?"sahut Rebecca dari dalam.
"Rebecca, aku adalah Rick datang menjemputmu dan kita akan berangkat kerja bersama," jawab Rick yang berdiri di luar.
Klek...
"Rick, kenapa kamu tidak memberitahu aku kalau kamu akan datang?" tanya Rebecca yang baru membuka pintunya.
"Aku ingin memberimu kejutan," jawab Rick dengan senyum.
"Sudah! kita sudah bisa pergi," jawab Rebecca.
Sebuah restoran mewah.
Samantha mengundang Daniel makan bersama di salah satu restoran mewah.
"Nyonya Samantha, kenapa tiba-tiba ingin bertemu denganku?" tanya Daniel yang duduk berhadapan dengan Samantha.
"Semalam aku telah melihat semuanya, awalnya aku ingin selidiki sendiri, tapi aku tidak ingin membuang waktu. oleh karena itu aku membuat keputusan untuk bertemu denganmu secara langsung," jawab Samantha.
"Katakan saja, apa yang ingin Anda tanyakan!"
"Apakah kamu sudah lama mengenal Rebecca?" tanya Samantha.
"Iya," jawab Daniel dengan tenang.
"Apa hubungan kalian?"
"Apa yang membuatmu merasa kami ada hubungan?"
"Daniel Caprio, aku tahu kamu bukan pria yang mudah dekat dengan seseorang. kamu juga mengenal Lucia Famosa yang datang ke pesta tanpa diundang. tentu saja kamu juga mengenal Rebecca."
"Coba tebak saja, apa hubungan kami!" kata Daniel yang meneguk minumannya.
"Aku tidak bisa menebak, tapi aku yakin kamu tertarik padanya," jawab Samantha.
"Rebecca adalah gadis yang istimewa, siapapun akan tertarik padanya," kata Daniel dengan senyum.
"Bagaimana dengan Sasa kalau kamu tertarik pada Rebecca?"
__ADS_1
"Aku dan dia tidak ada hubungan apapun," jawab Daniel dengan santai sambil memotong steak.
"Tapi, kamu sudah mencuri hatinya, kamu telah memberi dia harapan."
"Aku tidak pernah mengutarakan cinta," kata Daniel.
"Apakah begitu mudahnya kau ingin menyakiti hati seorang wanita?"
"Aku sudah sering menyakiti hati wanita, tapi bukan salahku. karena aku bukan orang yang sembarang mengejar wanita," jawab Daniel.
"Dirimu telah memberi hadiah yang sama memberi harapan untuknya."
"Hadiah itu sama sekali tidak berarti apa-apa, kenapa harus dianggap serius. saat aku memberikan padanya aku tidak mengatakan aku mencintainya. lalu, salah siapa?"
"Daniel Caprio, kamu memang tidak bisa ditebak, Sasa adalah gadis yang rapuh aku yakin dia akan terluka. mengenai Rebecca apakah kamu akan berpaling ke wanita lain?"
"Tidak akan! aku dan dia tidak akan berpisah," jawab Daniel dengan yakin.
"Dia akan menjadi korbanmu setelah Sasa."
"Sasa bukan korbanku, dia hanya terlalu percaya diri bahwa aku tertarik padanya. aku hanya akan tertarik pada wanita milikku," jawab Daniel.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu jangan mengusik hidup Rebecca? dia memiliki kehidupan sendiri," tanya Samantha.
"Atas dasar apa Anda ingin melarangku? demi Sasa atau demi dia?" tanya Daniel dengan senyum.
"Lepaskan dia! jangan ganggu dia lagi!"
"Aku tidak akan melakukannya, aku sudah lama menunggunya," jawab Daniel.
"Sudah lama menunggunya? apa maksudmu?" tanya Samantha.
"Aku sudah selesai makan, kali ini biar aku yang traktir," kata Daniel yang bangkit dari tempat duduk.
"Katakan padaku, dari mana kamu mengenalnya?" tanya Samantha yang ikut berdiri
"Kamu membawa dia pergi," ujar Daniel.
"Apa katamu?"
"Saat itu kamu membawa dia pergi jauh dariku, dan sekarang tidak ada salahnya aku menginginkan dia," jawab Daniel.
"Apakah kau adalah pria itu?" tanya Samantha yang tidak menyangka.
"Iya, akulah pria itu. selama ini aku masih mencarinya dan kamu yang berbaik hati telah membantunya melarikan diri," jawab Daniel.
"Tapi, tujuanmu hanya ingin membalas dendam padanya. ini cukup kejam baginya. kenapa kamu masih tidak melepaskan dia?"
"Aku tidak ada alasan melepaskan dia," jawab Daniel
"Apakah semua ini adalah bagian rencanamu? bekerja sama dengan perusahaan kami demi ingin mendapatkan Rebecca kembali?"
"Benar sekali! tujuan utamaku hanyalah dia, dan bukan kerja sama perusahaan kita," jawab Daniel dengan senyum.
"Kamu sengaja membuat Sasa percaya padamu, dan kemudian kamu mendekati Rebecca lagi untuk membalas dendam."
"Bukan karena dendam, itu adalah hal yang berbeda. aku dan Rebecca tidak akan terlibat dengan masa lalu. Nyonya Samantha, jangan ikut campur kalau kamu memang menyayanginya," ujar Daniel.
"Apakah masih tidak cukup kamu menyakitinya di saat itu?"
"Aku berusaha memperbaiki semuanya," jawab Daniel.
"Kau tidak mencintainya sama sekali, kenapa masih tidak ingin melepaskan dia?" tanya Samantha.
__ADS_1