
Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar. Rebecca yang mendengar suara ketukan ia pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri pintu itu.
Klek...
"Siapa?" tanya Rebecca yang membuka pintu itu dan melihat seorang pria yang membawakan sesuatu di tangannya.
"Apakah Anda adalah nona Rebecca?"
"Iya, aku adalah Rebecca," jawabnya.
"Ini pesanan untuk, Nona," kata pria itu yang adalah pengantar makanan.
"Aku tidak ada pesan makanan," ujar Rebecca yang melihat terdapat sekotak makanan dan minuman yang di dalam tas kantong makanan.
"Seseorang yang telah memesannya untuk Anda, silahkan diterima," ucap pria itu sambil memberikan kepada Rebecca.
"Siapa yang pesan makanan ini?" tanya Rebecca dengan penasaran.
"Maaf, saya hanya ditugaskan untuk mengantar makanan, saya pamit dulu!" jawabnya yang kemudian melangkah pergi.
"Kenapa tidak memberitahuku siapa orangnya? tidak mungkin bibi? atau Rick?" gumam Rebecca.
__ADS_1
Rebecca menutup kembali pintu kamar itu, dan mengeluarkan kotak makanan dan minuman. ia membuka dan melihat isi kota itu terdapat makanan lezat.
"Ini adalah makanan kesukaanku, apakah hanya kebetulan saja? Rick dan bibi Samantha tidak tahu makanan apa yang aku suka," batin Rebecca.
Rebecca sama sekali tidak mencurigai Daniel yang memesankan makanan untuknya. malam itu ia menyantap makanannya dengan begitu lahap. sementara Daniel hanya berdiri di luar sambil melihatnya.
"Kalau saja kamu tahu aku yang beli, aku yakin kamu pasti menolak," gumam Daniel.
Keesokan harinya.
"Rebecca, apakah kamu masih marah pada Daniel?" tanya Yuly.
"Bibi, kenapa bertanya seperti itu?" tanya Rebecca.
"Tapi dia menyebarkan video itu sehingga paman tidak sadarkan diri!"
"Rebecca, kalau Lucia tidak bekerja di bidang itu, maka semua ini tidak akan terjadi. Daniel juga tidak mungkin memiliki rekaman itu," jawab Yuly.
"Apapun yang terjadi, aku dan dia tidak ada alasan lagi untuk bertemu," kata Rebecca.
"Bagaimana kalau dia mencintaimu selama ini?"
__ADS_1
"Tidak mungkin! selama ini dia hanya sengaja menyakitiku. aku tidak merasa dia mencintaiku. aku sama sekali tidak merasakannya," jawab Rebecca.
"Mungkin kamu dan dia butuh waktu untuk berkomunikasi, dulu, walaupun kalian bersama tapi kalian tidak pernah saling memahami. kita tidak bisa menebak pikirannya. Rebecca, berikan kesempatan untuk dirimu sendiri. jangan keras kepala!"
"Bibi...."
"Rebecca, bibi yakin bukan karena dendam masa lalu dia membayar biaya pamanmu, dia hanya ingin membantumu!"
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rebecca.
"Temui dia dan bicara baik-baik, bibi yakin kalian butuh komunikasi," jawab Yuly.
"Aku tidak tahu apa yang harus dibicarakan saat bertemu dengan dia," kata Rebecca.
"Kalian sudah lama kenal, dan bibi yakin kalian saling mencintai. hanya saja...kalian menyimpan perasaan dan tidak mengutarakannya. dia adalah pria yang baik. bibi yakin dia tidak berniat membalas dendam," ucap Yuly.
"Bibi, saat ini aku tidak ingin memikirkan hal lain, aku hanya peduli dengan paman. dan harapanku adalah paman cepat sadar," kata Rebecca.
"Baiklah, kalau ini yang kamu pikirkan, tapi setelah pamanmu sadar kamu harus pikirkan lagi apa yang bibi katakan tadi," jawab Yuly.
"Bibi, apakah semalam bibi pesankan makanan untukku?" tanya Rebecca.
__ADS_1
"Tidak ada! semalam bibi sudah pulang. ada apa?" tanya Yuly.