Perfect Couple

Perfect Couple
Kebahagiaan


__ADS_3

Alesha tersenyum melihat hasil testpack yang baru saja ia pakai, dirinya positif hamil. Garis dua itu menunjukan semuanya.


                       


"Alhamdulillah, semoga kelak nanti kamu bisa menjadi anak yang sholeh dan sholehah ya, Nak." ucap Alesha mengusap perutnya yang masih rata.


                         


Alesha segera mencari ponselnya untuk menghubungi Refan jika dia ingin pergi sebentar.


                                              


Alesha dengan segera berganti pakaian, hari ini ia akan pergi ke salah satu Rumah Sakit untuk memastikan kandungannya sebelum memberitahu Refan dan anak-anaknya.


                       


Alesha menepuk dahinya pelan "Kunci mobilnya kemana ya?"


                         


Alesha segera turun kebawah, "Ini dia." Alesha dengan cepat mengambil kunci mobil milik Kaira di atas meja ruang tamu.


Setelah sampai di rumah sakit, Alesha langsung di periksa oleh dokter yang dulu juga menangani kehamilan pertamanya, "Alhamdulillah kandungan kamu udah masuk usia dua minggu" Alesha tersenyum senang.


                       


"Alhamdulillah, kandungan saya baik-baik saja kan dok?" tanya Alesha.


                         


"Baik, Pokoknya kamu harus teratur nanti ya check up nya, karena mungkin kehamilan pertama sama yang kedua biasanya beda-beda keluhannya. Saya juga udah gak perlu kasih tau banyak-banyak ya, karena pasti lo kamu tau dan berpengalaman selama hamil yang sebelumnya. Yang penting jaga kesehatan tubuh kamu, jangan sampe capek aja, takut bayinya kenapa-kenapa." Alesha mengangguk paham, mungkin check up berikutnya ia akan membawa Refan seperti dulu dia di temani Rey.


                       


"Oke, makasih dok."


                         


"Tapi, kamu ada mual-mual gitu gak? Atau pusing?" tanya dokter tersebut.


                         

__ADS_1


Alesha menggeleng pelan "Gak ada rasa mual sama sekali cuma ngerasa badan lebih cepet capeknya. Ya gitu doang sih," jelas Alesha, jika dulu ia sering mengalami pusing dan mual, tapi sekarang dia tidak mengalami gejala hamil sama sekali.


                         


Alesha memasuki rumahnya dan melihat abil sedang menonton "Assalamualaikum," ucap Alesha.


                         


Abil yang sedang menonton film pun mengalihkan pandangannya." Wa'alaikumussalam, dari mana Mom? Kok tumben Mommy pergi." tanya Abil.


                       


"Tadi Mommy ada keperluan di luar. Yaudah Mommy naik dulu ya," Alesha dengan hati-hati menaiki anak tangga.


                       


Alesha membuka pintu kamarnya, ia meletakkan sebuah kertas hasil pemeriksaan itu di atas nakas supaya Refan dapat melihatnya.


                       


Alesha mengelus perutnya, "Kita liat reaksi Daddy kamu gimana nanti ya nak." ucap Alesha.


Waktu menunjukkan pukul empat sore, dimana Refan sebentar lagi akan pulang.


"Wa'alaikumussalam Mas," jawab Alesha mencium punggung tangan suaminya.


"Kok wajah kamu sumringah banget, kamu pasti lagi kangen sama Mas,nih." goda Refan, ia melepas jam tangan yang melekat di tangannya dan menaruhnya di atas nakas, tapi matanya tidak sengaja menangkap sebuah amplop berlogo rumah sakit.


"Ini punya siapa sayang?" tanya Refan, dia segera membuka amplop tersebut.


Alesha yang melihat suaminya mulai membuka amplop itu langsung pergi keluar kamar.


"Mau kemana?" tanya Refan yang tidak di gubris Alesha.


Refan membulatkan matanya saat membaca isi amplop tersebut. Ia segera berlari menemui Alesha yang sedang duduk bersama anak-anaknya.


"SAYANG" pekik Refan memeluk istrinya.


"Daddy berisik tau gak sih," gerutu Riza, karena saking bahagianya Refan yang biasanya akan menyahuti omelan Riza, sekarang dia hanya dia saja.


"Kamu serius kan? Mas gak lagi mimpi kan Sha?" tanya Refan bersimpuh di depan Alesha yang sedang duduk di sofa.

__ADS_1


"Enggak Mas," Alesha menarik tangan Refan dan menaruhnya di atas perutnya." Di sini ada calon anak kita."


"APA?" pekik Kaira, Abil dan Ramon bersamaan. Sedangkan Riza, bocah itu masih menatap Mommy-nya dengan tatapan berbinar.


"Iya, kalian bakal jadi kakak, dan kamu Riza, kamu gak bakal jadi anak bontot lagi di rumah ini." ujar Refan menatap putra bungsunya. Ralat, Riza bukan lagi anak bungsunya.


"Biarin, aku seneng kok punya adik." jujur Riza,bahkan setiap kali Risa berada di sini, pasti Riza akan merengek melarang adiknya itu pulang.


"T-tapi Dad, warisan kita tetep banyak kan," ucapan Ramon membuat Refan melotot, bisa-bisanya Ramon malah memikirkan warisan.


"Bisa-bisanya kamu mikirin warisan, kamu udah mikir kalo bentar lagi Daddy mening----"


"Mas!" potong Alesha cepat, dia tidak mau jika Refan berbicara hal yang tidak-tidak.


Refan pergi memasuki kamarnya tanpa memperdulikan istri dan anak-anaknya.


"Kamu sih, lagian kamu ngomong apaan merusak suasana aja." sinis Kaira.


"Ya kan aku cuma becanda kak."


"Udah-udah, Mommy nyusul Daddy dulu ya." ujar Alesha kemudian menyusul suaminya memasuki kamar.


Refan tengah bersandar di sofa kamarnya,"Mas, Ramon gak bermaksud ngomong gitu."


Refan tidak bisa lagi menahan tawanya, dia gemas melihat wajah istrinya yang cemberut." Mas tau sayang, Mas cuma becanda doang, lagian Mas sengaja pura-pura ngambek biar kita bisa berduaan, Mas juga mau ajak dede bayi ngobrol, kalo di luar kan pasti nanti di ledek sama anak-anak." ucap Refan menarik Alesha agar duduk di sampingnya.


"Ih ngeselin tau gak sih."


"Udah diem, Daddy mau ngomong dulu sama utun." balas Refan, ia memposisikan wajahnya agar bisa berhadapan dengan perut Alesha.


"Assalamualaikum sayang, ini Daddy. Daddy seneng banget akhirnya kamu tumbuh di perut Mommy, Daddy gak sabar nunggu kamu lahir ke dunia ini biar bisa ketemu Daddy sama Mommy, kamu sehat-sehat di sana ya," Refan menenggelamkan wajahnya di perut Alesha, Alesha pun mengusap rambut suaminya.


"Kamu jangan kecapean ya sayang, nanti Mas bakal cari pembantu, biar kamu gak capek masak sama ngurus anak."


"Aku gak mau, Mas. Mama Maura udah mewanti-wanti kalo nanti aku hamil, biar dia aja yang ngurus aku, Mama bilang dia takut terjadi sesuatu kalo aku di urus sama orang lain."


Sebenarnya Maura hanya takut Alesha akan bernasib seperti dirinya, apalagi jika nanti pembantu yang akan bekerja di rumah Refan berusia sama seperti Alesha.


"Emang Mama gak keberatan? Maksud Mas, kan anak-anak Mas banyak, pasti bakal ngerepotin."


"Nggak,sayang."

__ADS_1


Sore ini mereka habiskan dengan bercanda bersama sesekali Refan akan menggoda istrinya, semoga saja rumah tangga mereka akan tetap seperti ini selamanya. Apalagi setelah kehadiran anak dalam rumah tangga keduanya.


__ADS_2